Sore itu, perjalanan bus terasa merambat, menaiki tanjakan yang diguyur hujan menuju Genting Island, Malaysia; surga para penjudi dan pelancong hati. 

Kuperhatikan hilir mudik kendaraan yang beraroma kemewahan, kebebasan, dan keceriaan tanpa batas-batas ketakutan. Ya, itulah wibawa sebuah resor yang dilindungi oleh moncong senapan sekaligus moncong kealiman.

Sirkumferensi Genting Island tak jauh beda dengan Sentosa Island, Singapura, memberikan kebebasan di atas ambang rata-rata homo mensura (manusia penilai). Memberikan kebebasan berekonomi di atas ambang homo economicus (manusia ekonomi). Di kedua pulau kebebasan itu, majelis permufakatannya adalah Kasino.

Pythagoras yang dikenal sebagai Bapak Bilangan pasti akan geleng-geleng melihat perputaran uang di kedua pulau surga dunia tersebut. Pythagoras akan lupa teori reinkarnasinya yang meyakini bahwa ketika manusia mati, maka jiwanya pindah ke binatang. Apabila binatang itu mati, maka jiwanya pindah lagi ke binatang lainnya. Pythagoras pasti memilih jiwanya pindah ke pulau itu sebagai manusia sejati (homo sapiens).

Baik di Genting Island ataupun Sentosa Island, keduanya akan menjadi tujuan kebebasan berbagai macam homo. Ada homo economicus (manusia ekonomi), homo sapiens (manusia yang berpikir), homo mensura (manusia penilai), homo faber (manusia pekerja), homo ludens (manusia bermain), semua kumpul jadi satu, menikmati kebebasan tanpa gangguan moncong kealiman. 

Kebebasan yang dikemas dalam skala mikro yang berupa kemerdekaan resor kecil adalah napas hidup kedua pulau itu. Mereka yang larut di dalam surga pulau tersebut melupakan Aristoteles tentang negara sebagi prioritas utama dari keluarga dan individu. 

Justru di sana terbalik, Malaysia dan Singapura adalah nomor dua. Yang pertama bagi mereka adalah bagaimana suguhan tarian nudis gadis-gadis Balkan yang mencari nafkah agar tidak terhenti bergoyang.

Yang agak dihormati mungkin Plato, tentang pemimpin negara sebaiknya dipegang oleh ahli filsafat dengan pertimbangan bahwa negara yang ideal itu harus berdasar pada keadilan. Bagaimana tidak, Malaysia teriak-teriak tentang kealiman, halal dan haram, eh ternyata masih ternak kasino di Genting Island.

Agak mentereng sedikit di atasnya, ada Socrates, tentang keadilan dalam melaksanakan apa yang menjadi fungsi atau pekerjaan sendiri sebaik-baiknya, tanpa mencampuri fungsi atau pekerjaan orang lain.

Kebebasan yang dikemas dalam skala mikro yang berupa kemerdekaan resor kecil di Genting Island dan Sentosa Island juga dinikmati oleh negara mikro. Trend negara mikro (micronation) yang berciri khas kebebasan dan kemerdekaan resor kecil ini mulai menjalar dan mewabah dalam bentuk masing-masing.

Micronation adalah sebuah negara dengan daerah yurisdiksi yang sangat kecil. Negara seperti ini benar-benar berdaulat dan berdiri sendiri, tetapi keberadaannya tidak diakui oleh pemerintah negara-negara lain atau organisasi internasional, termasuk PBB.

Micronation umumnya adalah suatu kawasan terpencil dengan luas wilayah sangat terbatas yang kemudian diklaim oleh seseorang atau sekelompok manusia, kemudian memproklamasikan kemerdekaan dan menjalankan aktivitas seperti layaknya sebuah negara. 

Micronation memiliki pemerintahan, rakyat, hukum, lambang negara, dan alat pembayaran resmi. Micronation adalah solusi bagi kebebasan dalam resor kecil dan ramping. Keunikan, daya tarik, dan aroma surga dunia membuat negara mikro jauh dari gangguan negara barbar yang haus kenikmatan.

Oleh karena itu, tak akan ada pencaplokan, invasi, agresi, introduksi, penetrasi yang membahayakan negara mikro. Kedaulatan mereka kokoh berdiri di atas nafsu kenikmatan negara barbar.

Micronation berbeda dengan microstate yang wilayah kedaulatannya juga kecil tetapi diakui keberadaannya oleh dunia internasional seperti Vatikan, San Marino, Singapura, Nauru, dan Liechtenstein. 

Ada beberapa negara mikro dengan wilayah kekuasaan superkecil yang berdaulat, semuanya didirikan untuk berbagai tujuan yang unik-unik dan menarik. Biasanya untuk memuaskan nafsu syahwat warga negara barbar yang di wilayahnya sungguh terkekang.

Tersebutlah micronation yang bernama Kerajaan Gay dan Lesbian Kepulauan Laut Koral. Negara mikro yang terletak di bagian tenggara wilayah Queensland, Australia. Negara mikro ini berdaulat dengan kemerdekaan penuh tanpa basa-basi. Tentunya surga bagi kaum homoseksual.

Pendirinya adalah sekelompok aktivis pembela hak-hak kaum LGBT. Negara mikro ini didirikan pada tahun 2004 sebagai bentuk protes atas penolakan pemerintah Australia untuk mengakui legalitas pernikahan sesama jenis.

Micronataion ini berbendera nasional tujuh garis warna-warni, motif pelangi, khas simbol LGBT internasional. Mata uangnya adalah Pink Dollar, dan lagu kebangsaannya I am What I am, nah, lagu tahun 60-an yang dipopulerkan oleh Gloria Gaynor. Sementara rajanya adalah Dale Anderson.

Untuk kebebasan beragama dengan basis pemilihan Tuhan mereka sendiri, tersebutlah Kekaisaran Aerika, negara mikro yang satu ini berada di kawasan Kanada. Eric Lis adalah pendirinya. Lis juga menciptakan agama sendiri yang disebut Silinisme, pemuja Tuhan Pinguin.

Untuk kemerdekaan dan kebebasan para Punk, ada negara mikro yang bernama Freetown Christiania, sebuah wilayah otonom yang mengikrarkan diri sebagai negara berdaulat, terpisah dari pemerintahan Denmark. Wilayahnya meliputi bekas pangkalan militer seluar 34 hektar di Kopenhagen, Denmark. Golongan hippies, punk, dan para penganut gaya hidup bebas lainnya menjadikan tempat ini sebagai sebuah negara dengan konsep komunitas bebas.

Untuk kemerdekaan perempuan dengan rasa “dominasi” atau womdom (women domination), tersedia negara mikro yang bernama Other World Kingdom (OWK) yang berada di Cerna, Ceko. OWK adalah sebuah fasilitas female domination, komunitas BDSM di mana wanita menjadi pihak yang berkuasa. 

Bagi libertarian laki yang ingin berdarah-darah, silakan ke sini. Pemimpin OWK adalah Ratu Patricia I yang memerintah para wanita.

Itulah beberapa macam negara mikro yang akan memanjakan kebebasan Anda. Banyak opsi untuk merdeka, salah satunya harus kuat bertahan (survive) dengan segala kemampuan ilmu yang dimiliki di wilayah terpencil tak berpenghuni, ataupun dengan kekayaan Anda untuk membeli semua belenggu untuk dilepaskan. Tak harus angkat senjata yang berdarah-darah.