Sebelum datangnya Islam, sastra di Arab Saudi sebenarnya telah berkembang jauh sebelum didirikannya kerajaan Arab Saudi. Pada masa itu karya sastra telah menjadi refleksi bagi seluruh kehidupan bangsa Arab.

Karena dalam karya sastra, tergambar jelas kondisi kehidupan bangsa Arab baik yang terkait dengan kondisi geografis, adat istiadat, sistem, ekonomi, dan macam-macam kepercayaan.

Menurut Dr. Omar Al-Tayeb As-Sasi, sastra di Arab Saudi merupakan sastra modern dan kontemporer yang berasal serta tumbuh di jantung semenanjung Arab di bawah pemerintahan langsung di Arab Saudi atau selama seruan untuk tauhid.

Sedangkan menurut Dr. Muhammad Al-Eid Al-Khatrawi, sastra di Arab Saudi berarti semua ciptaan intelektual, budaya, dan sastra murni yang dirumuskan oleh orang-orang yang telah menetap di Arab Saudi serta mengalami sejarah politik kerajaan Arab Saudi yang dimulai dari tahun 1157 H hingga saat ini.

Sastra di Arab Saudi hanya dibatasi pada tahapan dan perkembangannya saja yang telah berlangsung semenjak berdirinya kerajaan di Arab Saudi pada tahun 1932 M dan berlanjut sampai saat ini.

Perkembangan sastra di Arab Saudi pada zaman modern yaitu berupa puisi dan prosa. Hal itu mencakup karya sastra yang ditulis oleh orang-orang yang tinggal kerajaan dan sastrawan Arab Saudi yang berada di luar negeri.

Tiga Faktor yang Melatarbelakangi Kebangkitan Sastra di Arab Saudi

1. Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu faktor kebangkitan sastra di Arab Saudi, contoh yang paling sederhana yaitu upaya pemerintah untuk mengenalkan dan mengajarkan sastra di berbagai jenjang pendidikan seperti masjid, sekolah, dan universitas yang kemudian semakin berkembang dalam berbagai penelitian ilmiah.

2. Pers, Majalah, dan Klub sastra

Di Arab Saudi sendiri semakin berkembang lembaga-lembaga jurnalistik yang memiliki keanekaragaman dalam menyajikan sastra. Beberapa surat kabar yang memfokuskan pemberitaannya terkait sastra diantaranya; surat kabar Umm al-Qura di Mekah, surat kabar Shaut al-hejaz di Mekah, dan surat kabar Al-Madina Al-Munawwara di Madinah.

3. Organisasi sastra dan Klub budaya

Organisasi sastra ini menghasilkan beberapa majalah sastra seperti majalah Alaamat yang diterbitkan oleh Jeddah Literary Club, majalah Bayader  yang diterbitkan oleh Abha LiteraryClub, dan majalah Daarain  yang diterbitkan oleh As-Sharqiya Club.

Pada masa kebangkitan sastra, terdapat dua aliran puisi; yang pertama, aliran puisi tradisional murni yang diwakili oleh Ibnu Utsaimin dan aliran Tradisional Progresif inovatif yang diwakili oleh Assanusi. Secara umum corak puisi dua aliran tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut:

a) Fokus pada tema tradisional seperti pujian (madh), ratapan (ritsa), dan puisi lirik (Ghazl).

b) Banyaknya tema dalam satu kasidah.

c) Banyak menggunakan Iqtibas atau mengutip sebagian kata-kata dalam Al-Quran atau Hadis yang kemudian mereka cantumkan dalam puisi mereka.

d) Cenderung menggunakan leksikon linguistik lama untuk menunjukkan keluasan pengetahuan.

e) Menggunakan bahr yang panjang dan menggunakan satu qafiyah.

Aliran-Aliran dalam Puisi di Arab Saudi

1. Aliran Romantisme

Secara garis besar, karakteristik romantisme dalam sastra di Arab Saudi memiliki beberapa topik terpenting:

a) Deskripsi Alam

Para penyair Arab Saudi banyak dipengaruhi oleh penyair diwan dalam menggambarkan alam, sehingga mereka tidak menggambarkannya secara lahiriah, melainkan menggambarkan perasaan mereka terhadapnya dan menyiarkan kekhawatiran dan kesedihan mereka.

Contoh deskripsi romantis tentang alam adalah apa yang dikatakan penyair Abdul Aziz Al-Rifai menggambarkan kupu-kupu yang sudah diterjemahkan:

Seekor kupu-kupu mengenakan gaun musim semi dan mulai menunjukkan pengembaraannya yang nyata,

ia pergi ke sekuntum bunga, mengeluh tentang hasilnya, dan jenuh sebelumnya dari mulutnya yang berseru.

b) Ungkapan Penderitaan, Kerinduan, dan Perasaan Keterasingan Sementara

Ini dianggap sebagai salah satu sikap negatif kaum romantik pada umumnya, karena mereka tidak dapat melarikan diri dari kenyataan ke imajinasi dan ingatan di antara para romantik untuk menghadapi kenyataan, sehingga mereka hanya terbelenggu imajinasi dan ingatan. Seperti puisi ungkapan penderitaan oleh penyair Al-Fiqy yang sudah diterjemahkan:

Wahai jiwa , aku telah dirundung oleh kesepian,

Sebagaimana aku telah dirundung oleh kelemahan-kelemahanku,

Dan aku telah dibingungkan oleh kepastian,

Sehingga aku ragu, dan delusiku telag bertambah dalam kebingunganku.

c) Menyanyikan Cinta dalam Puisi

Cinta untuk romantika memiliki arti luas yang mencakup cinta ilahi, cinta alam, dan cinta perilaku dan formal manusia. Seperti puisi Abdullah Faisal yang sudah diterjemahkan:

Aku hampir meragukan diriku sendiri karena, Aku hampir meragukanmu sedangkan dirimu berasal dariku.

Orang-orang mengatakan bahwa kau mengkhianati perjanjianku, dan kau tak menjaga gairahku dan tidak membenciku.

Semua orang telah membohongi hatiku tentangmu, dan semua orang memperdengarkan berita tentangmu kepadaku. 

d) Romantisme Cinta Tanah Air

Banyak romantisme menyanyikan cinta tanah air, dan ini adalah sentimen yang mulia, dan makna ini berlimpah di antara penyair imigran Amerika. Penyair Ibrahim Al-Ghalali mengatakan:

Negaraku adalah bagian dari diriku dan diriku adalah bagian darinya.

Di dalamnya simbol nenek moyang saya dan kejayaan saya berasal darinya.

2. Aliran Realisme

Simbolisme berarti ekspresi tidak langsung dari pikiran dan emosi, di mana penyair memilih simbol dari alam (pohon, batu atau sungai) dan kemudian menceritakan tentang cerita simbolis yang ia warnai dengan perasaan, emosi, dan pikirannya.

Aliran realism (al-Madrasah al-waqi’iyyah) merupakan aliran yang berusaha melukiskan suatu objek seperti apa adanya (realistis), bukan sebagaimana seharusnya.  Realisme dalam sastra berarti memperhatikan realitas, mengkritik kehidupan dan mengungkap kejahatan, rasa sakit, dan harapannya.

Realisme menyangkal subjektivitas yang dibesar-besarkan oleh kaum romantisme, karena menolak untuk terbang dalam imajinasi, kecemasan, dan pesimisme. Dampak realisme terlihat jelas dalam literatur Arab Saudi setelah perang dunia kedua 1949 M dan setelah perang 1967 M.

Topik-topik penting dalam puisi realism Sajudi berisi tentang seruan untuk kemajuan masyarakat dan seruan untuk penyebaran proyek-proyek pendidikan dan pembangunan, dorongan dan pemuliaan pekerjaan, perhatian pada masalah keluarga dan perempuan seperti pernikahan dan perceraian, dan perhatian pada kelas lemah. 

Selain itu, masalah yang paling penting dari puisi realis berisi tentang menjelaskan rasa sakit dan masalah masyarakat, seruan untuk mengubah sistem yang korup di masyarakat, dan penghapusan eksploitasi manusia terhadap orang lain.

Seperti puisi Abdul Quddus Al-Anshari yang sudah diterjemahkan, ketika memuji petani sebagai pemakmur tanah.

Tidak ada dalam kehidupan manusia kehidupan yang lebih tenang dan lebih bahagia.

Dan hidup begitu harum sehingga pohon-pohon tumbuh dengan cahaya dibanding pembajak yang membajak ladangnya.

Ia makan dari jerih payah (keringat) dahinya, lalu angina sepoi-sepoi harum memberinya kesegaran.

3. Aliran Simbolisme

Simbolisme berarti ekspresi tidak langsung dari pikiran dan emosi, di mana penyair memilih simbol dari alam (pohon, batu atau sungai) dan kemudian menceritakan tentang cerita simbolis yang diwarnai dengan perasaan, emosi, dan pikirannya.

Tujuan penulisan karya sastra simbolik secara umum adalah mencari kesenangan artistik yang ditemukan pembaca ketika mencapai kebenaran yang diinginkan penyair dan upaya untuk melindungi diri sendiri saat terkena masalah sensitif.

Seperti contoh puisi simbolik Taher Zamakhsyari yang sudah diterjemahkan, ketika menggambarkan wanita yang dilindungi bintang:

Wahai bintang perawanku, jangan menyesalinya

dan tersenyumlah seperti kuncup mawar.

Kau adalah langit yang tak tersentuh tangan berdosa.

Dan kau tak memiliki dosa.

4Puisi Bebas (Syi’r al-Hurr) dalam sastra di Arab Saudi

Meskipun ada yang menyebutkan bahwa puisi Arab lahir di Mesir oleh Ahmad Zakki Abu Syadi, tetapi  mayoritas ahli sastra sepakat bahwa puisi bebas Arab lahir di Irak. Mereka hanya berbeda pendapat dalam menentukan siapakah pembawanya.

Sebagian menyebut Nazik Al-Malaikah lewat qashidah Al-Kulira-nya, sebagian lagi menyebutkan Badr Syakir as-Syayib, dan sebagian lagi menyebut Naqula Fayyadh. Selain mereka, para tokoh dalam puisi jenis ini adalah para penyair mahjar atau imigran Arab seperti Mikhail Nu’aimah, Khalil Jibran, Salah abd Shabur, Ahmad  Abdul  Mu’thi, dan Muhammad Fayturi. Dalam sastra Arab mereka dikenal sebagai mazhab jadid atau aliran baru, yakni mazhab atau aliran yang terpengaruh oleh sastra Eropa terutama Inggris dan Prancis.

Menurut para peneliti, di Arab Saudi sendiri, puisi bebas pertama kali digagas oleh Hamza Shehata kemudian disusul oleh Al-Awwad. Sebagian yang lain mengatakan Al-Awwad yang memulainya. Namun, puisi bebas di Arab Saudi mengalami kematangan pada masa Ghazi Al-Qosaibi, Muhammad Amer Al-Rumaih, dan Saad Al-Bawardi. Meskipun Hassan Abdullah Al-Qurashi lebih ahli dalam jenis puisi ini.

Puisi bebas Amir Ar-Rumaih yang sudah diterjemahkan:

(Panggilan Kehidupan)

Kau melihat ada suara aneh

yang datang dari balik Kesunyian

Memanggilku, Kemarilah, kemarilah

saya bergegas dengan hati-hati dan curiga, 

Aku mencarimu di sana-sini, 

tetapi sayang sekali aku tak  menemukan apa pun 

di sana kecuali keheningan yang dalam.

Aku pun kembali menyusuri jalan bersama malam

Sendiri, ke desa mimpi.

Perkembangan Prosa dalam Sastra di Arab Saudi

1. Cerita

Cerita merupakan alur yang berfokus pada konsentrasi dan intensifikasi, sehingga menggambarkan satu situasi atau momen mendalam. Perkembangan  cerita pada sastra modern di Saudi Arabia, berikut faktor-faktor terpenting yang muncul:

a) Penyebaran dan perkembangan pendidikan dalam berbagai tahapannya setelah berdirinya negara Saudi modern, awal pertamanya sebelum itu di Hijaz dan dipengaruhi oleh budaya luar.

b) Koran dan majalah.

c) Munculnya mesin cetak dan penerbitan banyak buku.

d) Penyebaran buku-buku dan cerita-cerita terjemahan, peredaran surat kabar serta majalah Arab, dan asing di dunia.

e) Keadaan stabilitas politik dan sosial di Kerajaan.

f) Cerita yang muncul tentang kepemimpinan, seperti  cerita (Awal Al-Ghaith) oleh Ahmed Al-Sibai dan Cerita (The Miserable) oleh Hussein Arab.

2. Novel

Novel adalah eksperimen sastra prosa yang menggambarkan kehidupan sekelompok karakter yang berinteraksi bersama untuk membentuk kerangka kerja Sebuah karya fiksi, tetapi mendekati apa yang terjadi dalam kenyataan,  ini berarti bahwa kehidupan karakter dalam novel harus menjadi mungkin dalam kenyataan.

Berikut elemen terpenting dari konstruksi artistik novel adalah:

a) Karakter novel ini memiliki dua jenis karakter berkembang yang tumbuh dan berinteraksi dengan pertumbuhan novel saat mereka dalam keadaan perjuangan terus-menerus dengan dirinya sendiri dan orang lain.

b) Peristiwa, yang merupakan unsur utama dan hal terpenting di dalamnya adalah ketegangan.

c) Waktu dan tempat.

d) Narasi dan dialog.

e) Konflik.