Tentunya banyak kebaikan yang sudah terjadi pada hidup kita selama ini, baik yang kita sadari ataupun tidak. Beberapa kebaikan yang kita terima mungkin bisa datang secara tidak terduga.

Banyak kebaikan yang pernah saya dapatkan, dan saya syukuri ada juga kesempatan untuk berbuat kebaikan, meskipun kadang tanpa sadar dan disengaja.

Dari pengalaman-pengalaman itu, ada satu benang merah yang dapat ditarik, yaitu bahwa Kebaikan = Kebahagiaan, artinya siapa yang melakukan kebaikan akan mendapatkan kebahagiaan. Cepat atau lambat. Dengan kata lain, melakukan kebaikan sejatinya bukanlah suatu kerugian.

Izinkan saya membagikan beberapa contoh kebaikan yang dapat dilakukan oleh kita semua. Sebagian tidak melibatkan uang, sebagian lagi melibatkan uang meski tidak harus banyak.

Senyum, Sapa, Salam, kepada orang-orang di sekitar kita: yang bertemu saat jalan pagi, para petugas keamanan, pembersih kompleks rumah, dan banyak lagi. Senyuman kita saat ini mungkin tidak kelihatan di balik masker yang kita pakai, tapi keramahan kita memancarkan enerji positif yang mungkin tidak kita sadari. Menyebarkan keramahan itu gratis, kan?

Mengatakan Mohon, Terima kasih, Maaf: 3 kata “mujarab” yang bisa membuat komunikasi jauh lebih nyaman saat kita berbicara, khususnya pada orang-orang yang mungkin dianggap lebih inferior dari pada kita: para ART, supir, bawahan, dan lain-lain. Hindari bersikap bossy.

Donorkan darah, jika kita cukup sehat. Kita tidak akan tahu siapa yang kita tolong dengan sekantong darah yang kita sumbangkan hari itu. Penelitian juga membuktikan, orang yang mendonorkan darah secara teratur akan jadi lebih sehat. Menolong sambil dapat sehat, mengapa tidak?  Izinkan saya membagikan pengalaman keluarga saya.

Saat adik perempuan saya, Wenny, berusia satu bulan, dia harus ditransfusi. Malam-malam, orang tua saya pontang panting mencari darah golongan O, karena di PMI persediaan sedang kosong. Mereka menelpon beberapa saudara dan tidak ada tanggapan. Akhirnya mereka memohon kepada beberapa mbak ART dan beberapa karyawan toko, apakah ada yang bersedia di-tes golongan darahnya, dan bersedia menyumbangkan darah untuk adik saya.

Yang sangat mengharukan kami, mereka semuanya menawarkan diri. Orang-orang sederhana itu, yang semuanya takut jarum, semuanya mengajukan diri untuk menolong Wenny. Mereka justru lebih menunjukkan kepedulian daripada saudara-saudara yang kami hubungi malam itu.

Malam itu, mereka berangkat dengan beberapa becak ke PMI. Semua di-tes. Hanya satu yang cocok golongan darahnya, yaitu Koh  Hong Sit, pegawai di toko orang tua kami.

Setelah melalui tes kesehatan, Koh Hong Sit dinyatakan layak menjadi donor untuk adik saya. Dia pucat ketika melihat jarum, tapi bersikap tegar karena ingin menolong. Hari itu Koh Hong Sit. menyelamatkan nyawa adik bayi saya.

Berpuluh tahun kemudian, ketika Wenny menikah, satu nama yang ingin diundangnya adalah Koh Hong Sit. Koh  Hong Sit datang memenuhi undangan. Adik saya berbahagia.

Saya percaya Koh  Hong Sit-pun berbahagia melakukan kebaikan malam itu. Bayi yang diselamatkan-nya dulu, hari itu menjadi seorang pengantin.

Hadir 

Saat saya di kelas 3 SD, saya punya seorang teman, Adri. Dia bukan anak yang populer. Dia sangat pemalu, tidak biasa bercanda, dan gerakannya terkesan canggung, dan dia selalu “bikin kalah” kalau main apapun. Dia tidak disukai banyak teman lain. Suatu hari, dia mengundang teman-teman ke ulang tahunnya. Saya hadir. Setelah beberapa saat di “pesta” itu, saya heran, kok teman-teman lain belum juga datang.

Jujur, saya tidak menikmati “pesta” yang sunyi senyap dan membosankan itu. Suasananya canggung saat itu. Sayapun tidak terlalu dekat dengan dia sebenarnya.  Saya tidak lama di rumahnya. Saya ucapkan selamat, berikan kado, kami makan, bermain dan ngobrol sebentar, kemudian saya pamit pulang.

Setelahnya, saya baru sadar bahwa saya ternyata memang satu-satunya teman yang hadir saat itu.  Tanpa saya ketahui, teman-teman yang lain ternyata “berkomplot” untuk sengaja tidak datang ke pesta Adri. Itulah pelajaran pertama dalam hidup saya tentang jahatnya politik.

Kemudian Adri pindah sekolah, dan saya tidak pernah lagi mendengar tentangnya. Baru saat kami dewasa, kami dipertemukan kembali di media sosial. Sejak “pertemuan” kembali itu, setiap tahun saya selalu mengucapkan selamat pada hari ulang tahun-nya, dan setiap kali, dia selalu mengucapkan terima kasih bahwa saya hadir di ulang tahun-nya sekian puluh tahun silam. Saya tak sadar, kehadiran saya begitu berarti baginya. Dia merasa masih punya teman baik, meskipun hanya satu.

Dulu saya tidak menikmati “pesta” yang hanya dijalani berdua itu. Sekarang, saya sangat bersyukur saya hadir hari itu, dan menjadi penyemangat baginya, meski saya juga baru tahu lama sesudahnya. Bagaimana seandainya tidak ada seorangpun yang hadir di acaranya hari itu? Betapa akan sedih dan hancur perasaaanya, dan mungkin juga keluarganya.

Tanpa sadar, saya sudah melakukan suatu kebaikan kecil kepada seorang teman, dan hal itu tidak pernah dilupakannya.

Saya berbahagia, saya hadir untuknya hari itu.

Beri makan anjing dan kucing jalanan: Bisa makanan baru  atau makanan sisa. Saya menyisihkan makanan bagi anjing dan kucing jalanan di sekitar rumah saya setiap malam. Setiap pagi, kotak makanan itu pasti sudah kosong karena habis. Mungkin tindakan kecil saya itu sudah memperpanjang hidup satu mahluk Tuhan untuk satu malam lagi, saya tak akan pernah tahu.

Hibahkan pakaian, buku, tas sekolah, ponsel bekas yang tidak terpakai. Beberapa waktu yang lalu anak saya mendapat hibah buku pelajaran dari kakak kelasnya, yang harganya tidak murah. Kami sangat hargai itu. Saya ajarkan dia untuk melakukan yang sama pada adik-adik kelasnya, dan pada teman-teman yang kurang beruntung, baik yang dikenalnya maupun tidak.

Kumpulkan koran, kardus dan botol air mineral bekas. Hibahkan kepada para pengumpul. Buat kita hanya jadi sampah. Buat mereka, bisa jadi makanan hari itu.

Beri tip driver ojol yang mengantar paket atau makanan. Kita tahu di masa pandemi ini penghasilan para driver berkurang secara drastis. Buat kita mungkin hanya uang kecil, namun jika dikumpulkan seharian oleh mereka, bisa memberi makanan yang cukup bagi keluarganya hari itu.

Tentunya masih banyak kebaikan-kebaikan lain yang bisa kita semua lakukan.

Ini pilihan saya. Pilihan teman-teman tentunya menjadi keputusan teman-teman sendiri.

Percayalah, pilihan untuk melakukan kebaikan kecil tidaklah pernah sia-sia. Kita akan merasa lebih baik dan berbahagia dengan melakukan kebaikan sekecil apapun.

Kebaikan akan selalu menemukan jalannya kembali. Sekarang ataupun nanti.

Pay it forward…please