Manusia adalah makhluk yang memendam hasrat menuju kebahagiaan, begitu kata Kierkeegard. Filsuf eksistensialis Denmark ini menyebut kebahagiaan tak ubahnya adalah sebuah hasrat.

Kebahagiaan kadang menjadi perkara sederhana untuk dibincangkan namun menjadi perkara mahasulit untuk diraih. Di beranda-beranda media sosial, sungguh betapa banyak serpihan-serpihan kata-kata bijak dan mungkin puitis, yang merepresentasikan kebahagiaan. Namun, apakah itu pertanda bahwa manusia bersangkutan benar-benar bahagia?

Belum tentu. Banyak kasus yang membuktikan ia secara terbalik. Bahwa komunikasi simbol yang menandakan simbol-simbol kebahagiaan tidaklah serta merta menjadi indikator kebahagiaan seseorang. Justru barangkali sebaliknya: kata-kata bahagia kita yang bertebaran di media sosial justru bisa jadi pertanda bahwa kita tidak bahagia?

Bisa saja itu hanya suatu cara untuk menangkal ketidakbahagiaan yang melanda. Orang yang sedihpun masih bisa menggunakan emoticon tertawa dalam bermedia sosial.  Itu hal lumrah. Sebuah realitas yang berjarak antara dunia nyata dan dunia maya.

Kata Sartre, seorang filsuf eksistensialis Prancis: manusia pada dasarnya berada dalam penderitaan. Simbol-simbol kebahagiaan yang kita tampakkan, kadang-kadang hanyalah suatu  bentuk cara kita menyembunyikan ketidakbahagiaan. Simbol-simbol kebahagian yang pada dasarnya merepresentasikan pelarian kita atas penderitaan. “Bahagia itu sederhana” adalah suatu tagline-tagline bullshit kata seorang teman.

Banyak cara manusia berusaha mengusir derita dalam dirinya. Banyak paham, ajaran, filsafat, dan ideologi-ideologi yang berusaha menjabarkan sekaligus menawarkan jalan kebahagiaan. Namun, tidak sedikit di antaranya yang menyisakan kontradiksi-kontradiksi.

Kapitalisme misalnya, yang mendaraskan diri pada kekuatan konsumsi, seperti mengisyaratkan sebuah jalan kebahagiaan lewat konsumsi. Seolah ingin berkata: penuhilah hasrat kebahagiaanmu dengan konsumsi. Kita begitu muda melihat kenyataan bagaimana manusia tertatih “membeli kebahagiaan” itu sendiri lewat konsumsi.

Kebahagiaan adalah objek yang dapat dibeli. Yang pada kenyataannya menyisakan suatu fenomena kegilaan tersendiri: gila konsumsi. Bagaimana misalnya: orang rela menghabiskan waktu dalam kerja sekadar untuk dapat membeli baju robek-robek dengan harga selangit atas nama style yang dipersepsi sebagai simbol kebahagian itu sendiri?  

Dalam hidup yang absurd ini memang ada banyak kegilaan yang tercipta dari proses manusia mencari kebahagiaan. Fenomena selfie dikuburan, selfie didekat orang meninggal, upload foto makanan sebelum makan: adalah setumpuk fenomena kegilaan manusia mencari legitimasi-legitimasi akan kebahagiaan. Suatu kebahagian-kebahagiaan  yang dilandaskan pada citra dan simbol yang hipokrit. Namun, adakah realitas itu menjadi tanda kebahagiaan yang sebenarnya? Belum tentu.

Selain kapitalisme dengan segenap unsur hedonisme dan materialitasnya. Agama pun tak kalah serunya dilibatkan dalam proses manusia menemukan kebahagiaan. Penderitaan dalam perspektif agama dipahami sebagi produk dari pengingkaran pada keinginan Tuhan. Dan kebahagiaan adalah bentuk kepasrahan terhadap Tuhan. Keinginan Tuhan terasosiasi sebagai khendak aktif untuk merubah, pada saat yang berbeda kepasrahan adalah meniadakan khendak, simbol kepasifan.

Dan ini menjadi semakin kompleks, ketika ia masuk dalam ranah tafsir: menafsir keinginan Tuhan. Yang pada akhirnya tidak sedikit melahirkan fenomena kegilaan tersendiri. Ada banyak kegilaan yang lahir dari proses menafsir keinginan Tuhan itu. Betapa tidak gilanya: bagaimana ajaran kasih melahirkan kebrutalan, bagaimana ajaran rahmat semesta melahirkan pengrusakan, seperti halnya bagaimana ajaran asketik melahirkan akumulasi yang menindas.

Selain menafsir keinginan Tuhan, agama juga menawarkan kepasrahan. Jalan panjang manusia mencari konsepsi-konsepsi kebahagiaan yang berliku, yang pada akhirnya mengkerangkengnya dalam wujud pencapaian akan teologi-teologi kepasrahan. Terminologi-terminologi: ikhlas, pasrah, berbaik hati, berlapang hati—sudah seperti jawaban sekaligus arah pencariaan kebahagiaan yang merepresentasikan kepasrahan.

Kalau menukik pandangan Nietzche, kita akan menemukan kritik yang tak ubahnya sebuah cemohan yang mendudukkan orang-orang beragama, sebagai pilihan jalan hidup orang-orang lemah. Ia (agama) menjadi tempat pelarian manusia-manusia lemah. Meskipun konsep “manusia super-nya” Nietzche pun juga tidak  serta-merta memberi jalan kebahagiaan yang universal di tingkat praksis.

Namun, benarkah bahwa kebahagiaan itu adalah kepasrahan? Jalan kebahagiaan atas hilangnya khendak manusia? Seperti kata Heidegger: satu-satunya harapan yang tersedia bagi manusia adalah menyadari dan menerima realitas itu sendiri.

Meski nasib manusia berujung pada derita, namun manusia diyakini dapat mengalahkan nasib tragisnya dengan ‘menciptakan’ tujuan-tujuan yang bisa memberi makna. Dalam konteks ini bagi Heidegger, tidak ada alasan yang cukup memadai mengapa manusia harus melakukan ini atau itu. Sebab ia takkan mendapatkan apapun selain pengetahuan otentik akan keberadaannya—tak ada selain itu.

Sungguh betapa tragis dan asburdnya suatu  jalan kebahagiaan sebagai jalan kepasrahan itu sendiri. Konsepsi kepasrahan telah menafikan keberadaan manusia bebas dengan segenap khendak eksistensialnya Sartre. Juga telah mempecundangi konsepsi “superman-nya” Nietzche.

Kaum-kaum idealisme dan penerus pikirnya, mungkin dengan mudah berkata, bahwa: kebahagiaan itu sederhana. Kebahagiaan ada di alam ide. Yang diterjemahkan oleh penafsiran dan khendak subjektif kita terhadap realitas. Kebahagian adalah pilihan sejauh kita dapat menciptakan suatu ide penafsiran khusus atas realitas. Bukan penafsiran otentik atas realitas melainkan penafsiran artifsial.

Namun, yang menjadi pertanyaan: sejauh mana manusia bisa benar-benar bebas dalam mengendalikan realitas-realitas subjektifnya? Tidak ada batas yang jelas, sebab kesadaran sebagai realitas subjektif pun memiliki pertautan kausal terhadap realitas objektif itu sendiri. Pada titik tertentu, kondisi idealis ini juga berpotensi menjebak manusia pada kesadaran palsu (pseudo) atas realitas, yang tak lebih seperti kegilaan tersendiri yang berwujud ilusi dan halusinasi.

Hal yang sama juga terjadi kepada kaum strukturalis. Yang mengandaikan kesadaran (bahagia dan derita) sebagai produk dari determinasi strktur. Mengabaikan hal-hal laten dan inheren dalam diri subjek manusia secara individu. Yang hanya ‘mampu’ melahirkan pengharapan-pengharapan yang tak pasti. Yang tak ubahnya muncul dalam suatu impian, imajinasi yang berwujud utopia.

“Hidup hanyalah bentuk penundaan atas kekalahan. Hingga sebelum akhirnya kita sadar bahwa semuanya sia-sia,” begitu kata Chairil Anwar.

Meski Albert Camus masih percaya bahwa kita harus tetap bisa menemukan kebahagiaan (sejati) meski dalam kehidupan yang paling absurd sekalipun. Tetapi tetap saja bahwa tidak ada yang bisa membuktikan kebenaran ia sebagai sebuah konsep.

Tidak ada jawaban utuh untuk dapat menjelaskan  hal-hal penting dalam hidup ini, pun tak terkecuali atas jalan-jalan atas kebahagiaan itu sendiri. Karena seperti kata Kundera: memiliki jawaban (utuh) untuk semua hal adalah bentuk kebodohan itu sendiri. Mencari dan menemukan kebahagiaan adalah tugas eksistensial kita. Sebab bahagia tak sesederhana ketika Sis Maryono melafaskan kata “super”.