Arsiparis
1 bulan lalu · 59 view · 3 min baca menit baca · Budaya 30319_65547.jpg

Kebebasan Berpendapat vs Inklusivisme

Kalau kita membicarakan kebebasan berpendapat selamanya kita akan selalu dipertentangkan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Kebebasan berbicara adalah kebebasan melontarkan ide tanpa ada ancaman terhadap keamanan dan kenyaman sang pembuat ide maupun yang menerima. 

Namun apakah ide sudah pasti tidak mencederai HAM orang lain? Nanti dulu.

HAM menjamin orang lain untuk tidak dilecehkan, dihina, diancam dan sebagainya. Pertanyaannya, bila demikian, apakah kebebasan berpendapat tidak akan mengenai HAM orang lain kalau demikian adanya? 

Kita ambil contoh dengan dalih kebebasan berbicara kita menyebut N***O pada orang berkulit hitam, atau kita menyebut kaum atau golongan lain dengan sebutan kaum pemalas misalnya apakah kita tidak melanggar HAM orang lain.

Di tengah riuh rendah kebebasan berpendapat kita harus juga instrospeksi apakah pendapat kita tidak menyakiti pribadi orang lain jika kita lontarkan ke publik.

Ada konsensus yang mestinya harus dipahami oleh semua bahwa eksklusivitas dalam berpendapat haruslah disampaikan secara intern. Hal-hal khusus seperti penonjolan golongan haruslah ditampilkan dalam ranah privat.

Ada hal-hal yang universal yang mestinya kita kedepankan di tengah kondisi majemuk masyarakat kita. Ini akan menjadikan bahwa kebaikan menjadi umum untuk dikonsumsi semua orang tanpa label golongan maupun agama yang mana karena semua mampu menerima.

Jangan Membungkus Urusan Dunia dengan Agama


Makin religius seseorang ia akan makin terlihat menghindari kekerasan bahkan mengutuknya. Kita bisa lihat tokoh tokoh baik dia Agama Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, dan semuanya. 

Di antara tokoh-tokoh tersebut bisa sebut nama-nama; Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Dalai Lama, Yusuf Al Qardhawi, Sri Paus Yohanes II, dan Imam Khomeini adalah orang-orang biasa yang mempunyai religiusitas tinggi yang mengecam kekerasan di dunia.

Mereka adalah contoh konkret bahwa dalam melaksanakan agama bukan dengan khotbah-khotbah yang menggelegar tapi bagaimana mereka beraksi dan tetap kukuh dalam menentang kekerasan walaupun itu terjadi pada dirinya mereka tidak membalas dengan kekerasan pula.

Mereka yang saya sebut di atas adalah orang orang yang tidak mendapat materi dari apa yang ia perjuangkan. Bahkan yang tragis ada beberapa yang rela mati untuk memperjuangkan idenya.

Itulah teladan yang bisa kita tiru bagaimana mereka memperlakukan kekerasan yang ia terima bahkan ada salah satu yang menjadi martir dalam memperjuangkan idealismenya menetang kekerasan.

Sebelum kita mengikuti seruannya kita bisa menengok dan mempelajari sejarah hidup tokoh tersebut. Layakkah mereka kita ikuti seruannya disaat mereka sendiri masih belum tulus karena masih terbungkus nafsu pribadi. Dan apabila kita mengikutinya tentunya itu disebabkan adanya kesamaan motivasi diri kita dengannya.

Agama adalah suatu yang personal yang tentunya harus penuh kehati-hatian bila menyuarakan ajarannya di tengah keberagaman agama di negara kita.

Terlebih lagi akhir akhir ini bagaimana isyu agama semakin menjadi jadi untuk dialamatkan pada seseorang baik itu yang seagama maupun yang berbeda agama. Kita perlu menjadi umat yang cerdas agar tidak termakan dengan mudah hasutan hasutan yang mengatasnamakan agama.

Agama adalah wilayah personal seseorang yang dalam hubungannya dengan sang pencipta begitu pribadi dan rahasia. Bukankah Tuhan pun membenci orang yang sering ujub dalam beribadah?

Jangan Terkecoh Penampilan Seseorang

Kita seringkali ceroboh memaknai religiusitas seseorang. Seringkali kita menilai dari perilaku yang nampak saja dari religiusitas seseorang. Itulah salah satu wilayah publik yang gampang sekali menipu kita dengan penampakan apa yang terlihat secara zahir.

Adakah kita pernah menelisik kehidupan pribadi seseorang ketika ada di depan orang dan ketika mereka sedang sendirian. Seorang yang taqwa seringkali sama perilakunya baik saat dihadapan orang banyak maupun sedang sendirian; sama sama santun.

Mari berkaca pada diri masing masing sudahkah kita menghayati ajaran agama kita secara kaffah. Sudahkah kita Bersikap santun sebagaimana kita beribadah kepadanya yang membutuhkan ketenangan tanpa berikap riuh rendah dan bising.


Religius bukanlah dilihat dari cara berpakaian maupun kerasnya teriakan. Religius adalah kesantunan yang senantiasa selalu menciptakan kedamaian dan ketenangan berlandaskan agama masing-masing. Agama harus menjadi Rahmatan Lil alamin. Rahmat bagi seluruh alam bukan rahmat bagi sebagian golongan.

Dengan dalih apapun kita tidak bisa membiarkan seseorang mengeluarkan pernyataan atau ide yang beresiko melanggar HAM orang lain. Lebih lebih jika ide atau pendapat yang kita sampaikan bermuatan ajaran agama.

Kita hidup dalam keberagaman agama yang mengIndonesia. Kejelian dalam memulih universalitas ajaran agama yang kita anut akan menunjukkan kualitas pemahaman agama kita. 

Jika kita sampai memaklumi ide ide yang beresiko melanggar HAM dengan dalih kebebasan berbicara mulai detik ini kita stop saja diskusi soal HAM. Mari kita cari solusinya bersama bisakah kita menghindari kondisi kontradiktif antara HAM dan kebebasan berbicara.

Artikel Terkait