17 Maret 1900, etnis Tionghoa mendirikan suatu wadah yang bernama Tiong Hoa Hwee Kwam (THHK), sebuah wadah etnis Tionghoa pertama di Hindia Belanda yang bertujuan untuk mengembangkan kualitas bangsanya.

Melihat adanya gejolak perubahan dari etnis Tionghoa tersebut, muncullah segelintir pribumi Jawa yang masih berkenan untuk memperhatikan nasib dan masa depan bangsanya.

Setelah melakukan berbagai pertemuan dan menjalin sebuah kesepakatan bersama, hingga pada 20 Mei 1908, sekumpulan pribumi Jawa yang mulai sadar akan kebesaran jati diri bangsanya kemudian sepakat untuk membuat sebuah wadah yang dapat menampung beragam gagasan brilian dalam mengentaskan keterbelakangan kaum pribumi.

Berdirilah Boedi Oetomo (BO) yang diprakarsai oleh Wahidin Soedirohoesodo, lulusan dari STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera yang menyadarkan putra-putri bangsa bahwa kebesaran serta kemuliaan harus tercapai. Bersama rekan-rekan dari STOVIA, mereka memfokuskan untuk memperjuangkan tujuan-tujuan tersebut. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan menjadi sepak terjang BO.

Itulah sekilas opening dalam tulisan kali ini, di mana pada intinya 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bagaimana makna sebenarnya dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini? Apakah semata-mata mengingat-ingat berdirinya Boedi Oetomo saja?

Kita tahu bahwa BO didirikan karena menyesuaikan trend yang saat itu marak akan berbagai organisasi yang mewadahi gagasan-gagasan serta solusi penyelesaian dalam menghadapi tantangan zaman. Sedangkan saat ini, di tahun 2020, kita mengenal akan Generasi Alfa. Siapakah Generasi Alfa?

Tertulis dalam matranews.id menyebutkan bahwa analis sosial-cum-demograf Mark McCrindle dari grup peneliti McCrindle adalah orang pertama yang membuka topik ini: tentang nama generasi yang lahir di abad 21. Menurut McCrindle, Generasi Alfa—yakni anak-anak dari Generasi Milenial—akan menjadi generasi paling banyak di antara yang pernah ada.

Generasi Alfa kini dikenal sebagai generasi paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Ukurannya adalah umur mereka yang masih sangat dini, tetapi dapat memengaruhi putaran ekonomi dunia. Mereka adalah kaum terdidik, lebih terdidik daripada Generasi Z, lebih akrab dengan teknologi, dan jadi generasi paling sejahtera.

Lalu tantangan apa yang dihadapi oleh Generasi Alfa ini? Salah satunya yaitu dolarisasi. Ya, dolarisasi adalah adopsi dolar AS sebagai mata uang dan satuan hitung sebuah negara selain Amerika Serikat. Sebelum jauh mengarah ke dolarisasi, alangkah baiknya kita mengetahui seluk beluk munculnya dolarisasi ini.

Pada tahun 1944, 700 perwakilan dari 44 negara yang berkumpul di Mount Washington Hotel menyepakati mata uang dunia adalah Dollar Amerika. Di mana saat itu Amerika yang menguasai sebagian besar emas dunia, sepakat bahwa emas dikonversi ke dollar dengan rate 35$/ounce emas, dan nilai mata uang negara lainnya disesuaikan ke dollar.

Kemudian seiring berjalannya waktu ketika dunia sudah menggunakan dollar sebagai alat tukar, Amerika mengeluarkan kebijakan bahwa tidak perlu emas untuk mencetak dollar mereka. Dollar dicetak berdasarkan keputusan pemerintah. Padahal negara lainnya hanya bisa mencetak uang jika memiliki jaminan emas atau dollar.

Dolarisasi inilah yang menjadi tantangan Generasi Alfa, karena pada awal kemunculan dolarisasi seolah-olah merupakan obat penawar dari racun yang menjalar bagi perekonomian negara. Sehingga generasi-generasi sebelum Alfa belum cukup untuk menengadahkan “kepala”-nya dan belum menyadari adanya ancaman yang sedang menunggu.

Tetapi kita tahu sekarang, perlahan-lahan dollar Amerika layaknya pil pahit yang lambat laun menggerogoti perekonomian negara. Setelah mengetahui adanya situasi yang membahayakan bagi keberlangsungan bangsa dan negara, lalu apa langkah yang tepat untuk diambil? Ya melawan dong...

Melawan di sini bukan berarti adu otot atau tembak-tembakan yee. Melawan di sini artinya berani bangkit dan melakukan perubahan bagi diri dan bangsanya. Seperti BO yang mengikuti trend saat itu, kita juga harus mengikuti trend yang kini sedang marak dikenal sebagai Dedolarisasi. Apa itu?

Dedolarisasi adalah langkah penggantian Dollar Amerika Serikat (USD) sebagai standar nilai tukar mata uang (Currency Valuation).

Gerakan Dedolarisasi ini sudah sejak lama dipraktikan oleh negara-negara Eropa yang memilih menggunakan mata uang euro daripada dollar Amerika. Dengan penggunaan euro di sebagian Eropa itu membuat ketergantungan akan dolar sedikit berkurang. Minimal untuk perdagangan di dalam Eropa.

Untuk mengikuti arus yang sedang mengalir, negara-negara Islam seperti Malaysia dan Iran juga berperan dalam melawan dolarisasi dengan konsep yang sering didengungkan adalah penggunaan satu mata uang yang dicetak berdasarkan kepemilikan emas, dan mata uang itu dipakai oleh beberapa negara muslim.

Melihat adanya trend dedolarisasi tersebut, Indonesia juga tidak diam begitu saja. Masih banyak segelintir orang yang dengan lantang menyuarakan perlawanan dolarisasi tersebut. Salah satu yang berani melawan dolarisasi di Indonesia adalah Bossman Sontoloyo.

Melalui Bossman atau Mardigu Wowiek, ia mencanangkan ide-idenya untuk melawan dolarisasi dalam sebuah aplikasi online bernama Dinaran. Anda bisa melihatnya melalui Dinaran.id (ini bukan promosi yee).

Terakhir, setidaknya melalui tulisan inilah diharapkan menjadi titik awal kesadaran bagi para Generasi Millenial maupun Generasi Alfa khususnya bagi para pembaca yang budiman akan pentingnya belajar secara maksimal mengenai pintar dalam bernegara, memahami geopolitik, dan geoekonomi. Anda setuju?

Selamat Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2020. Tabik.