Dari masa ke masa manusia menempuh hidup hanya dua hal yang ditemukan, yang senantiasa menunggunya, yaitu malang atau bahagia. Pada prinsipnya manusia selalu berharap pada kebahagiaan dan menghindar dari kemalangan. Oleh karena itu, dengan segenap kekuatannya mereka selalu berusaha menyingkirkan kemalangan dan mengejar kebahagiaan.

Bagi kamu yang ingin mendapatkan kebahagiaan, tentu harus memiliki payung sandaran, seperti apa kebahagiaan itu. Strategi yang ampuh adalah yang sesuai dengan kondisi perasaan kamu. Perasaan sering kali menjadi sumber seseorang untuk merasakan kebahagiaan.

Lantas seperti apa kebahagiaan itu? Apakah seperti si dia eaaa…

Kita akan bingung memikirkan hal ini. Dimana sebenarnya bahagia itu?

Sebab itu saya cari makna kebahagiaan melalui pengalaman orang lain yang diekstrasi menjadi teori lalu menjadi sebuah quotes. Quotes itu terkumpul, saya kumpulkan keterangannya menjadi satu. Sehingga tersusun menjadi suatu karangan, untuk menjadi suluh penuntut bahagia. Tetapi masih saja belum bahagia. Aduhh gimana yah…

Kadang-kadang pengalaman mereka belum saya rasakan, hanya sebatas angan-angan saja. Begitulah agaknya. Kadang-kadang sudah dirasakan, tetapi tak sanggup untuk dilukiskan dengan puas, karena tidak mudah menerangkan segala kebahagiaan yang dirasakannya.

Dari penyusunan itu, saya mulai dari Barat.

Barat yang dimaksudkan adalah para pendapat dari tokoh-tokoh Barat. Mereka terkenal akan perkembangan keilmuannya mulai dari masa Yunani kuno, masa renainsans, sampai modernisasi. Salah satu filsuf ternama yaitu Aristoteles berpendapat bahwa bahagia bukankah suatu perolehan untuk manusia.

Kadang-kadang sesuatu yang dipandang bahagia oleh seseorang, tidak oleh orang lain. Bahagia itu adalah kesenangan yang dicapai menurut kehendaknya masing-masing. Untuk itu setiap manusia dapat menentukan kebahagiaannya sendiri, tanpa ada intervensi dari orang lain.

Selanjutnya ada tokoh fenomenal yaitu Hendrik Ibsen. Seorang ahli pikir asal Norwegia ini mengungkapkan bahwa mencari kebahagiaan itu hanya membuang-buang umur saja. Karena jalan untuk menempuhnya sangat tertutup. Setiap ikhtiar untuk melangkah ke sana selalu saja terbentur. Maka dari itu, sikap yang diambil Hendrik Ibsen yaitu memilih untuk berputus asa. Yaelahhh jangan berputus asa atuh…

Seorang pujangga asal Rusia yaitu Leo Tolstoy mengatakan sebaliknya bahwa yang menjadi sebab manusia berputus asa di dalam mencari bahagia, yaitu karena bahagia itu diambilnya untuk dirinya sendiri. Nah ini nih perilaku oportunis…

Padahal segala bahagia yang diborong untuk diri sendiri, mustahil berhasil. Karena bahagia semacam itu mau tak mau mesti mengganggu bahagia orang lain. Oleh sebab itu, bukannya mendapatkan kebahagiaan malah saling memberikan kerugian bersama.

Terakhir dari bintang filsafat asal Irlandia yaitu George Bernard Shaw. Menurutnya, jadi manusia tidak kuat mencari jalan bahagia atau tidak kuat menyingkir dari jalan sengsara dan celaka. 

Sekali-kali ia jangan berputus asa. Ia mesti berpegang teguh dengan keberaniannya, ia mesti kuat. Ia harus tahu bahwa sudah banyak jalan yang ditempuh oleh orang terdahulu yang kemudian mereka tersasar. 

Yang membuat manusia sukar mencari bahagia. Hingga mereka dapat berhasil mendapatkan kehidupan melalui budi mulia. Dari sinilah bahwa perilaku yang baik salah satu hal untuk memulai bahagia.

Para tokoh Barat memang memandang bahagia lebih dominan diambil dari pengalaman empiris. Sehingga segala kerusakan yang terjadi dahulu, sekarang dan nanti membuat mereka selalu berputus asa. Shaw memperkirakan mulai dari abad XX seluruh dunia akan menaruh perhatian besar kepada kebahagiaan Agama Islam. Lantas seperti apa?

Islam atau yang dikenal dengan orang Timur adalah umat yang menaruh perhatian besar pada wahyu dan akal. Segala sandaran dalam bentuk apapun selalu tidak keluar dari wahyu atau sunah. Dalam persoalan bahagia kita akan mulai dari Nabi kita Muhammad Saw.

Pada suatu hari Aisyah r.a pernah bertanya kepada Nabi Saw:

“Ya Rasulullah, dengan apakah berkelebihan setengah manusia dari yang setengahnya?”

Rasul menjawab: “Dengan akal”

Aisyah : “Dan Akhirat?”

“Dengan akal juga”

“Bukankah seorang manusia lebih dari manusia lain dari hal pahala lantaran amal ibadahnya” imbuh Aisyah.

“Hai Aisyah bukankah amal ibadah yang mereka kerjakan itu hanya menurut kadar akalnya? Sekadar ketinggian derajat akalnya, sebegitulah ibadah mereka dan menurut amal itu pula pahala yang diberikan kepada mereka”.

Dari sini bahwa akal adalah ukuran derajat manusia, akalah yang dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Akal yang menyelidiki hakikat dan kejadian segala sesuatu yang terjadi dalam perjalanan hidup.

Selanjutnya dari seorang hujatul Islam yaitu Imam al-Ghazali yang mengatakan bahwa bahagia yang sejati ialah bilamana dapat mengingat Allah. 

Al-Ghazali membagi bahagia berdasarkan anggota tubuh manusia. Mata akan merasa bahagia bila mana melihat rupa yang indah, yaaa rupa kaya si dia lahhh…, lalu kenikmatan telinga ketika mendengar suara yang merdu, dan kebahagiaan hati ialah teguh ma’rifat kepada Allah. Begitu pun dengan anggota tubuh yang lain.

Terakhir dari seorang ilmuan dan politisi Islam yang ulung di masanya yaitu Ibnu Khaldun. Katanya bahagia itu ialah tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan pri-kemanusiaan.

Diantara ragam pendapat kebahagiaan saya sendiri lebih merujukan pada paragraph yang tertulis dalam mukadimah konstitusi suatu organisasi yaitu “menurut iradat-Nya bahwa kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya adalah paduan utuh antara aspek duniawi dan ukrawi, individu-sosial, serta iman, ilmu, dan amal dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Terakhir saya hanya dapat mengutip lembaran cover Buya Hamka, bahwa bahagia itu dekat dengan kita, ada di dalam diri kita.

 Rujukan : Tasawuf Modern Buya Hamka