43300_70630.jpg
https://i.pinimg.com/originals/99/12/e0/9912e04d30becb3208c873fca99c51ed.jpg
Filsafat · 4 menit baca

Kebebasan dan Tanggungjawab

Setiap dari kita punya kuasa atas diri kita sendiri. Artinya kita bebas melaukan apa saja. Itu sebabnya sebagai manusia kita memiliki kebebasan atau kadang disebut sebagai makhluk bebas. Manusia mempunyai akal untuk menuntunnya menuju kebebasan. Berbeda dengan hewan yang mengandalkan insting.

Tidak ada pengertian yang benar-benar definitif megenai kebebasan. Sebab kebebasan senantiasa merujuk kepada pengalaman. Jika ditanya mengenai apa itu kebebasan sepertinya semua dari kita akan tahu apa itu makna kebebasan. Namun jika ada yang bertanya untuk menejelaskan tentang kebebasan, maka kita mengalami kesulitan untuk menjelaskan kebebasan.

Kebebasan berbeda dengan ilmu pengetahuan yang bertolak dari pengalaman lahiriah dan selalu ia kembali lagi padanya untuk memverifikasi  hipotesisnya. Maka kebebasan jika menggunakan prinsip ini jelas tidak akan ditemukan. Sebab pengalaman adalah basis dari kebebasan. Kebebasan adalah hubungan antara “aku konkret” dan perbuatannya kata filsuf Prancis, Henri Bergon. Kebebasan merupakan suatu fakta dan di antara fakta-fakta yang ditetapkan orang tidak ada yang lebih jelas.

Banyak di antara kita yang secara sempit memahami bahwa kebebasan dimengeri sebagai kesewenang-wenangan (arbitrariness). Kebebasan dimaknai apabila dapat berbuat atau tidak berbuat sesuka hati. “Bebas” berarti terlepas dari segala macam kewajiban dan keterikatan. Sederhananya kebebasan dalam arti ini dilihat sebagai kesempatan untuk berbuat semau gue.

Dengan demikian, artinya sebagai seorang pelajar tentu kita bebas berpakaian sesuka hati. memanjangkan rambut, bolos, dan tawuran. Sebagai manajer kita pun bebas sesuka hati untuk menentukan jadwal rapat. Yang penting selaras dengan kesibukan kita sebagai seorang manajer. Bebas, berarti kita pun bebas untuk melakukan pergaulan bebas. Bahkan sebgai manusia adalah hak kita untuk menyukai siapapun termasuk sesama jenis.

Ini adalah kebebasan yang diidam-idamkan oleh manusia. Namun, manusia yang tergolong sumbu pendek. Atau biasa dikenal dengan isitilah generasi micin dan orang jaman now. Padahal harus dibedakan antara kebebasan dengan merasa bebas. Sebab kebebasan tidak bisa dilepaskan dari segala macam ikata sosial dan moral.

Perlu diketahui ada yang disebut sebagai batasan-batasan terhadap kebebasan. Batasan tersebut berupa lingkungan, fisik, dan  manusia lain diluar diri kita. Sehingga jika banyak yang mengungkapkan bahwa manusia bebas melaukan apa saja tanpa adanya intervensi sebenarnya itu salah. Karena secara tidak langsung kita telah mendapat intervensi dari ketiga hal tersebut.

Lingkungan misalanya. Kita akan selalu dihadapkan dengan aturan-aturan yang berlaku di tempat kita berada. Baik aturan yang yang statusnya legal formal ataupun yang sifatnya norma adat. Sama seperti kasus pelajar terseut. Memang benar dibisa melakukan hal semacam itu. Tapi mengetahui jika perbuatan tersebut ternyata adalah perbuatan yang dilarang bukankah sesungguhnya hal itu menjadi perbuatan yang tidak membebaskan lagi. Alangkah kebih bebasnya menjadi pelajar yang masuk sekolah setiap harinya dengan rajin dan tekun. Lalu pada akhir tahun ajaran rapornya mendapat nilai yang bagus dan pujian dari orangtuanya. Keberhasilan yang didasarkan pada prestasi dan usaha sendiiri. Hal ini hanya mungkin karena adanya kebebasan. Sama halnya dengan manajer tadi. Mustahil dikatakan bebas bila hanya agendanya tidak menunjukkan janji atau komitmen lain. Bila sepanjang hari ia sibuk dengan macam-macam urusan dan selalu bekerja keras, tentu hal ini hanya mungkin karena ia bebas. Suksesnya bukan sesuatu yang terjadi otomatis, tapi berasal dari jerih payahnya dan itu tentu mengandaikan kebebasannya. Dan apa yang dikatakan tentang “pergaulan bebas” sesungguhnya hanya menunjukkan apa yang diseut dengan kebebasan semu. Bebas yang amat tidak bebas. Orang yang melakukan pergaulan bebas pada kenyatannya tidak pernah bebas. Ia menjadikan dirinya budak dari hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan naluriahnya. Cara seperti ini tidak pantas bagi manusia. Serta untuk kasus yang terakhir menjadi polemik yang hangat dan selalu menarik dibicarakan. Bukankah hal tersebut tidak merugikan siapapun dan adalah hak pribadi seorang manusia untuk bebas menyukai apapun dan siapapun. Dalam kasus menyukai sesama jenis, perlu diingat tentang batasan yang dimaksud tadi. Ada yang disebut dengan batasan fisik. Sebagai manusia kita bebas menjelajahi gunung dan samudra. Bebas terbang di angkasa. Namun ingat fisik kita sebagai manusia mempunyai kemampuan yang terbatas sehingga kita bisa melakukan itu semua. Menjadi bebas adalah ketka kita tahu kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita dan mampu memaksimalkan segala potensi yang ada. Maka jangan mengira mereka yang  berada di penjara adalah orang yang tidak bebas. Justru banyak di antara mereka yang merasa lebih bebas dibanding orang-orang yang tidak dipenjara sama sekali. Terkait tadi, maka harus diketahui pula manusia punya batasan-batasannya. Tidak mungkin sesama pria akan menghasilkan keturunan yang ada justru mematikan umat manusia. Begitu pula sebaliknya. Mungkin dengan dunia kedokteran modern bisa bisa memindahkan rahim dan sebagainya, tapi sejak dari sana mereka yang penyuka sesama jenis secara tidak langsung telah mengakui keterbatasan dan ketidak bebasan mereka. Dengan begitu sesungguhnya mereka menyalahi kenyataan alam.

Sehingga menjadi bebas ialah mengetahui bahwa hidup manusia tidak lepas dari kebebasan orang lain. Akan selalu ada kebebasan-kebebasan yang saling bersinggungan. Maka menjadi bebas  adalah hidup dalam kebebasan tanpa menyentuh kebesan orang lain.

Poin penting yang harus selalu diingat  dalam kebebasan ialah tanggungjawab. Menjadi bebas adalah menjadi tanggungjawab.  Kebebasan dan tanggungjawab adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Adalah suatu tautologi. Seperti  ungkapan bujangan yang belum kawin atau roda bundar. Setiap pilihan dan tindakan manusia tidak terlepas dari tanggungjawab. Maka sesungguhnya pemaknaan mendalam tentang kebebasan ialah ketika manusia berada pada puncak tertinggi dari kebebasan, yaitu kebebasan eksistensial. Kebebasan yang mampu memaknai hakikatnya sebagai manusia. Bertanggungjawab atas segala kemanusiaannya. Tidak menyalahi kodrat dan berpegang teguh pada nilai yang ada.

Menjadi bebas bukan berarti merasa bebas melalukan apa saja. Maka apa serunya bebas kalau begitu. Bukankah lebih menyenangkan jika menjadi bebas bisa menjadi manusia seutuhnya tanpa menyalahi kodrat dan nilai yang telah ada.