Arsiparis
2 tahun lalu · 239 view · 3 menit baca · Buku sampul_buku.jpg

Kebahagiaan Itu Relasional, Bukan Personal

Ulasan Buku “The Geography of Bliss”

“Kebahagiaan adalah hasil interaksi sosial. Tidak ada kebahagian manusia yang didapat dalam kesendirian.” – Karma Ura, Cendekiawan Bhutan

Apakah kebahagian orang satu dengan lainnya mempunyai rasa yang sama di benak orang satu dan lainnya. Sejumlah pertanyaan yang membuat Eric Weiner, seorang mantan reporter New York Times dan National Public Radio (NPR) bepergian untuk mencari tempat paling membahagiakan di dunia.

Sejumlah negara menjadi tujuan perjalanannya untuk mendapat jawaban dari pergolakan batinnya tentang tempat paling membahagiakan di dunia. Ada sepuluh negara dari berbagai latar belakang budaya yang menjadi persinggahannya. Di antara negara-negara tersebut adalah Belanda, Swiss,Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania Raya, India, dan Amerika. 

Saya penasaran, bagaimana kalau menghabiskan waktu selama satu tahun dengan melakukan perjalanan mengelilingi dunia, mencari tempat-tempat yang terkenal karena kekacauannya, tetapi justru itu adalah tempat-tempat bahagia yang tidak digembar-gemborkan?

Tempat-tempat yang tak diragukan lagi mempunyai satu atau beberapa bahan yang kita anggap sangat penting untuk hidangan kebahagiaan sejati: di antaranya adalah uang, kesenangan, spiritualitas, keluarga, dan cokelat.

Bagaimana jika Anda tinggal di negara yang luar biasa kaya dan tak seorang pun membayar pajak? Bagaimana jika Anda tinggal di Negara tempat kegagalan adalah sebuah pilihan? Bagaimana jika Anda tinggal di negara yang begitu demokratis sehingga Anda memberikan hak pilih  sampai tujuh kali dalam setahun? Bagaimana jika Anda tinggal di negara tempat pemikiran  yang berlebihan dihalangi? Apakah dengan itu Anda akan bahagia?

Itulah sekumpulan pertanyaan di benak Eric Weiner yang membuatnya berkelana ke beberapa negara hanya untuk mencari kebahagiaan. Dan apakah mereka memang betul-betul merasakan dengan apa yang disebut kebahagiaan itu.

Belanda adalah negara pertama yang ia singgahi. Dengan kondisi toleransi begitu tinggi yang dimiliki oleh orang Belanda, Eric malah merasakan ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan yang muncul dari rasa ketidakpedulian orang Belanda akibat toleransi yang begitu tinggi terhadap apa-apa yang dilakukan oleh orang lain. 

Eric merasakan, dengan situasi tersebut dirinya akan mudah untuk berbuat menyimpang karena tidak adanya kontrol sosial masyarakat.

Persinggahan berikutnya adalah Swiss yang cukup konvensional dalam mengungkapkan kebahagiaannya. Mereka tidak pernah berlebihan dalam mengekspresikan kebahagiaan. Conjoyment adalah istilah yang diciptakan Eric untuk orang Swiss yang kalau diartikan adalah merasa gembira sekaligus tenang.

Tentunya kita sendiri akan kesulitan merasakannya kalau kita sendiri tidak pernah bersinggungan dengan orang Swiss secara langsung. Sedangkan deskripsi yang diberikan oleh Eric sendiri masih dangkal dan pastinya akan membuat pembaca meraba-raba seperti apakah kondisi conjoyment itu.

Dari perjalanannya tersebut ternyata ada macam-macam penyebab kebahagiaan sebuah negara selain di kedua negara di atas misalnya, di negara petrodollar, Qatar, uang bisa menjadikannya negara yang berbahagia. Sedangkan di India bagaimana orang bisa menemukan kebahagiaan hanya dengan menjadi murid spiritual seorang Guru, tokoh agama Hindu.

Bahkan yang lebih mengherankannya adalah tetangga kita, Thailand, di mana kebahagiaan didapatkan dengan cara tidak berpikir dalam bertindak. Aneh bukan? Ya, itulah sebagian hasil pemetaan Eric akan kebahagiaan yang terjadi dari beberapa negara yang telah dijadikan objek observasinya.  

Melihat sekilas buku ini jelas akan membuat orang mengira ini adalah buku travelling. Namun, apakah ini sebuah buku travelling? Ya, dengan tegas dinyatakan oleh penulisnya sendiri, tapi tidak sebagaimana buku perjalanan biasa.

Eric menyatakan ini adalah buku perjalanan ide-ide karena sebenarnya perjalanannya bukan semata-mata untuk melihat tempat-tempat eksotik, akan tetapi lebih pada  sebuah perjalanan untuk mencari mengapa sebuah tempat terlihat lebih membahagiakan daripada tempat lainnya. Dan bagaimana pula lingkungan suatu tempat memengaruhi timbulnya rasa kebahagiaan pada tempat tersebut.

Seperti kata-kata yang selalu terngiang di benak Eric, ketika mengakhiri perjalanannya, yang ia dapatkan dari Karma Ura, cendekiawan  Bhutan, bahwa kebahagiaan seratus persen bersifat relasional karena tidak ada yang namanya kebahagiaan pribadi.

Last but not least, sebagaimana yang kita yakini dalam agama kita masing-masing, kebahagiaan akan diperoleh dengan cara berbagi dengan sesama. Bukan begitu? Selamat membaca!

Judul: The Geography of Bliss
Pengarang: Eric Weiner
Penerjemah: M. Rudi Atmoko
Penerbit: Qanita, Bandung
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Tebal: 532 Halaman
Isbn: 978 602 1637 22 7

Artikel Terkait