Berangkat dari keyakinan umat muslim yang memercayai bahwa Alquran adalah kitab yang ṣāliḥ li kulli zamān wa makān, penggalian makna yang terkadung dalam Alquran selalu dinamis. Aktivitas yang dinamakan penafsiran tersebut hingga kini selalu dilakukan.

Khususnya dalam rangka merespons segala tantangan zaman modern yang sama sekali belum muncul saat Alquran pertama kali diturunkan, para mufasir berusaha menemukan metode terbaik agar nilai-nilai Alquran tetap bisa diaplikasikan dalam kehidupan.

Salah satu dari sekian banyak mufasir kontemporer yang melakukan ijtihad tersebut adalah Muḥammad Syaḥrūr, seorang insinyur teknik yang mendalami ilmu linguistik dan melahirkan karya besar nan kontroversial di bidang Alquran, Al-Kitāb wa al-Qur’ān: Qirā’ah Mu’āṣirah

Dalam melakukan tinjauannya terhadap ayat-ayat Alquran, metode yang digunakan Shahrur adalah metode intratekstualitas, yang menggabungkan, membandingkan, dan melakukan analisis atas ayat-ayat yang memiliki tema yang sama. 

Pendekatan ini memiliki legitimasi khusus, yaitu QS. al-Muzzammil [73]: 4 yang menyebut kata tartīl. Berbeda dengan pengertiannya dalam ilmu tajwid, tartīl ala Syaḥrūr adalah mengambil beberapa ayat tentang suatu topik tertentu kemudian penjelasannya diurutkan satu sama lain.

Setelah digunakan metode intratekstualitas, ayat-ayat yang telah dikumpulkan tersebut kemudian dikaji dengan analisis paradigmo-sintagmatis, yang berusaha untuk mengungkap makna objektif teks. 

Analisis paradigmatis digunakan untuk meninjau suatu konsep tertentu dalam posisinya di tengah sekian banyak konsep lain, sementara analisis sintagmatis berperan dalam menelusuri pengaruh sekitar suatu kata yang posisinya linear terhadap makna kata itu sendiri. 

Pola analisis ini, bersama dengan metode intratekstualitas, terlihat dalam beragam gagasannya, salah satunya yang sedang diketengahkan dalam tulisan ini, yaitu mengenai kebebasan dalam beragama.

Dalam menjelaskan gagasannya mengenai kebebasan dalam beragama, Syaḥrūr begitu mengetengahkan aspek-aspek kemanusiaan, sehingga dapat dikatakan bahwa sudut pandang atau pandangan dunia yang digunakannya adalah nilai-nilai humanis. 

Penjelasannya mengenai pemaksaan (ikrāh) dimulai dengan mengonsep bagaimana sebenarnya Alquran mendeskripsikan kata itu sendiri, salah satunya dengan membandingkannya dengan konsep taat (ṭā’ah). 

Menurutnya, taat dapat dipahami sebagai ketundukan atas sesuatu dengan didasari oleh segala kesadaran dan tanggung jawab. Hal ini merupakan implikasi dari QS. Āli ‘Imrān [3]: 32 dan 132, yang mengajarkan adanya penyerahan diri secara sukarela. 

Dari konsep taat tersebut, dipahamilah kata ikrāh, yaitu sebuah keadaan yang tidak disertai rida dan cinta. Dari sini, pemaksaan dapat dipahami sebagai perbuatan, perilaku, atau ucapan yang dilakukan tanpa rida atau kehendak seseorang yang bersangkutan. 

Pemaksaan seperti ini kerap dipraktikkan seseorang kepada orang lain. Ia mengemukakan beberapa ayat yang menyuarakan adanya pemaksaan terhadap seseorang, yaitu QS. al-Taubah [9]: 53, QS. Ṭāhā [20]: 73, QS. al-Naḥl [16]: 106, QS. Yūnus [10]: 99, QS. al-Baqarah [2]: 256.

Ayat-ayat tersebut menunjukkan adanya pemaksaan yang tidak dapat dan dapat diterima. Yang disebutkan kedua misalnya terdapat dalam QS. al-Taubah [9]: 53, sementara yang pertama contohnya adalah pemaksaan dalam agama, seperti yang terdapat dalam QS. al-Naḥl [16]: 106.

Menurutnya, Allah meninggalkan sepenuhnya kebebasan beragama pada manusia, tanpa adanya pemaksaan. Legitimasi dari hal ini terdapat pada QS. Yūnus [10]: 99, bahwa Dia menegur Nabi dalam ayat أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ. 

Hal itu karena Nabi menginginkan semua orang mengikuti kepercayaannya. Menurut Syaḥrūr, hal ini tidak mungkin, karena cakupan kebebasan beragama terbuka bagi siapa pun, dan setiap orang berhak mengikuti kepercayaan agama yang ia kehendaki.

Oleh karenanya, ayat ini menegaskan bahwa kebebasan beragama diperkenankan bagi setiap orang. Dalam QS. al-Ḥajj, Allah juga berfirman bahwa pemujaan kepada-Nya disenangi, selama terdapat Iman kepada-Nya dan amal saleh yg melahirkan adanya kedekatan.

Nama Allah disebut di gereja, masjid, dan tempat-tempat ibadah agama lainnya. Kepercayaan apapun tidak berhak memaksa salah seorang dari agama lainnya untuk mengikutinya. Bahkan, Islam luwes bagi seluruh pengikut kepercayaan itu.

Bagi Syaḥrūr, hal tersebut merupakan sikap toleransi yang paling tinggi, sementara pemaksaan dalam agama selalu ditolak secara penuh tanpa adanya perdebatan, dan hal inilah yang seharusnya dijadikan pegangan. 

Lebih jauh, bahkan seluruh redaksi ayat yang mengandung ungkapan perintah dan larangan dalam sesuatu yang berhubungan dengan nilai kemanusiaan muncul sebagai ungkapan yang tidak mengandung makna paksaan.

Islam, menurut Syaḥrūr, berarti keimanan kepada Allah dan hari akhir dari tingkatan akidah, dan dalam hal ini tidak ada paksaan apapun; begitu pula hal yang berkaitan dengan amal saleh yg bersesuaian dengan nilai-nilai kemanusiaan. 

Di dalamnya tidak terdapat paksaan apapun, baik berupa hal-hal yang diharamkan maupun yang berhubungan dengan perintah dan larangan. Bagi Syaḥrūr, ajaran agama secara lebih luas dalam aspek lainnya pun bersifat fleksibel, sehingga tidak mengandung pemaksaan.