Penulis
2 tahun lalu · 100 view · 3 min baca menit baca · Agama 96063.jpg

Kebencian pada Islam

Aku lupa bagaimana kebencian itu bermula. Yang jelas kuingat, ketika menjadi mahasiswa semester pertama, aku membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa suatu saat agama Islam akan menguasai dunia. Saat itu kuingat, kebencianku memuncak. Aku benar-benar membenci Islam.

Entah karena apa kebencian itu begitu membekas. Terkadang aku menyimpulkan, mungkin karena sejak kecil sering mendengar isu bahwa jika seseorang ingin menjadi pejabat, ia harus memeluk agama Islam.

Tetapi aku beruntung kebencianku tidak membabi buta. Aku tak pernah bertindak kriminal sebagai wujud kebencian itu, atau mengajak orang lain untuk turut membenci. Kebencianku kusimpan di dalam hati seraya terus berpikir bagaimana bisa sukses di negeri ini tanpa harus ‘menjual’ imanku.

Hingga akhirnya aku sampai pada pemikiran bahwa menjadi pengusaha adalah jalan satu-satunya untuk meraih sukses tanpa ‘menjual’ imanku. Maka aku memutuskan menjadi seorang pengusaha.

Namun semuanya berubah di suatu siang. Bukan karena sekelebat bayang putih melintas di hadapanku atau cahaya matahari tiba-tiba meredup. Tetapi karena sebuah tulisan yang kubaca di suatu surat kabar. Tulisan yang berisi tentang kemeriahan Imlek dan rasa terima kasih orang-orang yang merayakannya kepada Gus Dur.

Gus Dur? Imlek? Ya, Gus Dur. Aku tak ingat betul mengapa dalam tulisan itu orang-orang Tionghoa disebut berterima kasih kepada Presiden Indonesia ke-4 itu. Yang kutahu, sejak itu aku tertarik membaca apapun tentang Gus Dur. Tentang kemampuannya mengikuti perbincangan meskipun sedang tertidur, tentang keberaniannya yang menyebut DPR seperti ‘taman kanak-kanak, dan terutama tentang kisahnya dalam perjalanan menuju Istana.

Dari sekian banyaknya tulisan tentang perjalanan beliau menuju Istana, aku ingat salah satu kelakarnya, “Saya jadi presiden hanya modal dengkul. Itu pun dengkulnya ...”

Kelakar pejuang kemanusiaan itu diakhiri dengan menyebut sebuah nama. Sayang aku tak memiliki lagi bukunya. Video yang menunjukkan Gus Dur pernah berbicara demikian pun, tak bisa kutemukan di internet. Maka, dengan mengingat bahwa di negara kita sedang musim lapor-melapor, aku memutuskan tak menuliskan nama orang yang ‘meminjamkan’ dengkulnya itu kepada Gus Dur.

Dan ironisnya, dalam suatu acara talkshow di salah satu stasiun televisi swasta, Gus Dur menyebut nama itu lagi sebagai salah seorang yang bertanggung jawab atas pemakzulan yang menimpa dirinya.

Bisa bayangkan manusia seperti apa yang tak marah saat dikhianati?

‘Pertemuan’ dengan Gus Dur itulah yang perlahan mengikis kebencian di hatiku. Islam yang kubenci ternyata bisa ‘melahirkan’ seorang yang hebat, humanis, dan dicintai banyak orang. Dari agama apapun, suku apapun, dan kelompok manapun.

Aku teringat perkataan dari salah seorang putrinya saat tampil di televisi, “Gus Dur melampaui zamannya.” Lalu terbersit dalam benakku, “mungkin dengan berpikir dan bersikap seperti Gus Dur-lah yang dibutuhkan agar bisa hidup dengan damai di masa yang akan datang di negara ini”

Pikiran dan sikap yang bagaimana? Pikiran dan sikap yang mengedepankan kemanusiaan. Sehingga dengan cara demikian, seluruh rakyat Indonesia bisa harmonis dan bersatu dalam kedamaian.

Pikiran dan sikap seperti itulah yang membuatku tak anti untuk menimba ilmu dari agama apapun, tradisi manapun, atau negara yang ber-paham apapun. Hingga pada akhirnya aku mengenal Gandhi yang berjuang tanpa kekerasan, yang memeluk agama Hindu. Mengenal Bunda Teresa yang Katolik, yang mendedikasikan hidupnya bagi orang yang terlantar tanpa terlebih dahulu menanyakan agama orang tersebut.

Dan kebencian pada agama lain pun akhirnya punah dari hati setelah membaca sajak Rumi, “Jangan tanya apa agamaku. Aku bukan Yahudi, bukan Zoroaster, bukan pula Islam. Karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.”

Rumi benar-benar ‘menelanjangiku’ sekaligus memberikanku rasa percaya diri. Orang-orang sepertiku, yang membenci orang lain karena agama yang dianutnya, ternyata sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Kenapa aku terlambat mengetahuinya, sehingga begitu banyak waktu yang kulewati hidup dalam kebencian?

Hidup benar-benar ringan saat kebencian itu hilang. Tak ada lagi rasa curiga kepada orang lain yang berbeda agama. Pikiran-pikiran disibukkan untuk mencari solusi bagaimana mengatasi kerusakan lingkungan, membantu orang-orang yang terpinggirkan, atau sekadar membuat karya seni yang bernilai tinggi.

Belakangan, aku tahu Soe Hok Gie juga pernah merasakan apa yang kurasakan, saat kebencian itu benar-benar punah dari hati, “Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun.. dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”

Seandainya lebih cepat aku mengenal Gus Dur, Rumi, hingga Gie, aku pasti tak disibukkan dengan masalah ‘kebencian’ yang menghabiskan banyak waktu, energi dan pikiran. Aku pasti bisa lebih baik dari hari ini.

Artikel Terkait