Politik, ketika mendengar kata ini sudah pasti telinga masyarakat kini menjadi gatal, mata masyarakat pedih dan masyarakat sangat enggan menyentuh kata tersebut. Politik sangat berkaitan erat dengan kekuasaan dan kebijakan, pandangan politik yang ditampilkan media saat ini sangat tidak mendidik.

Hasil karya Nicolo Machiaveli “The Prince”, bukan hanya sekedar karangan isapan jempol tapi kini seperti ramalan yang terjadi sebagai akibat salah mengartikan istilah politik. Politik di mata rakyat sangat keruh, sangat tak sedap dipandang. Demokrasi telah membuat masyarakat khilaf dan bermain peran dalam dunia politik dengan membawa jubah kepentingan masing-masing.

Gaya perpolitikan di Indonesia adalah gaya demokrasi barat yang kurang sesuai dengan sifat dan karakter orang timur yang sudah berabad-abad mendapat perlakuan monarki. Sejak terbentuknya Negara tradisional sampai masuknya pengaruh barat melalui kolonialisme dan imperialisme telah mengubah wajah negeri ini yang semula “Sabda Pangandika Ratu” menjadi “Suara Rakyat”.

Runtuhnya Uni Soviet menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh liberalisasi dan demokrasi di seluruh dunia. Mau tidak mau suka tidak suka, Indonesia sebagai Negara dunia ketiga harus mengikuti pola tersebut. Westernisasi dan Globalisasi yang sangat deras harus kita sesuaikan dengan kondisi bangsa saat ini.

Era Soeharto adalah era masuknya paham liberalisme yang membuat Indonesia harus membuka diri terhadap dunia dan mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Ketika dunia mengalami resesi maka Indonesia akan mengalami hal yang sama, tetapi jika ekonomi dunia sedang melejit ekonomi Indonesia naik lambat seperti slogan orang jawa” alon-alon penting kelakon”(Pelan-pelan yang penting kesampaian).

Hal itu yang membuat bangsa Indonesia semakin terpuruk, liberalisasi sudah pasti mencakup individualisasi yang sudah pasti juga bermuara pada elit-elit politik Indonesia masa kini. Para politisi sibuk mengais rezeki dari politik, dengan kedok melayani rakyat yang nanti endingnya adalah merampas hak-hak rakyat.

Jenuh setiap kali mendengar berita dan informasi dari berbagai media. Melihat perilaku elit politik bangsa yang mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Telinga ini sudah panas dan bosan melihat perpolitikan bangsa yang di isi oleh orang- orang yang melabeli sertifikat halal di dokumen yang haram.

Salah satu cara untuk menahan arus liberalisasi tersebut adalah melalui Budaya, Indonesia sangat kaya akan budaya yang mampu menunjukkan karakter pribadi bangsa Indonesia semua aspek kehidupan sudah ada budayanya, hanya saja banyak yang melupakannya bahkan kearifan lokal tersebut kini telah menghilang diterjang pengaruh barat yang sangat kuat, yang modern dan penuh dengan warna- warni.

Perpolitikan di Indonesia sebenarnya sudah ada figure dan contoh yang baik yakni melalui kisah Bharatayuda yang ada dalam cerita pewayangan, meski kisah ini diadopsi dari tanah India namun kisah ini melegenda di Indonesia. Sangat banyak hal positif yang bisa diambil dalam kisah pewayangan, terutama dalam hal pendidikan karakter politik bagi generasi muda masa kini yang sudah tercemari dengan pandangan politik masa kini yang sangat kotor.

Kisah Bharatayuda atau Mahabarata adalah kisah yang sangat menarik dan banyak menjadi pelajaran dalam berpolitik. Aktor besar dalam kisah Mahabarata adalah Sri Kresna dan Sangkuni, diceritakan bahwa Sri Kresna adalah awatara/ jelmaan Wishnu yang merupakan esensi dari Trimurti dalam agama Hindu, sedangkan Sangkuni adalah kakak Gandari yang dendam terhadap Bisma, Bisma adalah kakek dari pandhawa dan kurawa.

Sangkuni dendam terhadap Bisma karena adiknya Gandhari yang di kisahkan merupakan Ibu dari para kurawa harus menikah dengan Destarastra yang tuna netra dan Gandari mengambil keputusan untuk menutup matanya selamanya sebagai bentuk pengabdian pada suaminya, Sangkuni sebagai kakak tidak terima sehingga bersumpah untuk menghancurkan keturunan Barata sehingga perang tersebut disebut sebagai perang Bharatayuda.

Sri Kresna sebagai tokoh protagonis selalu mengedepankan kebaikan, semua hal dilakukan dalam rangka kebaikan. Sangkuni sebagai antagonis selalu menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.

Apakah yang anda pilih? Gaya Politik Sangkuni atau Sri Kresna? Tentu sebagai orang Indonesia yang melankolis sangat berhasrat menjadi Sri Kresna dan sangat membenci Sangkuni, akan tetapi fakta dilapangan menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia bersikap seperti sangkuni, figur yang baik hanya diam dan tak mampu berbuat apa-apa seperti Bisma dan Widura.

Cara pandang Sangkuni adalah menghalalkan segala cara untuk menggenapi sumpahnya, maka Ia menghasut para kurawa agar membenci pandhawa dan mengadu domba mereka, menyebar fitnah seperti layaknya dajjal agar sumpahnya untuk menghancurkan keturunan Bharata terpenuhi.

Banyak lelakon wayang sebagai bentuk kelicikan dari Sangkuni misal “Bale Sigala-gala” yakni bersikap baik kepada para pandhawa membawa pendhawa ke sebuah balai kemudian membakarnya hidup-hidup, hal ini banyak terjadi di Negara kita saat ini.

Banyak yang berusaha menjebak lawan politiknya dengan berpura-pura baik dan kemudian berusaha untuk melenyapkan lawan politiknya tersebut. Itulah intrik yang selalu membuat politik menjadi sangat menarik. Contoh buruk yang lain adalah Sangkuni menghasut Pandhawa agar mau berjudi dengan bermain dadu dengan sangkuni, yang sudah pasti sudah disabotase permainan tersebut oleh sangkuni.

Cara Sangkuni dalam menjilat, menghasut, kamuflase dan sabotase yang dilakukan sangkuni sudah sangat akrab di tubuh elit-elit bangsa ini, mengambil keuntungan sendiri juga menjadi tradisi yang kental, dan ini adalah pandangan buruk bagi perpolitikan Indonesia.

Tokoh berikutnya adalah Sri Kresna, Sri Kresna adalah pembela Pandhawa yang selalu mengarahkan pandhawa untuk kebaikan pandhawa. Sri Kresna memiliki cara yang unik dalam berpolitik, kecerdikannya telah mengubah pandangan politik pada umumnya yakni menghalalkan segala cara demi terwujudnya kebaikan.

Memang dalam perpolitikan jujur dan lurus tidak cukup, sebab musuhnya adalah kelicikan maka Kresna menggunakan Kecerdikan untuk melawan kelicikan. Jika kita menengok dalam kitab Injil ada sebuah ayat yang menyatakan “ Cerdik seperti ular, Tulus seperti Merpati”, hal ini diterapkan oleh Sri Kresna yakni menggunakan kecerdikan untuk melawan kebatilan didasari dengan hati yang tulus.

Lelakon dalam pewayangan yang bisa diambil adalah ketika Pandhawa mendirikan kerajaan Indraprasta, seperti masa sekarang sebuah kerajaan diakui secara de jure jika sudah mendapat pengakuan dari kerajaan lain, dan cara mendapat pendakuan tersebut adalah dengan menaklukkan kerajaan lain sasaran Kresna adalah Jarasandha, Jarasandha sulit ditaklukkan.

Ketika Bima kesulitan dalam bergulat dengan Jarasandha, Kresna mengamati dan kemudian member symbol pada Bima agar membelah kedua tubuh Jarasandha dan melemparkannya ke kedua arah yang berbeda, dengan cara itu Jarasandha dapat ditaklukkan. Lelakon yang kedua adalah “Abimanyu Gugur’.

Dikisahkan bahwa Abimanyu putra Arjuna adalah seorang Ksatria yang gagah berani kemudian dijebak oleh Sangkuni dan Kurawa dalam peperangan Bharatayuda dikeroyok hingga gugur, mengetahui hal tersebut Arjuna sangat sedih dan marah kemudian bermaksud membalas dendam kepada Burisrawa yang merupakan otak dibalik sabotase yag dilakukan oleh Kubu Kurawa.

Arjuna bersumpah  untuk membunuh Burisrawa sebelum sang Surya tenggelam, kemudian Arjuna megamuk dan meluluhlantahkan barisan kurawa untuk mencari Burisrawa untuk membalaskan dendam putranya, karena tidak ketemu Arjuna mulai putus asa, mengetahu hal tersebut Sri Krishna menggunakan Cakra Sudharsananya untuk menutup Sang Surya sehingga medan perang menjadi gelap mengetahui hal tersebut Burisrawa bermaksud keluar dan menagih janji Arjuna yang akan bnuh diri jika tidak berhasil membunuh Burisrawa.

Kemudian ketika Burisrawa keluar Cakra Sudharsana ditarik kembali oleh Kresna dan Arjuna langsung membunuh Burisrawa dengan panah Pasoepatinya. Cara Krisna unik, sebab Kresna melihat ketidakadilan maka Kresna menggunakan kecerdikannya untuk menumpas Kemungkaran.

Karakter Sri Kresna menunjukkan bahwa dalam berpolitik jujur dan tulus tidak cukup, dibutuhkan kecerdikan untuk menghadapi lawan politik yang licik. Kisah Epik Mahabarata/ Bharatayuda dalam  merupakan pendidikan politik yang sangat ideal yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

Pendidikan Karakter politik bangsa yang baik adalah melalui budaya, akan tetapi generasi muda saat ini terlelap dalam gemerlap budaya barat dan lupa akan budaya sendiri yang sangat kaya akan panduan moral dalam berpolitik. Mungkin juga perlu adanya inovasi dari anak bangsa untuk mengemas wayang dalam bentuk yang lebih menarik yakni dengan komik atau film animasi sehingga nilai moral bisa dilestarikan.

Banyak sekali kisah pewayangan lelakon-lelakon dalam pewayangan baik juga karakter masing-masing tokoh pewayangan yang bisa mengorbitkan jiwa patriotism pemuda Indonesia dalam berpolitik. Apatis bukanlah solusi dalam perpolitikan di Indonesia, ikutlah berperang dalam melawan kebathilan seperti yang dilakukan tokoh- tokoh pewayangan.

Ketakutan terhadap perpolitikan perlu dihapuskan, Indonesia darurat tokoh politik Idealis yang praktis artinya pandangan tetap Idealis namun mengalahkan kelicikan politik praktis dengan kecerdikan seperti yang dilakukan oleh Sri Kresna.

Cintai budayamu sebab budaya terlahir dari masyarakat yang berfikir dan bijaksana. Banyak kisah pewayangan dan tokoh-tokohnya yang bisa digunakan sebagi kiblat dalam berpolitik masa kini. Kisah Perpolitikan Pewayangan masih fleksibel dan mutlak di inovasikan di masa sekarang. Majulah Pejuang Politik Muda Bangsa Indonesia melalui Pendidikan Politik Budaya Asli Indonesia! #LombaEsaiPolitik