Bukan rahasia umum lagi jika pendaki dan pemotor trail bertemu di satu jalur pendakian akan cepat memantik api konflik. 

Gunung dan hutan yang merupakan ajang kepuasan dan arena petualangan dua hobi ekstrem ini akan terus dan selalu menawarkan eksotisme dan memanjakan adrenalin bagi siapa saja yang mendatanginya. 

Konflik antara pendaki yang pejalan dengan pemotor trail yang pengendara bukanlah sebuah konflik lingkungan antara predator dan mangsa (prey). Tidak ada kasus predasi (pemangsaan) dalam konflik tersebut. 

Konflik antara pendaki dan pemotor trail hanyalah kesalahpahaman yang berujung pada kengototan masing-masing pihak. Namun, bisa saja konflik ini menjadi berkepanjangan jika tidak diselesaikan. 

Beberapa peristiwa yang melatarbelakangi gesekan tersebut, antara lain: peristiwa naiknya motor trail beserta pengendaranya di puncak Hargo Dumilah, Gunung Lawu (3165 m dpl), Jawa Tengah, baca di sini, dan juga keberadaan motor trail dan pengendaranya di kawasan camp area Gunung Merbabu (3245 m dpl), Jawa Tengah, baca di sini.

Manusia pada dasarnya mempunyai motivasi dan hak yang sama dalam berpetualang. Kesetaraan untuk menjadi petualang adalah hak asasi. Mereka juga bebas dan merdeka memilih jenis petualangan atau kegiatan luar ruangan yang diminati.

Baik pria ataupun wanita, masing-masing mempunyai hak untuk bereksplorasi di alam bebas. Keduanya sama-sama boleh mencintai kegiatan outdoor dan berhak untuk untuk menghargai alam. 

Pun, pendaki dan crosser motor trail juga mempunyai hak kebebasan yang sama untuk menguji adrenalinnya di hutan dan gunung.

Jika dirunut posisinya, baik pendaki dan pemotor trail, keduanya adalah penikmat alam dengan gaya dan alat yang berbeda. Sedang area sasarannya sama, yaitu hutan dan gunung. 

Untuk izin masuknya, tergantung jenis kawasan. Biasanya mereka menyasar ke Tahura (Taman Hutan Raya) yang mempunyai kelonggaran izin dan kemungkinan besar bisa ditawar dengan negosiasi tertentu.

Jika keduanya, pendaki dan crosser, sama-sama memegang tiket masuk dan perizinan, maka keduanya tidak bisa saling menghalangi dan masing-masing tidak punya wewenang untuk saling melarang.

Adapun tentang risiko rusaknya ekosistem, nanti dulu. Pendaki dan crosser sama-sama melakukan penggerusan jalur pendakian yang telah disediakan ataupun yang masih dirintis. 

Mengenai intensitas penggerusan lapisan tanah hingga menghasilkan sedimen, masing-masing pihak yang bertikai punya level tersendiri. Pendaki memang kecil skala penggerusan jalur pendakian, dengan mempertimbangkan friksi sol sepatunya. 

Namun, akhir-akhir ini intensitas pendakian melonjak drastis. Hal ini cukup memberikan pengaruh terhadap intensitas injakan di jalur pendakian. 

Sedang crosser, level penggerusannya tentunya lebih tinggi akibat friksi kasar dari lapisan roda bertapaknya. Namun, intensitasnya bisa dibilang rendah; mana mungkin ada even trabasan motor trail tiap hari. Sedang, friksi pendakian oleh tapakan kaki pendaki bisa dikatakan hampir selalu ada tiap hari. 

Untuk masalah polusi hasil kombusi atau pembakaran, keduanya, baik pendaki dan pemotor trail, sama-sama menyumbang polutan. Para crosser menyumbang karbon monoksida hasil kombusi dapur pacu, sedang pendaki juga menyumbang gas polutan yang sama dari dapur tenda yang berupa kombusi kompor bertabung gas. 

Intensitas pembuangan sampah, rekornya masih dipegang pendaki. Hal ini disebabkan lamanya waktu tempuh pendaki ke puncak daripada durasi pemotor trail yang kadang hanya sampai pada ketinggian tertentu. 

Tentunya, pihak yang mempunyai durasi panjang untuk waktu tempuh jelas membutuhkan logistik yang lebih banyak daripada yang pendek durasi tempuhnya. tik identik dengan bungkus dan sampah.

Untuk polusi suara, tentunya pemotor trail yang pegang rekor intensitas desibel kebisingannya. Ini sangat mengganggu ketenangan beberapa habitat yang sensitif dengan raungan dapur pacu. 

Pendaki juga ada kalanya membuat desibel kebisingan yang tinggi, seperti: suara musik dari pemutar digitalnya, genjrengan gitar, sorak-sorai, serta canda rianya. 

Jadi, alasan rusaknya ekosistem kurang pas bagi keduanya. Baik pendaki ataupun crosser, keduanya tidak dapat memakai klaim ekosistem. Yang bisa dipertimbangkan hanyalah dari sisi fungsi dan manfaat bagi keduanya. 

Motor trail akan sangat berguna untuk keperluan darurat dan reaksi cepat, semisal: pemadaman kebakaran hutan, pertolongan pertama SAR, perburuan pencurian kayu, patroli hutan, dan lainnya.

Penggunaan motor trail untuk keperluan pertolongan pertama dan evakuasi korban pendakian sudah diterapkan di beberapa tempat. Misal, di Gunung Penanggungan, Jawa Timur.  

Bahkan, kendaraan dobel gardan sering dimanfaatkan untuk evakuasi di Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, khususnya di Jalur pendakian Tretes. 

Menurut hemat saya, penggunaan motor trail untuk keperluan petualangan, sebaiknya memakai jalur sendiri. Anda bebas membuka jalur sendiri di area Tahura dengan perijinan khusus. 

Pertimbangan keselamatan dan kenyamanan terhadap pendaki yang jalan kaki tentunya menjadi prioritas pertama, jika para pengendara nebeng jalur yang digunakan oleh pendaki. 

Konvoi laju motor trail yang mengandalkan sentakan dan kecepatan serta perputaran mesin yang tinggi, tentunya sangat berbahaya, baik di tanjakan, ataupun di turunan yang bisa jadi sudah penuh oleh konvoi pendaki. 

Juga disarankan untuk tidak memakai trek atau jalur yang sudah dulu atau sudah lama ada yang dibuat oleh pendaki. Biar Anda para crosser merasakan beratnya membuka jalur di gunung. 

Yang terpenting. jaga kebersihan gunung. Jika pendaki ada operasi bersih gunung, para crosser juga punya agenda aksi bersih gunung, baca di sini. Keduanya bisa bekerja sama dalam satu even bersih-bersih gunung dengan menggabungkan keterampilan dan keunggulan serta kemampuan masing-masing. 

Petualangan di Indonesia memang tidak pernah kehilangan magnetnya. Pejalan dan pemotor trail selalu ingin menjamahi setiap gunung di Indonesia. Adalah sangat bijak jika keinginan menggebu tersebut diimbangi dengan semangat sadar kawasan dan sadar kawanan. 

Hidup beriringan dan saling melengkapi satu sama lainnya seharusnya menjadi prinsip utama untuk hidup damai antara manusia dengan alam. Termasuk pula kebersamaan antara crosser motor trail dan pendaki.