Penulis
11 bulan lalu · 473 view · 5 menit baca · Filsafat 12154_28312.jpg
Ilustrasi: Soren Kierkegaard (mactoons.com)

Kebenaran Eksistensial; Antara Kierkegaard dan Marcel

Semua tokoh eksistensialis berbicara tentang masalah subjektivitas, eksistensi, individu, keputusan, pilihan, gairah, dan perhatian. Semuanya bermuara pada perspektif subjektif dengan mempertentangkan dengan objektivitas.

Namun, untuk menggunakan istilah-istilah tersebut, dan untuk menerangkan sekaligus bagaimana istilah-istilah itu digunakan oleh beberapa pemikir eksistesialis, adalah sesuatu hal yang masih membingungkan. Karena memang, betapapun beranjak pada sikap yang sama, mereka memiliki gagasan yang otentik dan berbeda-beda mengenai apa arti dari “eksistensial”.

Yang membedakan kehidupan manusia dengan bentuk-bentuk kehidupan lain adalah fakta bahwa manusia menyadari keberadaannya, eksistensinya, serta makna keberadaan tersebut. Manusia tidak hanya ada, ia memahami bahwa ia ada dan menyadari bahwa keberadaannya suatu saat akan berakhir dengan kematian.

Eksistensialisme sebenarnya adalah protes terhadap pandangan bahwa manusia adalah benda serta agar eksistensi personal seseorang harus benar-benar diperhatikan secara serius.

Kierkegaard dan Subjektivitas

Dalam menentang rekonstruksi-rekonstruksi rasional dan masuk akal atas konsepsi keyakinan religius pada Kant, Kierkegaard menegaskan bahwa keyakinan pada hakikatnya hanya bersifat irasional, suatu hasrat yang kuat, dan bukan kepercayaan yang dapat dibuktikan.

Menentang holism Hegelian, yang menyintesiskan seluruh manusia, alam, dan Tuhan menjadi sebuah “Roh” tunggal, Kierkegaard mempertahankan keunggulan “sang individu” dan “keberlainan” Tuhan yang mendalam.

Dalam menentang sifat duniawi para Lutheran, yang melaksanakan urusan mereka sebagaimana biasa dan memperlakukan Gereja sebagai bagian dari ritual mingguan, Kierkegaard mengkhotbahkan agama yang ketat, berhasrat kuat, menyepi, dan rohaniah yang ada pada wataknya.

Eksistensi, menurut Kierkegaard, bukan sekadar “ada di sana”, namun hidup dengan hasrat yang kuat, memiliki eksistensi sendiri, dan bertekad untuk menjalani jalan hidup tertentu. Di sinilah permulaan eksistensialisme, filsafat eksistensi.

Baca juga:

Eksistensi yang demikian itu jarang ditemui, karena sebagian besar orang hanya membentuk suatu publik anonim di mana keselaran dan dapat diterima akal merupakan aturannya, sementara hasrat yang kuat dan komitmen adalah pengecualian.

Inti filsafat Kierkegaard adalah penekanannya pada individu dan pengertiannya yang berhubungan dengan kebenaran subjektif. Target-target utama serangannya, termasuk filsafat Hegelian dan gereja Lutheran Denmark, keduanya menekankan pentingnya rasionalitas dan semangat kolektif.

Untuk menentangnya, Kierkegaard menegaskan perhatian pada manusia individu dan kehidupan, khususnya dalam membuat keputusan-keputusan. Pendapat tentang kebenaran subjektif dirumuskan secara polemik, bertentangan dengan ide bahwa pilihan-pilihan tersebut mempunyai suatu resolusi atau objektivitas.

Dalam melawan optimisme ini, Kierkegaard menyatakan bahwa ketepatan konseptual tidak akan pernah mampu untuk memaksa persetujuan di dalam diri manusia. Manusia bukan hanya akal, tetapi dia adalah akal yang bereksistensi. Eksistensinya memasukkan baji di antara pikirannya dan ide. Eksistensinya memisahkannya dari akal. Sekurang-kurangnya, dia bukan hanya akal.

Eksistensinya berkembang melalui waktu, bukan hanya perentangan abstrak tanpa waktu. Eksistensinya merupakan dimensi yang secara tak tereduksikan bersifat unik.

Satu ide mungkin “secara niscaya” melibatkan yang lain. Dua premis mungkin “secara niscaya” melibatkan suatu kesimpulan. Tetapi, tidak ada ide atau tidak ada premis yang secara niscaya memuat persetujuan manusia. Terdapat suatu jurang antara eksistensi dan akal.

Marcel: Masalah dan Misteri 

Banyak perbedaan antara masalah dan misteri. Tetapi semuanya memiliki akarnya di dalam pandangan Marcel mengenai jenis datum yang digelutinya.

Suatu masalah adalah penyelidikan yang dimulai dalam kaitannya dengan “objek”. Secara etimologis, suatu objek adalah sesuatu yang dilemparkan di depan saya, sesuatu yang saya temui sebagai eksternal terhadap saya dan berhadapan dengan saya.

Di dalam situasi objektif, saya di sini dan objek di sana, lengkap dan terbuka bagi penyelidikan. Alasan bagi saya untuk berhadapan dengan objek yang tidak melibatkan diriku adalah bahwa saya mempunyai ide yang jelas dan disting yang menggambarkan batas-batasnya. Maka masalah adalah suatu objek penyelidikan yang ditangkap oleh subjek sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya.

Sementara misteri adalah persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari subjek sendiri. Terdapat data, yang berdasarkan kodratnya, tidak bisa dipisahkan dari subjek. Bila saya bertanya, apakah ada itu? Apakah saya dapat memandang ‘ada’ sebagai suatu objek yang dilemparkan di depan saya? Tidak, sebab ada, sebagai datum, mencakup saya juga.

Agar saya dapat memahami ada sebagai datum, saya harus memahaminya sebagai sesuatu yang juga melibatkan saya. Maka ada bukanlah masalah, tetapi misteri. Sebuah misteri adalah suatu pertanyaan yang dengan sendirinya menyebabkan saya terperangkap di dalamnya.

Baca juga: Malam Minggu, Warung Kopi dan Ruang Diskusi - Ulasan Selebrasi Hari Filsafat Dunia

Oleh karenanya, tidak setiap kenyataan dapat dijadikan sasaran penyelidikan yang seutuhnya bersifat problematis. Bila saya berurusan dengan sesuatu yang melibatkanku, saya tidak pernah dapat menyentuh kodrat aslinya bila saya memperlakukannya seolah-olah tidak melibatkan diri saya. Contoh yang paling jelas adalah misteri mengenai ada.

Saya merupakan sebuah misteri bagi diri sendiri sejauh saya ada. Semua hal bersifat misterius sejauh mereka ada. Hanya yang bukan ada yang tidak bersifat misterius.

Sementara itu, hal lain yang merupakan sifat dari masalah adalah adanya solusi. Dengan menggunakan teknik yang tepat, masalah-masalah matematis dan sains dapat dipecahkan. Masalah berada di sana untuk setiap manusia. Objek yang dilemparkan di depan subjek logiko-sensoris.

Kepastian Bebas

Yang dibicarakan oleh Kierkegaard dan Marcel adalah kriterium inteligibilitas. Marcel tidak memandang misteri sebagai sesuatu yang kacau dan tidak dapat dimengerti. Misteri merupakan hal yang super masuk akal. Partisipasi merupakan sumber dari arti.

Misteri adalah cahaya yang keluar dari partisipasi. Harus ditambahkan bahwa karena subjek singular dan unik terlibat di dalam pengenalan misteri, maka terlibat pula kebebasan.

Diri singular adalah diri yang bebas. Kalau suatu evidensi hanya dinyatakan kepada saya sebagai pengada singular, maka suatu evidensi hanya ada bagi kebebasan saya.

Marcel mengatakan bahwa di dalam bidang-bidang tertentu, subjek tidak otonom atau tidak heteronom, sebab pembagian ini terlalu simplistik. Evidensi berada di sana secara pasti, tetapi berada di sana sebagai daya tarik. Evidensi ini tetap di sana sebagai tanggapan saya.

Mungkin dapat menggunakan istilah kepastian bebas. Apa yang dinyatakan Marcel adalah bahwa evidensi masuk akal yang termuat di dalam pengalaman mengenai harapan dan kegembiraan hanya benar-benar ada bagi diri singular, tetapi tidak bagi pengamat impersonal, yakni subjek logiko-sensoris. Maka evidensi ini hanya berada bagi kebebasan. Jika pengetahuan adalah keterbukaan terhadap kenyataan, maka hal ini pun merupakan pengetahuan.

Demikian juga menurut Marcel, manusia mempunyai suatu intuisi kreatif mengenai ada, bukan sebagai objek pengalihatan, tetapi sinar tersembunyi yang mencerahi pengalaman dan kemudian terbaca kembali sebagai sesuatu yang muncul dari pengalaman. Pengalaman merupakan pernyataan manusia, tetapi juga merupakan pernyataan dari yang transenden yang kepadanya eksistensi manusia terbuka.

Sumber 

  • Hadi, Hardono, 1994, Epistemologi; Filsafat Pengetahuan Kenneth T. Gallagher, Yogyakarta: Kanisius.
  • Martin, Vincent, 2003, Filsafat Eksistensialisme; Kierkegaard, Sarte, Camus, terj. Taufiqurrahman, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Solomon, Robert C. & Kathleen M. Higgins, 2003, Sejarah Filsafat, terj. Saut Pasarubi, Yogyakarta: Bentang.