Mahasiswa
3 tahun lalu · 1141 view · 3 menit baca · Lainnya 38-1.jpg
foto: antiquesimagearchive.com

Kebenaran Itu Telanjang

Aku ingin kau tetap telanjang, tak tertutup apa-apa. Wahai kau, 'Kebenaran', menarilah!

Pada dasarnya, secara alamiah (fitrah) manusia itu berangkat dari titik kebaikan dan kebenaran. Kemudian, manusia pada perjalanan hidupnya akan selalu berupaya menuju kepada Kebenaran, dan itulah yang dinamakan dengan istilah hanief.

Dalam setiap pola dan tata tindakannya, manusia selalu ingin dikatakan benar dan berada dalam sistem kebenaran. Artinya, walaupun pada nyatanya kesalahan melekat pada pola tindakan manusia tersebut, ia tetap ingin menyatakan diri sebagai pihak yang benar.

Dari situlah muncul kerelativan atau kenisbian atas kebenaran dan kesalahan yang melekat pada diri setiap manusia. Unsur subjektivitaslah yang menjadikan kebenaran dan kesalahan menjadi bias dan kabur atas makna yang sejatinya.

Lantas kita dapat membedakan dua hal. Pertama hal yang menyangkut kebenaran dalam dirinya sendiri, kedua pada wilayah yang menyangkut kepada cara-cara yang ditempuh untuk menuju kebenaran itu.

Apakah seseorang dapat dikatakan berada di pihak yang benar, sedangkan cara-cara yang ia tempuh secara jelas dan nyata terbukti merupakan kesalahan dan kekeliruan. Sebaliknya, apakah kita layak menuduh seseorang itu berada di pihak yang salah, sedangkan ia secara konsisten selalu berada di jalan kebenaran.

Kejernihan pikiran dan kesucian jiwa tentu menjadi patokan dasar untuk dapat menyingkap tabir misteri kebenaran. Tanpa kedua hal itu, kesesatan dan keegoisan diri akan membelenggu jiwa dan raga, sehingga penglihatan, pendengaran, dan perasaan kita tertunakan secara utuh sesampainya kita tak mampu membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang salah (bathil).

Kebenaran itu nyata, begitupun dengan kesalahan. Perbedaan keduanya sangatlah jelas dan nyata. Seseorang yang mampu membedakan atas kedua hal tersebut ialah orang yang diberikan petunjuk, kecerdasan, dan kemurnian jiwa dari yang Maha Benar (al-Haq).

Pada nyatanya, Kebenaran adalah awal dan tujuan akhir manusia. Manusia selalu berniat untuk melakukan hal yang benar dan ingin memetik hasilnya benar pula. Kebenaran adalah awal dan Kebenaran adalah akhir. Kebenaran adalah keberangkatan sekaligus terminal terakhir sebuah perjalanan. Tentu dari itu, harus ada tali penghubung antara titik awal dan titik akhir tersebut.

Penghubung antara keduanya sudah dapat dipastikan haruslah sesuatu yang benar pula. Tidak mungkin jika memang seaindainya yang menghubungkan antara keduanya itu adalah sesuatu yang salah dan keliru.

Tali penghubung itu tidak lain dan tidak bukan adalah proses perjalanan yang terdiri atas cara-cara atau jalan-jalan menuju kebenaran. Karena Kebenaran itu adalah sesuatu yang hanya dapat dicapai melalui serangkaian proses kerja kemanusiaan (amal sholeh).

Meminjam pandangan Cak Nur (Nurcholis Madjid) bahwa Kebenaran (dengan 'K' besar) adalah tujuan, yang boleh dikatakan, karena keterbatasan manusia tak akan dapat dicapai secara penuh, tetapi harus terus-menerus dicari, dan terus maju ke depan, menguak batas-batas akal-budi.

Kebenaran pada diri manusia memanglah relatif, atau relativisme yang bersifat internal. Cak Nur sangat menekankan perlunya sosialisasi dalam hal membuka diri antar individu dengan individu yang lainnya atas apa yang mereka anggap dan yakini sebagai sebuah kebenaran.

Seorang manusia yang beriman, haruslah menyertakan dalam dirinya sikap inklusif dan toleran kepada sesamanya. Ketertutupan diri (ekslusif) tentu bukanlah hal yang dibenarkan. Kegiatan intelektual dalam pencarian atas kebenaran merupakan salah satu cara yang digunakan oleh manusia. Dalam khazanah keilmuan Islam itulah yang dinamakan dengan 'ijtihad'.

Dalam pendekatan filsafat, Kebenaran dapat diketahui oleh manusia melalui jalan burhani atau demostratif. Burhani adalah suatu metode dalam upaya mengungkap dan menyingkap tabir misteri kebenaran. Burhani selalu memberikan suatu bukti atas teori yang tak dapat terbantahkan.

Sang Maha Benar berpesan: "Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dan pesan yang baik; dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik (Qs. 16: 125).

Kebenaran itu haruslah dapat dibuktikan secara rasional. Karena sesuatu yang rasional itu merupakan penjelas atas apa yang senyatanya ada. Kebenaran itu ada dan nyata. Jadi yang ada dan nyata itu tentu dapat dijelaskan secara rasional.

Kebenaran itu tak hanya cukup ditulis atau hanya sekedan diujarkan saja. Jika demikian, maka ia tak mampu untuk menjelaskan cara-cara atau jalan-jalan mengapa ia harus disebut sebagai orang yang benar.

Keberanian diri dan kesanggupan rasio kita untuk menjelaskan cara-cara dan jalan-jalan menuju kebenaran itu, tentu merupakan fitrah kemanusiaan. Seseorang yang menutup diri dan tidak mampu mempertanggungjawabkan atas apa yang ia anggap benar merupakan sikap yang apatis dan egois.

Keapatisan dan keegoisan adalah dua sifat manusia yang anti kemanusiaan dan bertentangan dengan nilai-nilai Kebenaran.

Kebenaran itu telanjang, maka janganlah engkau buat ia terbungkus dengan sesuatu hal yang palsu dan layu. Biarlah ia tetap telanjang tak terbungkus apa-apa. Sembari menyadari bahwa saat Kebenaran itu telanjang, ia tak akan pernah membisu dalam waktu yang kaku dan beku. Karena kebisuan hanya akan melahirkan ketidakpastian, sedangkan ia (Kebenaran) adalah suatu hal yang pasti.

Jadi, kita adalah manusia yang berangkat dari titik awal dan berakhir di tujuan yang sama, yaitu Kebenaran. Lantas pastikan bahwa kita berani dan mampu bertanggungjawab atas jalan dan cara yang kita tempuh selama melewati proses pencarian atas Tujuan Akhir tersebut.