Hari ini diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Hari dimana kita memperingati berdirinya organisasi modern pribumi bernama Boedi Oetomo (BO). Cikal bakal pergerakan menuju kemerdekaan dan sekagus pengantar bangsa Indonesia ke era baru model perlawanan terhadap penjajah.

Kali ini saya tidak akan bicara ihwal atau sejarah hari kebangkitan nasional. Tidak ada pembahasan terkait Perhimpunan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) yang didirikan di Hindia Belanda pada tahun 1900 untuk menyokong kemerdekaan Indonesia. Atau merinci semangat berdirinya Jumiat ul-Khair (1905) oleh bangsawan Arab Betawi karena terpengaruh dengan THHK. Tidak juga menyoal kenapa BO lebih terkenal dibanding Sarikat Prijaji (SP) besutan Tirto Adhi Soerjo. Padahal jika berbicara organisasi modern pertama, SP berdiri 1906. Dua tahun sebelum BO berdiri.

Bukan. Bukan hal diatas yang akan saya bahas. Salah satu sebab, karena pembahasan tersebut sudah bisa kita dapatkan dari berbagai sumber. Diantaranya dari buku Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo; Pers Pergerakan dan Kebangsaan (I:BOEKOE, 2008). Jika penasaran, sila hubungi Jualbukusastra JBS Indrian (selama persediaan masih ada), atau menghubungi Muhidin M Dahlan. Bisa via media social atau jalur pribadi. Fix ini iklan!

Di peringatan hari ini, saya akan mengulas indikasi pemerkosaan dan perdagangan manusia pada remaja 15 tahun yang terungkap sebulan silam. Tepat di minggu pertama bulan Ramadhan. Modusnya dengan menjalin hubungan, atau biasa disebut dengan pacaran.  Setelah enam bulan pacaran, pelaku kemudian menjajakan si remaja via daring. Tidak berhenti sampai disitu, dalam sehari si remaja dipaksa untuk melayani 4-5 pria.

Persoalannya sekarang, hingga saat ini pihak kepolisian belum melakukan pemeriksaan, padahal sudah sebulan lebih kasus ini masuk di meja pelaporan. Sebagai tambahan informasi, nomor registrasi pengaduannya : LP/971/J/2021/SPKT/RESORT Bekasi Kota. Untuk melengkapi, keluarga pelaku pernah menghubungi keluarga korban untuk menempuh jalur damai. Eits, tidak semudah itu Ferguso! Laiknya pribahasa “habis manis sepah dibuang”.  Bahkan sepah-nya pun hendak kau musnahkan hingga tidak berjejak. Kau kejam Ferguso!

Nama pelaku adalah Amri Tanjung. Sekali lagi saya ulang, namanya AMRI TANJUNG! Umur pelaku 21 tahun. Dia adalah anak dari Ibnu Hajar Tanjung, anggota DPRD Bekasi 2019-2024 dari partai GERINDRA. Hingga saat ini, pelaku masih belum beralis status. Kondisi korban tidak kalah menyedihkan. Belum pulih dari trauma kekerasan psikis dan fisik yang dialami saat bersama Amri Tanjung (21 tahun), si anak remaja ini mengidap penyakit kelamin akibat hubungan kelamin tanpa pengaman yang sering gontai-ganti pasangan.

Inilah permasalahannya. Coba bandingkan dengan kasus pemerkosaan dan perampokan yang heboh saat dua hari paska lebaran. Hanya butuh tiga hari, polisi sudah bisa menangkap tiga orang pelaku. Apakah karena pelakunya berprofesi sebagai tukang parkir dan mantan residivis? Bagi saya ini sungguh menggelikan. Bagaimana tidak? kasus pemerkosaan dan perampokan diatas terjadi pada tanggal 15 Mei. Hanya butuh dua hari, dua dari tiga pelaku sudah berhasil diamankan. Pelaku ketiga berhasil diciduk pada keesokan harinya (19/05). Bahkan untuk menemukan tiga pelaku pihak berwajib hanya membutuhkan waktu tiga hari. Kenapa satu orang pelaku dengan indikasi pemerkosaan dan perdagangan manusia, sudah sebulan belum ada perkembangan?

Saya pikir inilah momentum tepat untuk kembali menggelorakan semangat Tirto Adho Soerjo, dr. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji dalam membebaskan bangsa ini dari segala bentuk keterkungkungan dan penjajahan. Termasuk oleh bangsa sendiri. Jika orang seperti AMRI TANJUNG masih bebas berkeliaran di sekitar kita dan pihak berwajib sudah sebulan belum menunjukkan perkembangan terhadap kasus ini, orang-orang terdekat kita sedang terancam. Bayangkan jika korbannya adalah anak, adik, atau kerabat kita.

Apakah kita tega melihat, mendengar, dan mengetahui korban terjebak dalam kondisi yang sangat memprihatinkan?

Kasus ini sudah kembali menjadi viral di media sosial berlogo burung biru kemarin. Saatnya kita bersama bantu sebarkan informasi ini melalui media ini. Tujuannya satu. Orang-orang seperti AMRI TANJUNG tidak lagi menggunakan kekuasaan bapaknya untuk meluluhlantakkan hukum di Republik ini. Jika kasus ini hanya berhenti pada materai 10.000, bisa jadi besok lusa anak, adik, atau kerabat kita akan bernasib sama.

Tulisan diatas sudah saya unggah lewat akun media social saya pribadi. Lewat media seperti Qureta, harapan saya, kasus ini akan kembali bergulir. Sekali lagi, tujuannya agar orang-orang seperti AMRI TANJUNG tidak dengan sewenang-wenang melakukan praktik keliru. Apalagi sampai mendobrak semua tatanan kemasyarakatan di Republik ini. Jangan mentang-mentang adalah anak seorang pejabat, semua tindak-tanduknya menjadi tidak terlihat di depan hukum. Apa yang menimpa remaja berumur 15 tahun ini adalah sebagian kecil yang terjadi di sekitar kita. Artinya, semakin besar peluang akan muncul AMRI TANJUNG-AMRI TANJUNG lain jika ini tidak di proses.

Tabik,