Ada banyak isu perempuan yang bisa diperbincangkan. Salah satunya adalah tentang kebebasan.

Di zaman sekarang, mungkin “keterpasungan” menjadi kata yang sudah kuno bagi perempuan. Di era di mana gerakan emansipasi perempuan sudah banyak memberikan perubahan pada kehidupan, sehingga kiprah perempuan saat ini tentu sudah memiliki porsi dan kedudukan yang patut dihargai.

Kebebasan perempuan sebagai wujud kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan memang perlu untuk diperhatikan, mengingat perempuan hakikatnya juga adalah manusia yang diberikan potensi oleh Tuhan untuk menjalankan tugasnya selama hidup di muka bumi. Sehingga perempuan juga memiliki hak untuk berekpresi, termasuk dalam hal ini menyampaikan pendapatnya, mengembangkan dirinya, dan menentukan pilihan dalam kehidupannya sendiri.

Seperti halnya laki-laki, perempuan juga memiliki akal dan pikiran yang tentu tidak dibiarkan kososng begitu saja. Perempuan juga perlu menimba ilmu untuk menjadikan dirinya menjadi lebih beradab. 

Untuk mendidik perempuan yang beradap tentu dengan ilmu. Dengan kapasitas intektual yang dimiliki, perempuan dapat menentukan jalan hidupnya untuk lebih berdaya. Dalam hal ini, label perempuan yang dipandang sebagai masyarakat kelas dua dan hanya diberi peran dalam urusan domestik tentunya dapat bergeser.

Jika menelisik budaya Jawa zaman kolonial yang sangat mengungkung perempuan untuk   berkembang secara inteletual. Belum lagi kentalnya budaya patriarki yang membuat para perempuan Jawa semakin terkungkung. Perempuan hanya diberi porsi untuk melakukan kegiatan domestik. Sekolah adalah satu hal yang sangat elite bagi perempuan zaman itu.

Tidak hanya perempuan Jawa yang terdiskriminasi dengan budaya patriarki. Di Eropa budaya patriarki bahkan dijadikan kebijakan pada masa kepemimpinan Nazi Jerman. Negara-negara Eropa lainnya seperti Inggris dan Prancis juga disinyalir menjadi negara-negar yang tidak lepas dari budaya patriarki. Patriarki, satu kata yang sangat sensitif bagi para feminis dengan gerakan feminismenya. 

Feminisme sejak abad ke-18 menjadi kekuatan yang masif dalam upaya menumbangkan budaya patriarki yang mengakar cukup lama di dunia. Dengan kampanye kesetaraan gendernya, feminisme mencoba mengikis budaya patriarki yang selama ini mereka anggap sebagai “pemasung” kebebasan perempuan.

Perempuan diletakkan sebagai kelas nomor dua karena dipandang sebagai kelompok masyarakat yang lemah. Meletakkan perempuan sebagai kelompok marginal dalam tatanan masyarakat memang suatu tindakan yang tidak bisa dibenarkan. 

Mengingat sekali lagi bahwa perempuan hakikatnya juga merupakan maskhluk ciptaan Tuhan yang diberi berbagai potensi sebagai karunia yang perlu disyukuri dan dikembangkan. Hanya karena secara fisik memang perempuan tidak lebih kuat dari laki-laki, bukan berarti perempuan pantas mendapat perlakuan misoginis.

Keberhasilan perempuan dalam memperjuangkan kebebasannya untuk lebih diperhitungkan dalam percaturan dunia sudah sangat terasa saat ini, walaupun pada realitasnya masih banyak kasus-kasus kekerasan yang menjadikan perempuan sebagai korban. Setidaknya nasib perempuan saat ini tidak seburuk dulu, saat perempuan benar-benar dianggap sebagai aib dan harus dikubur hidup-hidup ketika baru dilahirkan.

Pada sisi yang lain, kebebasan perempuan yang terus dikampanyekan sebagai bentuk hak asai yang perlu diperjuangkan terkadang terlampau dipaksakan. Hal ini ditunjukkan oleh sikap yang cenderung terlalu bebas sehingga terkadang sering bersinggungan bahkan bertubrukan dengan aturan agama, etika, moral, dan adat kesopanan. 

Seperti cara berbusana, sebagai orang Indonesia yang memiliki adat ketimuran, tidaklah elok bagi perempuan Indonesia untuk berbusana terlalu minim di depan publik apalagi sampai tidak memakai busana.

Adat ketimuran inilah yang saat ini mulai tergerus oleh berbagai budaya sehingga perempuan Indonesia saat ini mulai absurd dalam bersikap. Entah akan berprinsip pada budaya ketimuran atau justru mengikuti arus budaya yang notabene menggerus kehormatan perempuan Indonesia secara perlahan. 

Tidak ada masalah bagi perempuan Indonesia mengikuti tren, mode, life style selagi masih dapat diterima secara moral, etika, dan kesopanan  dan terlebih hal tersebut masih dalam koridor yang diperbolehkan dalam aturan agama.

Baru-baru ini sosial media geger dengan postingan salah satu aktris Indonesia yang yang menuai pro kontra, sampai-sampai kominfo angkat bicara. Kampanye tentang body positivity pun menjadi salah satu alasan pesan yang diangkat dari postingan tersebut. Sekali lagi pro kontra pasti terjadi. Ada yang mengecam hal tersebut dan ada yang mendukung dengan alasan kebebasan berekspresi.

Kebebasan perempuan dalam berekpresi memang perlu, namun memperhatikan segala batasan juga tidak boleh dikesampingkan. Sebab kebebasan perempuan adalah bentuk kesadran untuk mengoptimalkan potensi perempuan dalam peran dan kiprahnya dalam kehidupan. 

Alih-alih memperjuangkan kebebasan perempuan, rupanya itu dimanfaatkan sebagai alat legitimasi bagi perempuan dalam mengekpresikan dirinya secara liberal. Kebebasan perempuan tidak seharusnya dijadikan sebagai alat untuk melegitimasi segala perilaku dalam rangka mengekspresikan dirinya.

Jika dalam mengekspresikan dirinya perempuan justru menjatuhkan diri pada kerendahan martabat sebagai perempuan maka itu bukan kebebasan melainkan hal tersbut hanyalah keterbatasan dalam kontrol diri pada hal yang sesuai dengan hakikat manusia yang beradab.