Wiraswasta
1 bulan lalu · 374 view · 4 min baca menit baca · Politik 50367_26368.jpg
Bisnis.com

Kebaikan Sangkuni

Ketika Amien Rais lantang meneriakkan reformasi, sekujur tubuh dan ruh saya yang masih hidup di lingkup pemerintahan Orde Baru tak merasakan apa yang diingininya. Tahunya, Presiden Suharto sudah mulai lunglai memimpin Indonesia. Dan nafas saya terhenti sesaat ketika dolar melambung naik tinggi hingga harga-harga sembako tak terbeli oleh pendapatan orang tua.

Sejak itu saya ke-Rais-Rais-an.

Ketika B.J. Habibie menjadi presiden, separuh jiwa saya sudah terbawa ke alam reformasi yang ingin lekas-lekas menikmati orang-orang baru mengambil kendali negeri ini agar tercipta suasana pencerahan yang lepas dari orang-orang lama. 

Timor Timur lepas menjadi Timor Leste. Gonjang-ganjing Indonesia bubar hingga memecahkan diri tak terjadi. Hanya terlepas satu meski membuat murung Nusantara. Habibie soft landing membawa demokrasi Indonesia menuju pintu gerbang reformasi.

Sejak itu saya merasa seperti ke-Habibie-Habibie-an.

Gus Dur memimpin Indonesia dan menjadi pemimpin Indonesia pertama yang dulunya oposan kemudian menjadi elite. Di era kepemimpinannya, banyak celetukan dan kebijakan yang spektakuler cenderung unik. 

Sejumlah kementerian dihapus di kabinetnya. Budaya peranakan Tionghoa dipopularitaskan. Rekonsiliasi PKI. MPR/DPR dibuat goro-goro olehnya. Hubungan internasional diubah peta perpolitikannya. Indonesia yang negara ketiga menjadi pusat perhatian dunia atas kedudukan dan posisi Indonesia sebagai negara yang makin mahir berdiplomasi internasional.

Tiba-tiba perasaan dan pikiran saya seperti ke-Gusdur-Gusdur-an.

Megawati Soekarnoputri akhirnya mengenyam posisi eksekutif setelah Gus Dur di impeachment. Memerintah sisa pemerintahan Gus Dur. Pada masanya, gelora kebangsaan digaungkan kembali, membawa cita-cita Soekarno berada di pucuk gagasan tentang Indonesia. Ia ada dalam dua kepentingan: konstitusi dan institusi. 

Secara konstitusi, ia memimpin rakyat simpatisan dan bukan simpatisannya. Secara institusi, ia ada dalam posisi aman dengan dukungan terbanyak. Bahkan ketika serangan politik menerpanya, ia bersikukuh bahwa rakyat (simpatisannya) masih berpihak padanya.

Sejak itu, ketika bicara tentang figur pemimpin dengan pendukung, intimasi saya seperti ke-Mega-Mega-an.    


Di era SBY, ia menggoyahkan satire lama zaman mahasiswa bahwa ada dua pemimpin Indonesia: sipil yang militeris dan militer yang sipilis. 

Figur militer cukup banyak diminati oleh rakyat yang memuji ketegasan Presiden Suharto. Tetapi tak kalah banyak yang menginginkan pemimpin dari kalangan sipil untuk melunakkan Indonesia dari segala aksi kekerasan yang pernah ada dalam sejarahnya. 

SBY yang militeris berlaku sebagai seorang sipil yang akhirnya merangkul kedua belah pihak rakyat pemilih: figur pemimpin militer dan figur pemimpin sipil. Ia adalah presiden yang turun dengan cara soft landing tanpa gejolak politik yang berarti.

Mempertahankan dua periode dengan intrik politik yang minim membuat saya ingin ke-Yudhoyono-Yudhoyono-an.

Megawati yang selalu mengedepankan institusi harus realistis bahwa bukan masanya lagi ia mencalonkan diri sebagai presiden kembali. Dipilihlah orang ndeso dari Kota Solo: Joko Widodo. 

Tak banyak yang tahu figurnya, tetapi dalam setahun lebih menaklukkan Pilkada DKI Jakarta melahirkan kepercayaan diri orang sipil bahwa kalangan sipil juga pantas kembali menduduki RI 1. Figur baru dan bukan orang lama jadi harapan. 

Pekerjaannya selama lima tahun kurang itu menghidupkan realitas dari cita-cita pembangunan nasional, mulai dari era Presiden Soekarno hingga Presiden SBY. Periode pertamanya total football membangun infrastruktur yang sudah direncanakan kemudian dilanjutkan.

Sejak itu, saya ke-Jokowi-Jokowi-an.

***

Sangkuni adalah Raja Gandara. Hubungannya dengan Raja Pandu, ayah dari Pandawa Lima, amat baik. 

Bahkan ia marah besar ketika ayahnya mengizinkan Dewi Gandari, adik perempuannya, menikah dengan Dristarastra, adik Pandu. Sangkuni ingin Dewi Gandari menikahi Pandu, karena secara fisik Pandu lebih baik dari kakaknya, Dristarastra yang buta. 

Bhisma yang menawarkan perjodohan Dristarastra dan Gandari. Dan sejak itu Sangkuni benci dengan Bhisma meski pada perjalanannya berada pada satu kubu.

Dewi Gandari tetap menikahi Dristarastra. Ia menutup matanya dengan kain untuk turut serta dalam kegelapan bersama suaminya. Mereka melahirkan 100 orang anak Kaurawa.

Hastinapura lebih besar dari Gandara. Sangkuni terpikat menjadi bagian kerajaannya. Melalui adiknya, Sangkuni ingin tampil andil menjadi jajaran orang tertinggi Hastinapura. Saat itu Pandu yang menjadi rajanya. Dristarastra menunggu giliran raja selanjutnya.

Pandu wafat, meninggalkan dua istri (Dewi Kunti dan Dewi Madrim), serta lima anak (Pandawa Lima). Saat itu, Dristarastra belum dinaik-takhtakan menunggu duka usai dan barisan pejabat kerajaan menorehkan kelanjutan trah. Berlarut-larut, Dristarastra belum juga jadi raja.

Sangkuni merasa ada hal yang tak beres. Ia mendesak Dristarastra untuk segera menobatkan diri sebelum keluarga Pandu kembali ke istana usai dukanya. Upayanya berhasil, Dristarastra menjadi raja Hastinapura, meski keluarga Pandu juga menjadi bagian keluarga yang harus dirawat kerajaan.

Untuk memunculkan ketidakbetahan, dibangunlah intrik. Duryodhana diangkat sebagai putra mahkota sebelum Yudhistira kecil sah menjadi pengganti Raja Pandu. 

Situasi berlangsung dengan membelah kubu Pandawa dan Kaurawa sedari kecil. Bhima diracun Duryodhana, dibuang ke sungai untuk melemahkan kekuatan Pandawa. Ide itu atas dasar keinginan Sangkuni. Upayanya gagal.

Kesuksesan idenya adalah ketika Pandawa dewasa yang dibuang dari kerajaan Hastinapura ke hutan. Ketika hutan itu dibuka Pandawa, berdirilah kerajaan Indraprastha yang lambat-laun membesar menggungguli Hastinapura. 

Untuk merebut wilayah itu, Sangkuni membisiki Duryodhana agar bertarung dadu. Pandawa kalah dengan membawa dendam dan malu, kembali menjadi rakyat jelata dalam kurun 12 tahun dan satu tahun masa penyamaran.

Sangkuni mati oleh Sadewa di Padang Kurusetra dalam perang Mahabharata, anak bontot Pandawa yang keahlian bertempurnya jauh lebih rendah dari kakak-kakaknya.


***

Di mana kebaikan Sangkuni?

Dalam dunia politik, dikenal istilah tim sukses. Dan di dalam tim sukses, ada pemimpinnya. 

Sang pemimpin tahu bahwa yang akan dibelanya punya kelebihan dan kekurangan. Pekerjaan tim sukses adalah menutupi yang kurang dan mengunggulkan yang lebih. Teknik ini dinamakan framing, membuat bingkai untuk mendapatkan penampilan yang baik saja.

Sangkuni adalah penasihat putra mahkota Duryodhana. Ia tahu sifat Duryodhana sejak kecil karena ia adalah keponakannya. Ia juga tahu sifat dan karakter 99 anak Kaurawa lainnya dan mampu mengayominya.

Kebaikan Sangkuni adalah mampu mengubah keadaan untuk orang-orang yang dibelanya. Tak peduli berapa materiil dan moril yang dipertaruhkannya, kerusakan yang disebabkannya, pertumpahan darah yang diakibatkannya. Rasa sayangnya hanya untuk yang menghidupi dan mengistimewakannya. Rasa dengkinya untuk orang yang tak sepaham dengan dirinya atau mengancam superioritasnya.

Satu lagi, kebaikan Sangkuni adalah sadar diri. Tak mungkin dirinya menjadi raja Hastinapura karena tidak berdarah Kuru. Maka ia tampil sebagai paman bagi keponakan-keponakannya.

Artikel Terkait