Indonesia memiliki ratusan komunitas etnis yang mendiami wilayah tertentu dengan ciri khas masing-masing yang memperkaya ragam budaya Indonesia. Indonesia banyak memiliki suku-suku yang memiliki adat budaya yang sangat kuat dan banyak diminati oleh wisatawan. 

Salah satu masyarakat etnis yang memiliki keunikan adat budaya adalah Suku Bajo yang dahulu hidupnya nomaden di atas perahu. Mereka tinggal dan beraktivitas di atas perahu yang disebut dengan ‘soppe’ secara berkelompok dalam setiap keluarga. 

Perahu bagi Suku Bajo ibarat rumah dan merupakan kebutuhan utama yang sangat berharga. Di perahu, segala aktivitas dilakukan, mulai dari makan, tidur, ritual keagamaan, bermain untuk anak-anak bahkan melahirkan pun kadang dilakukan di atas perahu.

Mereka menetap di dekat pantai hanya pada musim-musim tertentu ketika perairannya tenang sambil memperbaiki perahu dan alat-alat untuk menangkap ikan serta hasil laut lainnya, mengadakan kegiatan sosial seperti perkawinan, sunatan, penguburan, dan upacara lainnya.

Kehidupan masyarakat Bajo pada periode ini ditandai dengan pola permukiman yang mulai menetap di beberapa wilayah di nusantara, dengan mendirikan rumah panggung di atas air pada kawasan pantai.

Saat ini, permukiman Suku Bajo di sepanjang perairan Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu permukiman dengan jumlah populasi suku Bajo terbesar di nusantara. Lokasi permukiman Suku Bajo di Wakatobi tersebar di beberapa pulau, di antaranya di Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, dan Tomia. 

Jumlah penduduk suku Bajo di Kepulauan Wakatobi sebesar 9.282 orang yang tersebar di beberapa desa. Desa Mola yang terletak di Kecamatan Wangi-wangi Selatan merupakan desa terbesar komunitas Suku Bajo di Wakatobi, sebesar 68,55% suku bajo bermukim di sana dengan jumlah penduduknya 6.363 orang.

Suku Bajo merupakan suku yang tersebar di seluruh penjuru dunia, mulai dari daerah Indonesia seperti Sulawesi, Irian, Jawa, Nusa Tenggara, hingga luar negeri seperti Filipina, Malaysia, bahkan sampai Afrika. 

Meskipun berada dalam jarak yang saling berjauhan, suku Bajo di dalam jarak yang saling berjauhan, Suku Bajo di seluruh dunia memiliki cara hidup yang sama, budaya yang sama, termasuk bahasa yang sama.

Pengobatan Suku Bajo, ada beberapa jenis pengobatan tradisi Suku Bajo, yakni Kaka, Tuli, Kutta, Kadilaok Kadaradan Duata. Pengobatan ini dilakukan oleh Sanro, dukun pengobatan Suku Bajo.

Pada awal proses pengobatan, Sanro (dukun pengobatan) akan meraba bagian tubuh (telapak kaki, telinga, kepala) dari orang yang sakit lalu menentukan jenis pengobatan yang akan dilakukan. Penentuan ini menjadi hak khusus Sanro, karena ia dianggap paling mengetahui tentang orang yang sakit tersebut.

Menyuluh, salah satu kegiatan yang biasa dilakukan di malam hari oleh Suku Bajo adalah menyuluh. Menyuluh adalah kegiatan mencari ikan dengan cara menombaknya di laut.

Kegiatan ini disebut menyuluh karena kegiatan ini biasanya dilakukan di malam hari dengan menggunakan bantuan penerangan berupa senter (suluh). Menjelang magrib, para penyuluh berangkat ke laut untuk mencari ikan, durasinya rata-rata tiga jam.

Bedak Pupur, merupakan bedak yang biasa digunakan oleh masyarakat suku Bajo. Bedak Pupur bisa digunakan oleh siapa saja. Saat ini bedak pupur sering digunakan oleh para perempuan suku Bajo. Kadang orang menyebut bedak pupur ini sebagai bedak dingin. Bedak ini memang dapat melindungi pemakainya dari sengatan panas matahari. Menurut Suku Bajo, bedak ini dapat menghilangkan keringat, juga jerawat.

Perahu tradisional Suku Bajo, ada beberapa jenis di antaranya adalah body batang, lepa kaloko, lepa dibura, soppe, dan lambok. Masing-masing perahu memiliki bentuk yang khas dan digunakan untuk keperluan yang berbeda-beda. Perahu tradisional Suku Bajo dibuat dari kayu Katali dan kayu Kalimpapa.

Proses pembuatan perahu bermacam-macam tergantung jenis perahunya. Perahu kecil secara umum lebih simpel dan tanpa menggunakan ritual khusus.

Sedangkan perahu besar sebaliknya, proses pembuatannya cukup rumit dan membutuhkan ritual khusus, misalnya dengan membacakan dia saat pemasangan tunas dan sebagainya.

Meti, dalam bahasa Bajo artinya surut. Ketika air laut sedang surut, orang Bajo memanfaatkannya untuk menyuluh dan mencari tetehe. Meti dapat diartikan pula sebagai kegiatan mencari tetehe saat laut sedang surut.

Di laut sekitar perkampungan Bajo, berkedalaman 20-50 cm, akan mudah ditemukan tetehe (bulu babi) tersebar di antara tumbuhan laut dasar. Teripang dan bintang laut berukuran kecil hingga besar akan menjadi selingan dalam pencarian tersebut.

Orang Bajo tidak merasa aneh menyantap hasil laut seperti ikan, teripang, cumi, gurita ataupun bulu babi mentah-mentah. Mereka hanya membersihkan bagian-bagian kotor, membuang bagian yang tidak dapat dimakan dan menyantap daging hasil laut tersebut apa adanya tanpa diolah.

Carumeng adalah sebutan untuk kacamata renang tradisional orang Bajo. Carumeng juga biasa disebut cermin kaca. Bentuknya cukup unik karena framenya terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa agar bisa sesuai dengan kontur mata kita.

Frame tersebut kemudian dilengkapi dengan cermin kaca yang direkatkan dengan lem agar tidak tertembus oleh air. Terakhir karet disambungkan di dua ujung frame kayu dan jadilah kacamata renang tradisional. Orang Bajo biasa menggunakan carumeng untuk berenang, terutama jika menyuluh.

Akses Menuju Perkampungan Suku Bajo

Jika ingin mengetahui dan menikmati kehidupan lokal Suku Bajo, kalian dapat mengunjungi Wakatobi. Untuk menuju ke sana dapat ditempuh melalui jalur laut dan udara. Perjalanan dengan pesawat dapat diakses dari kota besar dan transit di Bandara Haluoleo Kota Kendari. 

Membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit dari Bandara Haluoleo Kota Kendari untuk sampai ke Pulau Wangi-wangi, Wakatobi. Jalur laut dapat menjadi alternatif bagi kalian yang ingin menghemat biaya. 

Jika memilih jalur laut, kalian dapat menggunakan jalur udara terlebih dahulu sampai kota Makassar, lalu dilanjutkan menggunakan kapal PELNI dari Makassar menuju kota Bau-Bau. Dari kota Bau-Bau ke Wakatobi dapat menggunakan perahu kayu yang beroperasi setiap malam, atau kapal PELNI yang terjadwal.

Setelah sampai di Wangi-wangi, kalian dapat menuju desa Mola di Wangi-wangi Selatan. Disana terdapat Bajo LEPA-MOLA yang mengelola wisata lokal di desa Suku Bajo. Sedangkan jika ingin mengunjungi pemukiman Suku Bajo yang berada di tengah laut, kalian dapat menuju Pulau Kaledupa. 

Di sana kalian dapat menikmati kehidupan lokal Suku Baju dengan beragam aktifitas seperti menyuluh, mencoba menggunakan bedak pupur, menikmati makanan khas Suku Bajo, berenang menggunakan Carumeng, dan bermalam di salah satu rumah penduduk Suku Bajo yang berada diatas laut.