2 tahun lalu · 470 view · 4 menit baca · Buku midah_si_manis_bergigi_emas.jpg
Sumber: plus.google.com

Kebebasan, Cinta, dan Tanggung Jawab
Ulasan Buku "Midah, Si Manis Bergigi Emas"

Midah, Si manis bergigi emas. Begitulah Pram menamai dan menjuluki tokoh dalam romannya, yang sekaligus diangkat sebagai judul atasnya.

Pram, seperti bisa kita kenal melalui “anak-anak kandungnya” yang diperuntukkan bagi Nusantara dan untuk dunia, memang acap menjadikan perempuan sebagai sentral inspirasi untuk perlawanan dan untuk perubahan. Di Teatrologi Buru misalnya, roman-roman yang lahir di balik jeruji penindasan ini, banyak menempatkan satu sosok perempuan sebagai ujung tombak.

Lihat saja, betapapun ganasnya kebiadaban yang kolonial atas hidupnya, betapapun kejamnya praktik ketidakadilan dalam penindasan yang dialaminya, hampir secuilpun tak pernah surutkan sikap perlawanan perempuan bernama Nyai Ontosoroh. Bahkan, sekadar turunkan semangat pun hampir tidak. “Kita sudah melawan, Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Di roman-romannya yang lain, sebut misalnya Gadis Pantai atau Panggil Aku Kartini Saja, terasa jelas bagaimana pendirian seorang Pram hendak mengangkat harkat-martabat kaum perempuan zamannya untuk masa depan.

Akutnya gelombang feodalisme, kaku dan tidak bersahabatnya sikap dan praktik keagamaan dalam kehidupan sosial-politiknya, berhasil Pram urai sekaligus memberi inspirasi bagaimana orang harus tetap kuat, tak mudah lelah, lagi tak gentar melawan segala bentuk ketidakadilan atas hidup dan penghidupannya.

Tak ubah dengan roman yang pembaca nikmati ulasannya kali ini. Midah, Si Manis Bergigi Emas, lagi-lagi memberi kita pukulan telak. Bagi yang mau hidup bukan menurut kediriannya sendiri, terang merekalah yang akan sangat terpukul. Itupun jika mereka sadar.

***

Namanya Midah. Lahir dari keluarga terpandang. Punya tradisi kuat dalam hal keagamaan. Parasnya ayu, lentik suaranya, ayu dan selentik hatinya yang kuat.

Di awal, Midah diharuskan tunduk dan patuh pada “aturan”. Bahkan, sekadar memilih musik atau menyanyikan lagu sekalipun, ia sungguh tak dibenarkan. Sampai-sampai, hak atas tubuhnya sendiri diserahkan pada lekaki yang menjadikan dirinya tak ubah dengan sejumput tembakau—bisa dipilin pendek atau panjang, bisa dipilin ke dalam berbagai bentuk.

Beruntung kiranya, pada perjalanan hidup yang ia lalui, seorang Midah pun menjelma menjadi seorang yang bebas, seorang yang cukup otentik jika dibanding orang kebanyakan. Dan meski akhirnya ia juga kalah (secara moral), kedirian Midah tetap saja teguh. Kebebasan, baginya sendiri, tetap adalah keutamaan.

Ya, siapapun, Midah atau bukan, tiap yang terkekang pasti akan sadar akan keterkekangannya. Pasti akan sadar akan ketidakbebasannya. Hingga pada akhirnya, tiap-tiap orang akan sadar bahwa kebebasan adalah penting dan utama.

Karena itu, orang harus bela, bukan saja sebagai hak, melainkan lebih sebagai kewajiban. Dan dari kesadaran itulah, tatanan hidup yang layak pun akan lahir dan tercipta. Hanya saja, pada yang berpikirlah yang akan mengamini proses ini.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana orang harus menyikapi kesadaran akan kebebasannya di tengah arus ketidakbebasan seperti sekarang ini? Jangankan diperkenankan untuk memilih atau bertindak sesuai pilihan yang dihendaki, berpikir sekalipun orang harus diatur, tidak dibebaskan. Berpikir ini atau itu, semua harus menurut kaidah yang telah ditetapkan. Melawan berarti bunuh diri. Dunia macam apa itu?

Dalam menjawab hal ini, tepat kiranya jika kita belajar pada sikap, tindakan dan pilihan Midah yang digambarkan Pram lewat romannya ini. Pertama, orang harus menentukan pilihan atas nasibnya sendiri. Seperti terterap dalam langkah Midah, ia enggan menggantungkan nasibnya pada orang lain.

Ia rela menjauh dari “kemapanan” hidup demi kebebasan yang didambakannya. Ia tak mau mengekor lagi. Ia ingin mencipta sejarah hidupnya sendiri. Tiap nasib orang itu berada di tangan masing-masingnya, bukan pada yang lain.

Kedua, dalam kondisi apapun, orang harus tetap punya keberanian. Berani menyatakan sikap. Berani berbuat apa yang dihendaki dan diyakininya, selama itu demi kebaikan diri, pun tidak melanggar hak hidup orang lain. Karena jika tidak, sebagaimana Pram juga pernah mewartakannya di tempat yang lain, tak ada guna hidup tanpa sikap berani. Itulah modal awal yang harus dipegang teguh oleh semua yang hidup tanpa kecuali.

Ketiga, orang juga harus berbuat sesegera mungkin. Di sinilah kejelian Pram semakin terbukti bagaimana  ia mengurai berbagai macam masalah sosial yang sekaligus diberi alas bagaimana manusia harus menghadapinya. “Berbuat! Berbuat! Orang akan tetap gelisah bila tidak berbuat.”

Keempat, konsisten tiada lelah. Meski hanya pada cinta sebagai pegangan, orang tetap tidak boleh menyerah pada kelelahan. Berdiri tegap menghadapinya adalah citra diri yang otentik. Menyerah berarti kalah, kalah secara tak terhormat.

Dan yang terakhir adalah yang bebas harus juga bertanggungjawab. Ya, apapun aral yang merintanginya, seorang yang bebas harus tetap mengambil tanggungjawab sebagai kewajibannya. “Engkau boleh terpandang sebagai orang baik-baik untuk selama-lamanya. Biarlah segala yang kotor aku ambil sebagai tanggungjawabku sendiri.”

***

Sungguh, hampir tak bisa saya bayangkan, bagaimana Midah yang seorang perempuan itu berhasil hadapi segala marah bahaya yang berusaha menggerus kebebasan yang dihendakinya. Meski tergolong sebagai tokoh fiktif, saya tetap amini bahwa citra diri seperti Midah inilah yang layak orang ikuti.

Karena memang, hanya yang berani tampilkan kedirian yang pantas diberi kebebasan. Dan pada gilirannya, seperti tokoh-tokoh fiktif lainnya dalam roman Pram, harus orang ikuti jika tak mau jatuh dalam lubang ketidakadilan.

Demikianlah, segala upaya seorang perempuan yang coba Pram uraikan di dalamnya, tak lain demi keadilan dan kemanusiaan anak zamannya, kini dan nanti. Alhasil, bisa dikatakan bahwa di tangan Pram, perempuan tidak lagi nampak sebagai kaum yang lemah atas laki-laki.

Perempuan harus dan mampu keluar dari segala bentuk dominasi menyimpang yang dipraktikkan secara tak manusiawi atas hidupnya. Begitulah Pram dengan segala ciri khas sikap dan penulisannya di setiap roman yang ia persembahkan sebagai satu sumbangan Nusantara untuk dunia.