“Kalu dak ado beras; umbut bayai, gadung, banar/benor biaso kami makan, kalu dak ado, aek rebus pun jadi” (Kalau tidak ada beras; umbut bayai, gadung, banar/benor biasa kami makan, kalau tidak ada, air yang direbus pun jadi), ungkap Edi di ruangan tamu rumah.

Edi adalah salah satu anak kandung dari H. Helmi. Edi memiliki anak yang bernama Marwa, dari buah cintanya bersama Raba. Lalu H. Helmi adalah ketua Kelompok Orang Rimba Singosari, kelompok yang pertama kali pindah dari dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas ke wilayah administrasi Desa Pematang Kabau.

Rahman menyebutkan (Rerayo; orang yang dituakan dalam kelompok rimba) pada tahun 1999 sampai tahun 2000 Departemen Sosial mengimbau bahwa perumahan yang dibangun di wilayah administratif Desa Pematang Kabau Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun sudah layak huni bagi Orang Rimba kelompok H. Helmi. Tak ketinggalan, lembaga KKI Warsi ikut mendata sebanyak 36 kepala keluarga telah berpindah dan menghuni perumahan tersebut.

Singkat cerita, Orang Rimba adalah etnis yang tinggal di beberapa kabupaten di wilayah Provinsi Jambi. Kabupaten yang dimaksud adalah Kabupaten Tebo contohnya. Kabupaten ini, orang rimba yang dikenal dengan sebutan Orang Rimba Talang Mamak. Sedikit menceritakan bahwa menurut catatan sejarah, Orang Rimba Talang Mamak apabila kita tarik silsilahnya masih ada keterkaitan dengan Suku Minangkabau, Sumatera Barat.

Kemudian, kita menuju Orang Rimba yang berada di Kabupaten Sarolangun. Orang Rimba dalam disertasi Muntholib Soetomo tahun 1995, menjelaskan kata “Orang Rimba” pun terkesan lebih baik daripada “Suku Kubu” yang populer zaman kolonial dulu, atau “Suku Anak Dalam”.

Lebih lanjut, menurut catatan sejarah Orang Rimba Sarolangun dikenal dengan Orang Rimba “Pribumi”. Informasi lain, Orang Rimba Sarolangun, khususnya di Desa Pematang Kabau Kecamatan Air Hitam sejak dahulu juga telah membentuk kelompok-kelompok yang erat dan solid.

Menurut Jenang Jalal (Jenang adalah jabatan yang sangat penting bagi Orang Rimba dan sebagai penghubung dengan Orang Luar sehingga perkataan Jenang begitu diperhatikan), kelompok-kelompok yang berada di Desa Pematang Kabau ini telah terbagi menjadi empat kelompok.

Kelompok pertama, yaitu berada di Dusun Air Panas dipimpin oleh Temenggung Tarib. Kelompok kedua, yaitu Kelompok Kutai yang dipimpin oleh Temenggung H. Jaelani, kelompok ketiga adalah Kelompok Singosari luar dipimpin oleh H. Hellmi, terakhir Kelompok Singosari dalam (Sungai Keruh) yang dipimpin Temenggung Bepayung.

Hal yang begitu mencolok untuk ditinjau dari etnis ini (Orang Rimba) ialah keunikan kelompok bahan pangan yang dikonsumsi oleh Orang Rimba. Sebab, pengonsumsian pangan mereka masih didominasi oleh pangan-pangan lokal. Meski berada di tengah gejolak praktisnya makanan yang dapat diperoleh saat ini, kearifan pangan lokal Orang Rimba tak dapat begitu saja digantikan atau hilang dari kehidupan.

Sumber pangan Orang Rimba sangat erat kaitannya dengan lingkungan yang alami. Dapat kita bayangkan, bahwa untuk mendapatkan sumber pangan yang dimaksud harus menggunakan cara-cara yang telah digunakan turun-temurun. Tentu cara yang konservatif, ekosistem yang terjaga dan lestari, pemeliharaan yang baik, menjadi cermin bahwa hal esensial seharusnya adalah menjaga keberlangsungan kebutuhan pangan Orang Rimba hingga anak-cucu mereka.

Lebih menariknya lagi, sumber pangan Orang Rimba yaitu terletak pada kelompok bahan pangan umbi-umbian. Contohnya seperti gadung, benor/banar, umbut bayai menjadi pengganti bahan pangan padi-padian. Walhasil, beras kalah pamor di kalangan Orang Rimba. Lain lagi pada kelompok bahan pangan hewani, Orang Rimba lantas berburu hewan-hewan di rimba Bukit Duabelas dan familiar dengan hewan rusa, kijang, kancil, ikan, napo, dan hewan hutan lainnya.

Pada kelompok bahan pangan sayuran dan buah-buahan, banyak sekali ragam sayuran yang mereka konsumsi. Salah satu sayur yang Orang Rimba konsumsi adalah keladi. Hal yang jarang untuk kita konsumsi sehari-hari. Sedangkan untuk kelompok bahan pangan buah-buahan, Orang Rimba tak perlu lagi repot membeli di pasar. Tak jarang mereka mendapatkan buah-buahan segar di hutan seperti buah pisang, rambutan, dan durian.

Tak kalah penting, ialah kelompok bahan pangan gula. Biasanya kita memperoleh gula yang sudah dalam bentuk kemasan, Orang Rimba mendapatkannya secara bebas di belantara hutan, yaitu madu. Tanpa olahan, lebih murni lagi menyehatkan tentunya.

Di sisi lain, modernisasi mengiringi zaman yang dilalui Orang Rimba. Modernisasi dalam (kbbi.kemdikbud) menurut definisinya ialah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntuan masa kini. Orang Rimba tak kenal bahkan tidak tahu sama sekali modernisasi.

Semakin berkembangnya zaman, ditambah hiruk-pikuk program transmigrasi yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto pada masa orde baru membuat sudut pandang baru bagi kehidupan Orang Rimba. Gelombang masyarakat transmigrasi berbondong-bondong datang membawa hal-hal baru, keyakinan Orang Rimba terganggu.

Kepercayaan terhadap hal-hal baru yang diyakini selama ini membawa “penyakit”, akan segera tiba. Sadar akan hal ini, Orang Rimba harus tetap hidup, bagaimanapun caranya, apa pun bentuknya, ya … modernisasi namanya.

Mengapa demikian? Fenomena yang terjadi saat ini adalah modernisasi menjadi wajah baru yang akan terus akrab di kehidupan Orang Rimba, termasuk kebutuhan pangan.

Saat ini juga Orang Rimba mengenal mata uang, terciptanya pasar di desa setempat, implementasi gaya baru (pangan kemasan) dalam hal pengonsumsian pangan, inovasi teknologi, pendidikan, interaksi dengan masyarakat desa, eksploitasi sumberdaya hutan yang masif dari luar berakibat ruang jelajah di dalam hutan berkurang, dan lain-lain menjadi akrab di tengah kehidupan Orang Rimba.

Demikian besarnya gelombang modernisasi menerjang, tak lantas membuat Orang Rimba putus asa sepenuhnya. Kebijaksaan pangan lokal dan dampak positifnya terhadap kelestarian alam masih tetap dipertahankan Orang Rimba di tengah modernisasi. Menyadarkan dan terus mengingatkan kita untuk tetap arif dan bijaksana dalam berkehidupan, mengonsumsi pangan khususnya.

Hal-hal yang sifatnya praktis memudahkan pada ragam aspek, namun semangat gigih dan konsistensi yang ditularkan Orang Rimba untuk menjaga sistem pencaharian pangan ini layak untuk tetap ada dan dipertahankan sebagai identitas alami (cultural identity) Orang Rimba, sehingga modernisasi mampu mengiringi langkah kehidupan Orang Rimba dan bukan sebaliknya.