Hutan merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari kehidupan masyara­kat yang hidup di sekitarnya. Hubungan in­teraksi antara masyarakat dengan alam sekitarnya telah berlang­sung selama berabad-abad lamanya secara lintas generasi dalam bingkai keseimban­gan kosmos. 

Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan di setiap komunitas adat mempunyai ciri khas tersendiri (local spesific) sesuai dengan karakteristik budaya masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. 

Sumberdaya hutan dimaknai sebagai sumberdaya alam yang memiliki nilai ekono­mi, religius, politik, sosial dan budaya. Oleh karena itu, kelangsungan hidup dari masya­rakat dan hutan sangat tergantung dari ke­tersediaan sumberdaya hutan yang ada di sekitar lingkungannya (Nugraha, 2005:11).

Potensi sumberdaya alam yang ada di Indonesia yang berlimpah, ternyata memi­liki tingkat kerawanan dan kerusakan yang tinggi. Memburuknya kondisi hutan antara lain juga tidak diimbangi dengan kemampu­an membuat hutan tanaman yang baik dan memadai sesuai dengan kebutuhan pasar industri.

Penyebab utamanya adalah poli­tik penebangan tanpa izin (illegal logging), disamping karena perambahan (forest encroa­chment), peladangan berpindah (shifting culti­vation), kebakaran hutan (forest fires), serta se­bab-sebab lainnya.

Kebakaran hutan di Indonesia sendiri kini sudah mencapai 857 ribu hektar yang teridentifikasi dari Januari hingga September 2019. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, total luasan kkebakaran hutan dan lahan hingga September 2019 ini lebih besar dibandingkan dalam tiga tahun terakhir. Imbasnya, rakyat yang harus menerima segala konsekuensinya.

Pengelolaan hutan haruslah bijak agar dapat berkelanjutan, kearifan lokal mengajarkan soal berkelanjutan dan kesederhanaan akan mendapatkan keseimbangan dalam kehidupan. Kearifan lokal dapat menjelma sebagai subtansi ucapan maupun sebagai praktik kehidupan. 

Subtansi ucapan yang dimaksud adalah dalam bentuk pesan kebijaksanaan sedangkan kearifan lokal sebagai praktik kehidupan yakni dalam bentuk tindakan atau perilaku sebagai implementasi dari kearifan lokal sebagai subtansi ucapan (Salman, 2016).

Masyarakat adat Ammatoa Kajang merupakan komunitas adat yang bermukim di Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Amma Toa merupakan gelar bagi pemimpin dalam komunitas adat ini, yang dipilih berdasarkan aturan adat.

Kekhasan komunitas ini terletak pada prilaku dan keseharian masyarakatnya yang tetap memegang teguh nilai-nilai luhur dan keyakinan adat Ammatoa Kajang. Kawasan adat berada dalam wilayah administrasi Desa Tanah Towa Kecamatan Kajang, berjarak 56 km dari Kota Bulukumba.

Untuk memasuki Kawasan Adat Amma Toa, terlebih dahulu harus melalui pintu masuk dengan menggunakan pakaian adat Kajang berwarna khas hitam. Kawasan inti pemukiman masyarakat Kajang berada ± 800 m dari pintu gerbang yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Dalam perkembangannya, meskipun Amma Toa sebagai kepala adat memiliki peranan penting dalam pemerintahan kawasan adat, keberadaan pemerintah diluar kawasan adat tetap diakui. Bahkan karena dianggap lebih berpendidikan, pemerintah di luar Kawasan Adat Amma Toa Kajang juga sangat dihormati. 

Pemerintah dalam hal ini adalah camat, bupati, dan seterusnya. Bukti penghormatan ini terlihat dalam upacara adat atau sebuah pertemuan di mana pejabat pemerintah mendapat kappara dengan jumlah piring lebih banyak dari Amma Toa. 

Kappara adalah baki yang berisi sejumlah piring dengan beragam makanan. Dengan kappara ini pula kedudukan seseorang akan terlihat karena semakin besar sebuah kappara atau makin banyak piringnya, maka makin tinggi kedudukannya (Faisal, 2015).

Berdasarkan aliran Patuntung yang dianut dengan berpedoman pada Pasang Ri Kajang, masyarakat Suku Amma Toa Kajang harus menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan para leluhur. Suku ini memiliki beberapa perbedaan dibanding suku lainnya di Sulawesi Selatan, seperti gaya hidup, adat istiadat, sejarah, tradisi dan kepercayaan.

Mereka mengutamakan kesederhaan dalam hidup, dan tidak perlu hidup berlebihan karena dianggap akan menimbulkan konflik-konflik di antara masyarakat yang pada akhirnya menghasilkan ketidakharmonisan dalam masyarakat tersebut.

Gaya hidup sederhana ini tercermin mulai dari cara berpakaian, cara berkomunikasi, cara menyambut tamu dan sampai pada bentuk dan tatanan ruang/hunian mereka.

Pasang secara harfiah berarti “Pesan” yang merupakan sebuah amanat yang sifatnya sakral dan wajib hukumnya untuk dituruti, dipatuhi dan dilaksanakan, yang bila tidak dilaksanakan, akan berakibat munculnya hal-hal yang tidak diinginkan seperti rusaknya keseimbangan sistem sosial dan ekologis antara lain berwujud penyakit tertentu pada yang bersangkutan maupun seluruh warga (Hijjang:2005)

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muh. Dassir mengenai Pranata Sosial Sistem Pengelolaan Hutan Masyarakat Adat Kajang, Pasang adalah kumpulan pesan, petuah, petunjuk dan aturan bagaimana seseorang menjalin harmonisasi alam manusia dan tuhan. 

Pasang juga menjadi ukuran apakah sesuatu itu baik atau buruk atau apakah sesuatu itu boleh atau tidak. Pasang menganjurkan agar tidak merusak hutan karena Komunitas Adat Kajang memandang hutan sebagai sumber kehidupan dan penyangga keseimbangan lingkungan. (Dassir:2008)

Selain Pasang ri Kajang, kearifan lokal di Komunitas Adat Kajang terlihat dari segi pembagian hutan yakni Hutan Keramat (Borong Karama’) merupakan hutan adat yang menurut pasang terlarang (Kasipalli) untuk dimasuki.

Kedua, Hutan Perbatasan (Borong Battasayya), dalam hutan ini diperbolehkan mengambil kayu dengan syarat-syarat tertentu. Dan yang ketiga, Borong Luarayya merupakan hutan rakyat yang belum dibebani hak milik. (Dassir:2008).

Pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal tersebut telah menjadi tradisi turun-temurun dan dipraktikkan sejak lama. Tidak dipungkiri, pengelolaan hutan yang diterapkan Komunitas Adat Kajang telah banyak memberikan dampak positif bagi kelestarian hutan. Sebab, adalah adanya ketergantungan terhadap hutan sehingga pola-pola pemanfaatan hutan lebih mengarah pada kelestarian.

Prakter-praktek pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Kajang sampai saat ini masih tetap terjaga. Karena bagi Komunitas Adat Kajang, jika hutan rusak maka rusak pula kehidupan mereka. Olehnya itu, Komunitas Adat Kajang dapat menjaga kelestarian hutannya sampai sekarang

Apa yang dilakukan Komunitas Adat Kajang merupakan fenomena yang menarik, karena konsep yang dianut sesungguhnya menerapkan praktek pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan.

Jagai linoa lollong bonena, kammayatompa langika siagang rupa taua, siagang boronga (Peliharalah bumi beserta isinya, begitupun langit, manusia maupun hutan)