Sangat picik rasanya jika mengartikan sila pertama sebagai dasar bagi negara untuk mendikte apa saja keyakinan relijius atau spiritual yang diperbolehkan untuk ada di negara ini dan apa saja yang dilarang. Lebih bijak bagi kita memaknai sila pertama sebagai suatu landasan bernegara, di mana kehidupan berbangsa dan bernegara harus dilandasi oleh prinsip ketuhanan, di mana Tuhan adalah Tuhan dan manusia adalah manusia.

Penulis lebih percaya bahwa sesuai kredo itu, di mana Tuhan adalah Tuhan, maka tidak ada struktur kelembagaan apapun yang diciptakan oleh manusia boleh mengatur kehidupan pribadi anggotanya. Ini termasuk negara, agama terorganisir, partai politik atau apapun bentuknya. Tidak ada yang boleh menjadi Tuhan di dunia, entah itu kelompok atau perorangan. Sederhana kan?

Negara tidak hanya seharusnya menjaga keteraturan, namun juga kebebasan. Setiap manusia menginginkan kebebasan dan bahkan, meminjam kata-kata Sartre, dikutuk atasnya. Manusia yang mencapai kesadaran tertingginya akan merasakan individualitas yang nyata. Individualitas itu sendiri nantinya akan berwujud dalam perasaan bahwa sebenarnya tidak ada yang mendiktenya atau mengekangnya di dunia, terkecuali kesadaran itu sendiri.

Kisah-kisah pamali yang dulu membatasi kita saat kecil, seperti jangan keluyuran saat senja jika tidak mau diculik hantu atau disembelih oleh sesuatu yang di tempat penulis disebut sebagai “tatak gulu”, akan kita anggap kisah lalu saat kita dewasa. Kita membatasi diri sendiri untuk keluar saat senja ketika kita dewasa bukan karena kita percaya dengan pamali itu lagi, tapi karena kesadaran kita yang kian berkembang seiring waktu.

Berbeda dengan saat kecil, kita akan semakin sadar untuk tidak keluar saat senja dengan inisiatif kita sendiri. Bisa alasan kita karena kita semakin sadar dengan kewajiban beribadah Maghrib jika kita seorang Muslim taat atau karena kita sadar bahwa setelah seharian bekerja, beristirahat di rumah saat senja adalah hal yang masuk akal dibandingkan menambah letih.

Suatu paradoks memang bahwa kesadaran yang paripurna akan menghasilkan kebebasan dan kebebasan akan menghasilkan keinginan untuk membatasi diri sendiri secara sadar. Tapi, itulah kodratnya. Semakin pintar kita, semakin sadar kita, maka akan semakin mungkin bagi kita untuk merasakan kebebasan. Bisa saja kita merasakan kebahagiaan atau kelegaan karenanya, tapi bisa juga sebaliknya. Semua tergantung dari individu itu masing-masing.

Salah satu tokoh psikoanalisa terkenal abad ke-20, Erich Fromm, pernah berkata jika manusia kadang merasa takut akan kebebasan itu. Kadang tidak saja dianggap berkah, namun juga musibah. Sedikit banyak serupa dengan dalil Sartre yang telah penulis tulis sebelumnya. Lebih banyak orang yang mencari otoritas yang lebih tinggi atau lebih besar darinya untuk ‘meredakan’ beban dari kebebasan itu.

Dari sini lahirlah agama dan ideologi modern. Otoritas itu bisa saja organisasi keagamaan, seperti gereja, tarikat atau sangha, atau juga negara hingga partai. Dari sini pulalah fasisme dan komunisme modern lahir, dari penolakan atas kebebasan kodrati manusia itu. Pemuka agama yang mengaku wakil Tuhan, negara fasis yang berperilaku seperti Tuhan ataupun organisasi Marxisme-Leninisme yang menggantikan peran Tuhan di masyarakat karena ideologi materialismenya, semua muncul karena kehendak dari mereka yang menolak kebebasan tersebut dan mencari otoritas yang dapat mendiktenya.

Penulis justru merasa sebaiknya bahwa proses pencarian kebenaran yang sejati harus kembali kepada individu masing-masing itu sendiri, tanpa ada dikte dari siapapun atau apapun. Agama terorganisir, negara apalagi partai politik, tidak ada yang berhak menentukan pencarian spiritual seseorang. Apalagi keluarga atau teman atau masyarakat sekitar. Jika ada ungkapan yang mengatakan bahwa ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’, maka penulis akan berkata ‘keindividualan adalah sebagian dari iman’.

Aliran kesadaran (stream of consciousness) yang penulis rasakan baik dalam pembuatan tulisan ini atau dalam renungan keseharian telah membawa penulis kepada posisi ‘berpikir bebas’ (freethinking). Penulis telah menolak untuk terikat pada otoritas-otoritas tertentu, tidak hanya negara atau agama terorganisir, namun juga konsensus ilmiah. Konsensus ilmiah, terlepas dari namanya, bukanlah hal yang ilmiah, serupa dengan akal sehat yang tidak selalu sehat atau masuk akal.

Kebenaran harus diujikan keberadaannya, meskipun tidak juga kita harus menafikan kemungkinan-kemungkinan. Kita harus memperlakukan kemungkinan sebagai bahan dan kebenaran sebagai produk. Kebenaran harus datang dari pengujian dan pembuktian kemungkinan. Menerima kemungkinan-kemungkinan sebagai kebenaran bukanlah yang elok atau pantas dilakukan!

Hipotesis adalah hal yang umum dalam suatu studi ilmiah dan merupakan bagian dari proses ilmiah itu sendiri, namun tidak akan pernah menjadi suatu kebenaran jika tidak dapat dibuktikan keberadaannya secara nyata. Ya, penulis sadar jika pandangan ini agak dekat dengan empirisme atau malah positivisme. Tapi, apa lagi alternatifnya? Sains adalah soal pengamatan yang nyata mengenai hubungan sebab-akibat dan memang itulah adanya.

Lalu, jika kita harus mengujikan kebenaran dari pembuktian, bagaimana dengan urusan spiritual?

Nah, inilah kenapa penulis menjadi seorang agnostik. Seperti Ibrahim yang merenungi langit di saat malam, yang terus menerus bertanya mengenai siapa Tuhannya, penulis hanya bisa mengira apa yang berada di luar sana. Mungkin ada sesuatu yang mengatur kita dan semesta ini, mungkin juga tidak. Mungkin ada suatu entitas (atau Muslim sering menyebutnya “dzat”) yang tak terbatas dibandingkan semesta kita berada. Mungkin, tapi itu belum pasti.

Seperti yang penulis katakan sebelumnya, kemungkinan-kemungkinan bukanlah hal yang nir-ilmiah apalagi irasional. Kemungkinan-kemungkinan tersebut, termasuk mengenai hal yang bersifat paranormal, supranatural atau metafisika, adalah hal yang valid di mata sains sebagai hipotesis-hipotesis yang seharusnya diperlakukan secara terhormat meski tidak boleh dianggap sebagai suatu kebenaran yang mengikat.

Di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali ketidakpastian itu sendiri. Berbeda dengan Ibrahim yang dapat menyimpulkan siapa Tuhannya dalam kegelapan malam, penulis tidak bisa melakukannya. Agak menggelikan sebenarnya jika kita memahami bahwa dari kekacauan atau ketidakpastian yang maha luas ini, banyak keberaturan yang kita temukan, namun dari salah satu hukum yang mengatur keteraturan semesta ini adalah bahwa dunia ini tidak ada yang pasti.

Mungkin saja memang keteraturan dan kekacauan berdiri bahu membahu, ada bersamaan, bagaikan dua sisi mata koin. Mungkin filsafat Hindu bahwa sang pencipta (Brahma), pemelihara (Wishnu) dan penghancur (Shiwa) adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan (trimurti) itu benar. Siapa tahu.

Tapi yang jelas penulis pikirkan sekarang adalah bagaimana tulisan ini akan ditanggapi dalam masyarakat kita saat ini sekarang. Apakah masyarakat kita sekarang dapat menerima kebebasan berpikir atau aliran kesadaran seperti yang penulis lakukan ini? Di saat negara semakin membuat kebebasan sebagai suatu hantu yang menakutkan, di saat kelompok-kelompok keagamaan tertentu semakin mendikte kesalehan pribadi seseorang, apakah penulis sedang melakukan hal yang benar bagi dirinya sendiri saat ini?

Jawabannya sederhana: penulis juga tidak tahu.

Setidaknya dalam ketidaktahuan dan ketidakpastian ini penulis bisa tenang dan damai di antara masa kini dan konsekuensi tulisan ini di masa depan, terlepas baik atau buruknya.