Ungkapan "bagi link dong" di jagat maya sudah merupakan hal yang sangat lumrah. Saking lumrahnya, itu bisa menjadi sebab musabab mengapa konsumsi personal berdampak pada keputusan-keputusan beberapa orang. Apalagi bagi mereka yang belum memiliki pasangan. 

Terlalu banyak mengonsumsi hal yang seperti ini mengakibatkan cara kita berpikir. Jadi bukan hanya sekadar "aku berpikir maka aku ada", melainkan "bagi link maka aku ada".

Dalam suatu kasus yang penulis alami sewaktu berada di ruang publik, penulis menemukan seseorang yang menarik. Di sini dia seorang pekerja maya, sebut saja sobat B. 

Dari segi penampilan sobat B sangatlah alim. Namun, di sisi lain, dampak dari pekerja maya yaitu tidak lepas dari layar kaca baik laptop maupun handphone. Dia bisa dikatakan salah satu konsumen konten dewasa terbanyak. Bisa dikatakan persoalan status itu adalah hal sensitif.

Namun, sebagai teman, there is nothing personal. Usianya bisa dikatakan sudah memasuki "waktu nikah" untuk "standar" lingkungannya.

Selain konsumen konten dewasa, dia juga merupakan penggemar K-Pop "garis besar". Mengapa garis besar? Karena dia mengetahui bahkan seluk-beluk kehidupan sehari-hari seseorang artis k-pop melalui variety shows

Baca Juga: Virus K-Pop

Bagi kita, apakah status single dengan usia seperti itu aneh atau tidak? Ini mungkin kembali lagi pada standar tercipta di lingkungan tertentu.

Namun, mengapa masih menyandang status single?

Dalam buku Heidegger, Being and Time, menggambarkan "makhluk (being) bukanlah sesuatu seperti makhluk." Bukankah ungkapan itu aneh, A tapi bukanlah A? 

Heidegger di sini bermaksud bahwa yang menentukan makhluk sebagai makhluk adalah makhluk yang sudah dipahami. Jadi di sini ada semacam dualitas. Bisa saja sobat B menyukai seorang gadis tapi bukan gadis. Dalam artian, dia menyukai gadis yang dia sudah pahami. Dalam bahasa Lacan, yang Imajiner.

Yang imajiner di sini kita bisa temui melalui tahapan cermin. Di mana kita melihat seorang gadis tapi tergantung pantulan cermin yang ada di hadapan kita. Itulah yang membuat dualitas, “makhluk bukanlah sesuatu seperti makhluk.” 

Untuk kasus sobat B, bisa jadi karena yang imajiner ini membuat dia kesulitan untuk mencari pasangan.

Di lain kasus, sebut saja sobat K. Sobat K sangat doyan dengan “gadis SMA”. Ini dikarenakan konsumsi berlebihan dari k-pop yang ia selalu tonton. Bahkan, dia memiliki video musik yang beresolusi tinggi, 4K. Ya, ini sudah dapat dipastikan bahwa jodoh bukan berada di tangan Tuhan, tapi apa yang kita konsumsi.

Hal yang menarik penulis temui ketika mereka mengomsumsi secara berlebihan, yaitu bagaimana media perusahaan sangat berpengaruh besar. Dalam hal ini, kita bisa bercermin dalam karya Marx, das capital. 

Di dalam buku tersebut, bagaimana perusahaan menciptakan nilai universalitas, yaitu melalui standar konsumsi yang mereka ciptakan. Dan ini harus berkelanjutan terus-menerus. Jadi, nilai universalitas itu dibentuk oleh standar atau ciri khas suatu komoditas.

Ini merupakan ujian sangat besar bagi para pemilik modal. Sebagai contoh, perusahaan hiburan dalam dunia perfilman, Disney. Disney bisa dikatakan memiliki ciri khas tertentu. Bagaimana Disney sangat berusaha untuk menjadikan semua film layak ditonton untuk semua kalangan, terutama untuk anak-anak. 

Bahkan Disney sudah memiliki studio komik terbesar di dunia, Marvel. Namun, bukannya hal ini sangat aneh, menjadikan sesuatu yang sebegitu spesifik pada sebuah bentuk yang universal (?).

Itulah sebabnya mengapa perusahaan yang memiliki girlband k-pop memiliki channel di Youtube. Jadi bukan hanya sekadar video musik saja, tapi juga keseharian mereka. Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang universalitas, yang gadis tapi bukan yang gadis. 

Lagi-lagi, hal ini merupakan sesuatu keganjilan yang sangat besar, apakah sobat K dan B dipaksakan menerima nilai universal ini? Dan dengan begitu, mereka pun sulit untuk mencari pasangan?

Hal yang terabaikan di sini tidaklah sedikit. Konten dewasa memaksakan kita agar memilih pasangan yang memiliki tubuh indah sedangkan begitu banyak wanita yang tak memiliki tubuh yang “indah”. 

Begitu juga dengan k-pop, wajah yang cantik tidak selamanya cantik, ada yang juga sebaliknya. Dan itu yang terabaikan. Bukan hanya itu, cinta pun terkesan sangat fisik saja, tubuh dan wajah semata. Kita tak mencari lagi esensi cinta.

Dalam tahapan cermin Lacan, setelah yang Imajiner, kita akan melihat bagaimana yang imajiner ini menjadi yang Simbolik. Di sinilah mungkin sebuah proses Bahasa pada umumnya. 

Namun, di tahapan terakhir dari cermin, yaitu yang Real. Yang Real atau yang nyata merupakan sesuatu yang tak bisa diartikan. Di sinilah kita harus menghadapi kenyataan. Marilah kita menutup tulisan ini dengan kutipan Filsuf Berjalan,

“Pacar yang tragis ialah pacar yang mengakui bahwa ia memilih pasangan bukan berdasarkan atas totonan dia atas iklan sabun di televisi dan juga dari video-video dewasa yang telah dia tonton. Apakah ini penyebabnya mengapa banyak jumlah kaum jomblo di muka bumi ini?"