Sejatinya Al-Qur’an berisi ayat-ayat yang menjadi dasar atau petunjuk mengenai alam semesta ini. Lalu tahukah kalian, bahwa di alam semesta terdapat banyak sekali fenomena alam. Dan ketika kita berorientasi pada ayat-ayat Al-Qur’an maka kita akan menemukan semua fenomena itu dijelaskan didalamnya walaupun tidak secara gamblang dijelaskan. Melainkan harus ada proses berpikir dan merenungkan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan realitas yang ada di alam semesta. Dari proses berpikir inilah akan muncul pemahaman akan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an mengandung informasi-informasi yang terungkap kebenarannya seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan atau Sains Modern.

Dalam pembahasan kali ini, kita akan membahas mengenai Surat Ar-Rahman. Tentunya bagi umat muslim sudah tidak asing lagi dengan Surat ini. Surat Ar-Rahman memiliki arti Yang Maha Pemurah dan didalamnya terdapat kalimat yang berulang kali menjelaskan tentang “nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Namun, kita tidak akan membahas mengenai kalimat itu melainkan kita bergeser ke ayat lain dalam Surat Ar-Rahman yaitu ayat 19-20. Surat Ar-Rahman ayat 19-20 menjadi salah satu bukti kekuasaan Allah SWT sekaligus menjadi bukti kebenaran ilmiah Al-Qur’an.

Dalam kaitannya mengenai fenomena alam, didalam ayat 19-20 ini terkandung informasi mengenai salah satu fenomena alam yaitu terdapat dua lautan yang bertemu namun airnya tidak bercampur satu sama lain.

Allah berfirman dalam Surat Ar-Rahman ayat 19-20 yang berbunyi

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ - ١٩  بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِۚ – ٢٠

Artinya : “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.  Antara     keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman:19-20)

Ayat tersebut menjelaskan dan menggambarkan bahwa Allah SWT dengan kekuasaan-Nya menjadikan dua lautan saling bertemu, namun keduanya tidak saling bercampur satu sama lain. Subhanallah, bukankah ini suatu fenomena yang menakjubkan? 

Sebagai orang awam pasti kita berpikir bahwa apabila ada dua air maka keduanya akan bercampur. Namun, ayat tersebut menjelaskan suatu fenomena yang kedua airnya tidak bercampur dan  memang benar adanya. Lalu bagaimanakah Sains Modern dalam mengungkap fenomena ini? Mari simak pembahasannya.

Seiring dengan berkembang zaman, tentunya semakin berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologi atau Sains Modern. Sains Modern sangat diperlukan dalam mengungkap sebuah fenomena alam guna menjadikan Al-Qur’an selalu relevan sepanjang zaman. Dalam realitasnya, fenomena dua lautan yang saling bertemu namun airnya tidak bercampur memang terbukti nyata yaitu salah satunya dapat ditemukan di Selat Gibraltar. Di selat ini menjadi tempat pertemuan antara air laut yang berasal dari Laut Tengah (Mediterania) dan air laut yang berasal dari Samudera Atlantik.

Air yang berasal dari Samudera Atlantik memiliki warna biru yang cenderung lebih cerah, sedangkan air laut yang berasal dari Laut Tengah memiliki warna yang cenderung lebih gelap. Kedua air laut tersebut tidak bercampur bahkan diantara keduanya terlihat jelas seakan ada sekat yang memisahkan kedua jenis air tersebut dan terlihat jelas perbedaan warna airnya. Arus di Selat Gibraltar sangat besar di bagian bawahnya. 

Hal ini dikarenakan adanya perbedaan karakteristik atau sifat fisika dari air lautnya. Perbedaan karakteristik tersebut antara lain perbedaan suhu, kadar garam. dan perbedaan kerapatan airnya (density). Air laut yang berasal dari Laut Tengah memiliki kerapatan dan kadar garam atau salinitas yang lebih tinggi daripada air laut yang berasal dari Samudera Atlantik. Menurut sifatnya, air akan bergerak dari kerapatan tinggi ke daerah perairan dengan kerapatan air yang lebih rendah. Sehingga, arus air selat Gibraltar bergerak dari Laut Tengah menuju Samudera Atlantik pada bagian bawah namun arus bergerak dari Samudera Atlantik menuju Laut Tengah pada bagian permukaan air laut.

Menurut Sains Modern, sifat lautan ketika bertemu maka airnya tidak bisa bercampur antara satu sama lain dikarenakan adanya perbedaan massa jenis, tegangan permukaan yang mencegah kedua air dari lautan tidak becampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkannya.

Perbedaan salinitas atau kadar garam juga menunjukkan perbedaan kerapatan banyaknya ion positif dan negatif dalam air laut. Ion-ion positif tersebut yang menyebabkan air garam di laut bersifat sebagai elektrolit dimana mampu menghantarkan arus listrik. Permukaan zat cair secara alami telah memiliki sifat fisika yang dikenal dengan tegangan permukaan. 

Namun dengan adanya partikel-partikel ion positif dan negatif dalam cairan tersebut maka akan memberikan pengaruh yang besar pula terhadap sifat terbentuknya lapis batas antara permukaan dua lautan. Ionion pada permukaan larutan, dengan adanya medan listrik lain di dekatnya akan terdistribusi membentuk lapis ganda listrik. Jika dua lapis ganda listrik tersebut saling mendeteksi satu sama lain, maka akan terjadi interaksi tolak menolak antar kedua permukannya, hal ini menyebabkan kedua lautan tersebut tidak dapat bercampur, seakan-akan terdapat pembatas (barzakh) di antara keduanya.

Penjelasan secara sains tersebut menunjukkan bahwa  informasi yang ada dalam Surat Ar-Rahman ayat 19-20 terbukti benar adanya. Penjelasan secara Sains Modern ini baru ada pada abad 20 M oleh para ahli ocenografi. Sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada abad 7 M. Jadi, benar adanya bahwa ada ungkapan yaitu Al-Qur’an mendahului Sains Modern. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dengan segala fenomena yang begitu menakjubkan. Sebagai umat muslim, sudah sepatutnya kita percaya dan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Dan tentunya membuat kita lebih bersemangat dalam mengkaji Al Qur’an guna menambah khasanah pengetahuan kita.