For in the true nature of things, if we rightly consider, every green tree is far more glorious than if it we made of gold and silver, begitulah satu dari berbagai perkataan bijak yang dilontarkan oleh Marthin Luther mengenai hutan. Tidak perlu menjadi seorang hebat seperti Marthin Luther, kita semua pun telah mengetahui bahwa hutan alam jauh lebih berharga dibandingkan emas dan perak. Namun, pengetahuan itu ternyata tak cukup mampu untuk membuat manusia sadar akan seberapa pentingnya keberadaan hutan dan seberapa membahayakannya kebakaran hutan.

Kebakaran hutan memang sudah menjadi sebuah isu klasik di dalam aspek lingkungan hidup kita. Kebakaran hutan adalah suatu keadaan dimana hutan dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan pada hutan maupun hasilnya. Di Indonesia, fenomena kebakaran hutan bahkan sudah menjadi “rutinitas alam” tersendiri karena begitu seringnya peristiwa ini terjadi.

Kebakaran hutan memang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik alami maupun buatan (manusia). Namun, banyak orang menutup mata bahwa faktor utama terjadinya kebakaran hutan disebabkan oleh tangan manusia itu sendiri. Hal itu terbukti dengan begitu banyak dan seringnya kegiatan manusia yang berujung pada pembakaran hutan baik disengaja maupun tidak. Hal-hal tersebut seperti: penggunaan api dalam kegiatan persiapan lahan, pembalakan liar, perambahan hutan, dan lain sebagainya.

 Bagi kehidupan manusia, peristiwa kebakaran hutan ini membawakan begitu banyak dampak yang cenderung merugikan. Lebih lagi, dampak-dampak tersebut tidak hanya muncul di dalam satu aspek saja, melainkan di berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain: aspek lingkungan, ekonomi, kesehatan, dan sosial.

Apabila melihat melalui kacamata lingkungan, kebakaran hutan tentu memberikan beragam dampak negatif. Ketidak-seimbangan ekosistem begitu terancam dengan jelas oleh kejadian kebakaran hutan. Sebab, kebakaran hutan sangat ampuh untuk mematikan berbagai macam flora dan fauna yang masing-masing memiliki peran penting dalam rantai ekosistem. Selain itu, kematian berbagai flora dan fauna dalam jangka panjang akan menyebabkan penurunan biodiversitas.

Di sisi lain, hilangnya hutan akibat kebakaran sangat berpotensi untuk memicu terjadinya berbagai bencana alam yang akan mengancam kehidupan manusia. Banjir dan tanah longsor hanyalah dua dari berbagai bencana alam yang dapat terjadi. Namun, kedua bencana alam itu saja sudah sangat memberikan kerugian besar dalam kehidupan manusia. Hal itu dapat terjadi karena pohon-pohon di hutan yang biasa memperkokoh tanah dan menjadi daerah resapan air telah lenyap.

Kerugian dalam aspek lingkungan tak akan dapat dipisahkan dengan kerugian pada aspek ekonomi. Terutama bagi negara yang kaya akan sumber daya alam seperti Indonesia, hutan menjadi sebuah komoditas terbesar yang dimilikinya. Belum lagi dengan fakta bahwa pohon-pohon yang ada di hutan lebih mudah tumbuh di lingkungan daerah yang dimiliki oleh Indonesia. Fakta tersebut membuktikan bahwa hutan sesungguhnya begitu penting tidak hanya bagi Indonesia namun juga seluruh bumi.

Ada begitu banyak kerugian ekonomi yang dapat disebabkan oleh terjadinya kebakaran hutan. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa hutan merupakan salah satu komoditas penting, kerusakan hutan tentunya secara langsung akan menurunkan jumlah produk hutan yang dapat dimanfaatkan secara ekonomi. Selain itu, berkaitan dengan dampak-dampak lingkungan yang dapat ditimbulkannya (seperti bencana alam), tentunya akan lebih banyak kerugian ekonomis lain yang terjadi. Seperti kerusakan fasilitas umum akibat banjir dan tanah longsor yang berakar dari kebakaran hutan.

Menilik melalui sudut pandang kesehatan, kebakaran hutan juga memberikan dampak negatif  yang begitu berarti. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan tersebut sudah seringkali menjadi penyebab meningkatnya angka pengidap penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Tentunya hal tersebut tidak hanya akan menjadi masalah nasional negara terkait saja, namun juga dapat menjadi problematika tersediri bagi internasional seperti tragedi kebakaran hutan di Riau, Sumatera yang asapnya tersebar hingga Singapura.

Ditambah lagi, ancaman penyakit-penyakit lain akibat kebakaran hutan juga terus membayangi. Penyakit-penyakit mata dan kulit mulai dari iritasi ringan hingga akut juga sangat mungkin terjadi. Penyakit asma juga dapat terpicu akibat asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut. Hal ini disebabkan oleh partikel mikro asap yang masuk melalui saluran pernafasan dan menyebabkan gangguan organ pernapasan selayaknya asap rokok.

Terdapat pula Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang dapat disebabkan oleh kabut asap akibat kebakaran hutan. Hal ini terjadi karena kabut asap tersebut mampu mengurangi kinerja paru-paru. Semakin lama manusia terpajan kabut asap, akan semakin besar risiko PPOK yang ditimbulkan. Padahal, redanya kabut asap kebakaran hutan tidak bisa terjadi hanya dalam satu dua hari saja.

Selain itu, secara tidak langsung kebakaran hutan juga dapat menjadi akar dari timbulnya penyakit-penyakit kronik dan menular. Misalnya, banjir yang terjadi karena kebakaran tentunya juga memicu timbulnya penyakit-penyakit tertentu seperti diare, kolera, tifus, dan lain sebagainya.

Disamping kesehatan fisik, kebakaran hutan juga mampu berefek negatif pada kesehatan mental (sosial). Orang yang menerima langsung dampak-dampak dari kebakaran hutan tersebut tentunya juga akan mengalami stress. Entah hal tersebut karena faktor ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan. Orang-orang (korban) akan merasakan ketidak-damaian dan perasaan tidak tenang akibat terjadinya kebakaran hutan. Sebab, setiap hal yang ditimbulkan begitu merugikan kehidupannya.

Kini, kita telah mengetahui seberapa merugikannya fenomena kebakaran hutan tersebut. Sekarang, mari kita bayangkan, apabila kebakaran hutan terjadi dan itu meleyapkan seluruh sumber daya alam masyarakat setempat, darimana mereka bisa makan? Lalu, bagaimana pula dengan setiap mereka yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja melalui pemanfaatan hutan? Tidakkah fenomena lebih sebuah problematika sehari melainkan sesuatu yang akan menentukan masa depan seseorang bahkan sekelompok masyarakat?

 Bisa jadi bukan anda maupun saya yang merasakan dampak-dampak tersebut. Kita bisa saja duduk bersantai, meminum kopi hangat bersama keluarga sambil membaca tulisan ini, mengangguk-anggukan kepala sesekali. Namun perlu kita ketahui, bahwa setiap dampak negatif dari kebakaran hutan itu terjadi dan nyata. Ia bisa terjadi kapan saja. Hanya, akankah kita berdiam saja?