Dunia twitter diramaikan dengan kemenangan Partai Korservatif pada General Election 2019 di Inggris. Partai Konservatif yang mengusung Boris Johnson sebagai calon Perdana Menteri Inggris akhirnya mengalahkan Partai Buruh yang dipimpin oleh Jeremy Corbyn. Kedua kandidat ini merupakan kandidat terkuat dalam General Election 2019.

Jeremy Corbyn merupakan kandidat yang paling progresif dibandingkan kandidat-kandidat lain. Pada General Election 2019 ini, Jeremy Corbyn dengan slogannya It's Time For Real Change menawarkan manifesto miliknya, yaitu Internet gratis, Membangun total 150.000 fasilitas publik dan rumah sosial, serta Menggratiskan pendidikan tinggi selama 6 tahun. Sungguh manifesto yang sangat progresif.

Jeremy Corbyn menyatakan bahwa pembiayaan atas manifesto tersebut akan didapatkan dari kenaikan pajak untuk para top earner, yaitu mereka yang berpenghasilan di atas £80,000 per tahun, yaitu 5% dari populasi yang mana 95%-nya (penghasilan di bawah £80,000) tidak akan terkena dampak oleh kebijakan kenaikan pajak tersebut.

Tidak hanya itu, Corbyn dengan tegas akan meningkatkan pajak bagi korporasi seperti perusahaan gas dan minyak bumi serta mendukung kebijakan hijau. Pajak tersebut akan diinvestasikan kepada teknologi "hijau", yaitu teknologi yang ramah lingkungan serta sustainable. Tujuannya adalah untuk mencapai carbon net zero pada tahun 2030 serta menciptakan lapangan pekerjaan dengan teknologi hijau. Maka dari itu, Corbyn pantas disebut kandidat yang sangat progresif atas manifestonya tersebut.

Berbeda dengan Corbyn, Boris Johnson pemenang General Election 2019 justru disampaikan telah menyebarkan kampanye bohong serta disinformasi yang menyerang kandidat lain. Boris Johnson diduga telah menjual National Health Service (NHS) kepada Amerika Serikat yang dipimpin oleh Donald Trump. Boris memberikan kesepakatan dengan Trump dengan memberikan full market access pada NHS, seperti mengatur harga obat yang ada di Inggris.

Amerika Serikat merupakan negara dengan harga obat yang sangat tinggi karena kebijakannya yang membiarkan terjadinya monopoli obat di Amerika Serikat. Harusnya hal tersebut menjadi isu yang serius warga Inggris. Apalagi Boris akan mempercepat Brexit, yaitu keluarnya Inggris dari Uni Eropa dengan slogannya Get Brexit Done, sehingga kemungkinan besar Inggris akan makin dekat dengan Amerika Serikat karena Trump juga mendukung Boris dan kandidat dari Partai Brexit yaitu Nigel Farage.

Ketiga orang tersebut adalah kelompok sayap kanan yang juga dikenal rasis oleh masyarakat serta memiliki kesamaan pandangan pada isu imigrasi. Lalu bagaimana kelompok orang-orang seperti ini bisa menang?

Yang Tua Lawan yang Muda

Faktor demografi merupakan salah satu faktor yang sering dibahas sebagai pemecah politik.

Menurut sebuah perusahaan riset YouGov, usia merupakan pembagi pilihan politik yang jelas dalam kontestasi politik di Inggris di mana Partai Konservatif mendapatkan poll terbaik pada usia 70 tahun ke atas sebanyak 58% dibandingkan pada usia 18-24 tahun yang hanya 16%. Sedangkan pada Partai Buruh, trennya justru kebalikannya. Usia muda memiliki kecenderungan untuk memilih Partai Buruh dan usia tua memiliki kecenderungan untuk memilih Partai Konservatif.

Jika dikategorikan menurut pendidikan, orang yang berpendidikan tinggi lebih banyak memilih Partai Buruh dibandingkan Partai Konservatif dan sebaliknya terjadi pada kelompok pendidikan rendah. Terakhir, tidak ada perbedaan yang signifikan pada pilihan politik menurut gendernya. 

Hasil survey Lord Ashcroft tentang General Election 2019 semakin menjelaskan bahwa konflik antar-usia ini makin jelas.

Jika dilihat pada kelompok usia pada hasil survey Lord Ashcroft, dapat dilihat secara jelas bahwa usia merupakan pemecah pilihan politik yang terjadi pada General Election 2019 di Inggris.

Partai Buruh mendapatkan lebih dari setengah total voting pada kelompok usia 18-24 tahun (57%) dan 25-34 tahun (55%), dengan Partai Konservatif berada posisi kedua. Kemudian, Partai Konservatif mendapatkan suara terbanyak pada kelompok usia 45-54 tahun (dengan 43%), 55-64 tahun (dengan 49%) dan sangat mendominasi pada usia 65 tahun lebih (62%).

Berdasarkan data di atas, usia menjadi masalah utama terjadinya kemenangan atas kandidat yang berangkat dengan kampanye bohong, disinformasi bahkan rasisme dan xenophobia. Tidak hanya itu, Jeremy Corbyn dan Partai Buruh yang sangat pro dengan kebijakan hijau dibandingkan yang lain kalah karena hal tersebut. 

Manifesto "harapan" milik Corbyn ternyata tidak bisa memikat para generasi usia 45 tahun ke atas atau biasa digolongkan sebagai generasi baby boomer. Generasi baby boomer adalah generasi yang lahir pada tahun 1946-1965.

Manifesto milik Corbyn memang ditujukan untuk menjaga keberlangsungan kebutuhan bagi para anak muda serta berjuang untuk kepentingan orang banyak. Tentu kelompok yang paham atas keberlangsungan itu adalah kelompok yang berpendidikan tinggi, di mana climate change merupakan suatu isu yang harus segera di-tackle serta kesenjangan sosial yang belum bisa diselesaikan.

Kelompok yang berpendidikan tinggi juga lebih percaya dengan Partai Buruh dan Corbyn untuk mengurus NHS dibanding Partai Konservatif dan Boris yang jelas-jelas menjual NHS kepada Trump. Sayangnya, General Election 2019 dimenangkan oleh Partai Konservatif-partai sayap kanan yang justru tidak memberikan hak pendidikan tinggi, tidak berjuang untuk keadilan sosial, dan tidak peduli dengan isu lingkungan seperti climate change. 

Kebangkitan partai sayap kanan merupakan arus yang berbahaya dari Barat. Indonesia yang mayoritas sudah berasal dari pemikiran konservatif, dengan ditambah arus partai sayap kanan dari Barat, ini akan membuat kelompok konservatif atau sayap kanan makin tak terhentikan.

Maka dari itu, sudah saatnya bagi pemuda-pemuda yang progresif untuk makin giat dalam melakukan kegiatan aktivisme progresif untuk menghadang arus tersebut. Tidak masalah jika yang kalian lakukan hanya sebatas di internet atau twitter, baik dengan menyadarkan teman-teman kita atau hanya cukup share kegiatan atau tulisan-tulisan hasil dari aktivisme progresif.

Tapi jangan lupa, aktivisme di lapangan secara langsung dan menjangkau grassroot juga hal yang penting. Bagaimana kita bisa menyampaikan keadilan bagi para kaum minoritas dan kaum yang tertindas kalau tidak bertemu mereka secara langsung? 

Selanjutnya, jangan pernah memberi "platform" bagi mereka-mereka, orang sayap kanan. Jika bertemu dengan para boomer yang "ngeyel" dan kalian malas untuk menjelaskannya kembali, cukup bilang saja "OK boomer".