Memiliki lebih dari 17.500 pulau, 700 bahasa daerah dan 300 kelompok etnis merupakan sebuah justifikasi bahwa Indonesia adalah negara yang kaya. Bukan hanya pada alamnya, pun pluralisme sosial di dalamnya. Tidak salah memang Mpu Tantular, dalam Kitab Sutasoma menuliskan semboyan Bhineka Tunggal Ika, sebuah semboyan dengan makna yang sangat dalam sebagai pemersatu dalam keragaman ini. Sehingga, bukan tanpa makna sampai dengan saat ini, semboyan Bhineka Tunggal Ika masih dicengkeram erat oleh kaki burung garuda, lambang negara Indonesia. 

Keberagaman sosial ini turut berkontribusi dalam menciptakan Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak sekali kearifan lokal. Tempat tinggal atau lingkungan dimana manusia berinteraksi membentuk nilai, norma, dan budaya yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Begitulah sebuah kearifan lokal dengan label Tri Hita Karana menjadi suatu hal yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Hindu di Bali.  

Secara etimologi, Tri Hita Karana diartikan sebagai tiga penyebab kebahagiaan dalam kehidupan. Adapun ketiga bagiannya adalah Parahyangan atau hubungan yang harmonis dengan Tuhan, Pawongan atau hubungan yang harmonis antar sesama manusia, dan terakhir Palemahan atau hubungan yang harmonis dengan alam. Ketiga hubungan itu, baik dengan tuhan, sesama manusia, dan alam harus dapat disinkronisasi dan dijalankan secara keseluruhan. 

Begitu kata Ida Bagus Angga Purana, S.H., M.H., selaku tenaga pendidik di Universitas Mahendradata Denpasar dan delegasi Indonesia dalam Study of United States Institute bidang demokrasi dan pluralisme. 

Lebih lanjut, “Ketiga bagian dalam Tri Hita Karana tidak dapat dikesampingkan, bukan berarti yang satu lebih penting dari yang lain. Jika memang ingin mencapai kebahagiaan, semua harus dilaksanakan dengan baik, sama halnya dengan Pancasila.” Sebagai kearifan lokal, hal ini masih bisa bertahan sampai dengan saat ini karena memang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, nilai yang menjadi pilar ideologi hidup berbangsa dan bernegara. 

Dari ketiga bagian yang dimuat dalam Tri Hita Karana, mungkin banyak yang berandai andai, nilai apa dalam Pancasila yang tercermin dalam Palemahan atau hubungan harmonis manusia dengan alam. Jawabannya sangat sederhana, pada sila-1 Pancasila, dimuat nilai-nilai ketuhanan. Dengan demikian, dipercaya bahwa  merawat apa yang diciptakan oleh sang maha pencipta merupakan ibadah. Selain itu, merawat lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Sudah saatnya memiliki mindset bahwa lingkungan adalah titipan dari anak cucu kita di masa depan agar kita jaga dengan baik.

Berbicara mengenai Palemahan, salah satu aksi nyata kearifan lokal yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali adalah keberadaan upacara Tumpek Wariga. Hari suci ini jatuh pada hari Saniscara Kliwon Wuku Wariga, sebuah penanggalan Bali. Tumpek Wariga diperuntukkan sebagai hari pemujaan kepada Dewa Sangkara, lambang kesuburan tumbuh-tumbuhan. Adapun keberadaan hari ini diperuntukkan sebagai hari dimana umat Hindu mengapresiasi anugerah dan kehidupan yang telah diberikan oleh tumbuh-tumbuhan kepada umat manusia. 

Tumpek Wariga atau di beberapa daerah dikenal juga dengan sebutan Tumbek Uduh, Tumpek Pengatag, sampai dengan Tumpek Bubuh ini merupakan hari yang jatuh 25 hari sebelum hari raya Galungan. Oleh karena itu, hari ini juga berfungsi sebagai momentum untuk memohon anugerah berupa hasil panen yang melimpah, agar dapat digunakan dengan baik sebagai persembahan pada hari raya Galungan, hari besar yang secara filosofis merayakan kemenangan atas hal-hal baik. 

Walau dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, bukan berarti kepedulian terhadap alam ini dilakukan hanya pada hari tersebut saja. Tumpek Wariga adalah sebuah selebrasi dan dianggap hari yang baik untuk merawat tumbuh-tumbuhan. Ajaran Palemahan untuk merawat dan melestarikan lingkungan tetap dilaksanakan setiap hari, tidak terbatas pada hari tertentu saja. 

Dengan mengimplementasikan nilai yang terkandung dalam Palemahan, maka nilai kemakmuran dan kesejahteraan yang terkandung pada sila ke-5 Pancasila turut tercapai. Keadilan sosial yang disebut pada sila ke-5 Pancasila memiliki makna bahwa seluruh rakyat Indonesia memiliki hak yang sama atas kemakmuran. Bagaimana bisa kemakmuran seluruh lapisan masyarakat dapat tercapai bila manusia di dalamnya acuh akan kelestarian lingkungan dan dengan keserakahannya mencari keuntungan egosentris. 

Untuk mengakhiri, kearifan lokal yang ada di Indonesia bisa bertahan sampai saat ini berarti memiliki korelasi yang positif terhadap nilai-nilai Pancasila. Kearifan lokal tersebut perlu dilestarikan untuk mempertahan kekayaan perbedaan yang ada. Setiap rakyat Indonesia, kendatipun berada pada kelompok masyarakat yang berbeda harus tetap menghormati kearifan lokalnya masing-masing. Jangan pernah menjadikan perbedaan yang ada sebagai alasan untuk memecahbelahkan keadaan, melainkan menjadikan itu sebagai kekuatan dan pembuktian bahwa kita dapat hidup harmonis dalam status quo keragaman yang nyata. Pada akhirnya, semua kearifan lokal yang ada memiliki kesamaan, yakni keselarasannya dengan nilai-nilai Pancasila sebagai norma dasar bangsa Indonesia sehingga bisa bertahan sampai dengan detik ini.