Replicas (2019) adalah film sci-fi—drama keluarga yang tayang di Indonesia pada bulan Januari lalu. Tulisan ini barangkali akan sangat terlambat untuk dikatakan sebagai review, namun ini adalah bagian dari penglihatan penulis terhadap keretakan gading yang diciptakan oleh Jeffrey Nachmanoff. Tidak ada karya yang sempurna, bukan?

Film yang diperankan oleh idola ibu-ibu tanggung se-dunia ini, Keanu Reeves, merupakan film pertama yang penulis tonton mengenai keberhasilan teknologi dalam merekayasa manusia buatan. 

Konsep awalnya, Keanu Reeves yang berperan sebagai Will Foster bersama rekannya, Ed (Thomas Middletich), sama-sama bekerja di perusahaan Bionyne yang konsentrasi pada teknologi penciptaan manusia buatan. Caranya dengan mentransmisikan memori dan data-data otak jasad manusia ke dalam algoritme robot. 

Will dan Ed berulang kali gagal dalam eksperimennya. Ada missing link yang tidak ditemukan keduanya yang menyebabkan penciptaan manusia buatan selalu gagal.

Pada adegan eksperimen algoritme seorang sersan yang gugur dalam perang dimasukkan ke dalam robot dengan kode 345, menunjukkan denial kesadaran pikiran sersan tersebut saat disadarkan pada tubuh robot. Robot 345 berulang kali meneriakkan "Who Am I?!" disusul dengan memukul-mukul tubuhnya sampai mematahkan beberapa elemen besi yang melekat di wajah 345.

Sudut kamera film sempat diambil dari pandangan mata robot 345. Sesaat setelah disadarkan, robot 345 yang merupakan kesadaran seorang sersan tampak bingung dengan tubuh barunya. Ia melihat telapak tangannya, tubuh dan kakinya, serta penglihatannya yang bisa scanning objek-objek yang ada di hadapannya. 

Bisa dibayangkan, bukan, tanpa adanya briefing, seorang manusia di suatu waktu bangun dengan tubuh besi? Pasti akan aneh rasanya.

Namun, hal ini tidak langsung dipahami oleh Will dan Ed. Mereka berdua merasa bahwa struktur pemikiran, kesadaran, memori, dan data-data di otak lainnya sudah dipindahkan dengan sempurna ke dalam algoritme robot. Sehingga (entah mengapa) Will dan Ed berpikir mestinya tidak ada kegagalan dalam rekayasa tersebut. 

Proses penciptaan 345 yang memakan banyak waktu dan tenaga membuat Will, yang juga seorang suami dan ayah bagi keluarganya, diceritakan tidak memiliki banyak kesempatan untuk quality time bersamaWill dan istrinya, Mona (Alice Eve), akhirnya memutuskan memboyong ketiga anaknya untuk berlibur. 

Naas, dalam perjalanan mobil yang dikendarai Will mengalami kecelakaan. Istri beserta ketiga anaknya tewas. Dari sinilah konfilk film dimulai.

Merekayasa Conscious Mind

Will dari awal film menunjukkan bahwa ia mempunyai obsesi pribadi terhadap penciptaan manusia buatan. Sayangnya, tidak dijelaskan dari mana obsesi tersebut bermula. 

Dalam film ini hanya menunjukkan bagaimana Will meyakinkan atasannya, Jones (John Ortiz), bahwa ia akan menyelesaikan proyek 345 saat Jones meragukan eksperimen Will dan Ed yang gagal berkali-kali. Will juga kerap membawa pekerjaannya ke rumah, seperti membicarakannya dengan Mona dan peralatan laboratorium yang dibawa ke rumah. 

Hal tersebut juga tampak saat ia harus memutuskan tindakan yang dilakukan pada keluarganya usai kecelakaan. Bukannya memanggil polisi atau pertolongan medis, Will justru langsung menghubungi Ed untuk membawa algoritme untuk menyalin data dan memori keluarganya. Keputusan pertamanya; mengkloning keluarganya yang sudah mati. 

Setelah perdebatan dan diskusi keras dengan Ed, akhirnya keduanya memutuskan bersama untuk "meminjam" alat-alat laboratorium Bionyne ke basement rumah Will. Di situlah praktik pengkloningan dilakukan. 

Namun dikarenakan mahal dan keterbatasan unit yang dibutuhkan, Will tidak dapat menyelamatkan seluruh anggota keluarganya. Ia harus merelakan satu di antaranya karena hanya tiga unit yang tersedia. Dengan segala pergolakan batin, ia harus merelakan putri kecilnya, Zoe, tidak "dihidupkan".

Dalam proses pengkloningan tersebut, dengan sistematis saintifik yang rumit dan penuh risiko, Will justru menjadi tidak yakin bahwa ia akan berhasil. Untuk menghidupkan anggota keluarganya, ia tidak menggunakan robot sebagai media, melainkan jasad mereka masing-masing. 

Jasad tersebut direndam dalam tabung cairan (secara biologis, mirip dengan janin dalam air ketuban) sambil ditransfer data-data berupa memori, informasi, dan "kesadaran". Will trauma karena kegagalannya pada 345 yang berakhir mengerikan.

Singkatnya, pengkloningan berhasil. Setelah menghapus memori mengenai Zoe, seluruh anggota keluarga Will bangun di pagi hari seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Mereka semua berjalan, makan, berbicara, dan hidup sebagaimana manusia pada umumnya. Will merasa lega dan kembali melanjutkan hidupnya seperti sebelumnya.

Tapi, dari keberhasilan Will dan Ed "menghidupkan" Mona dan anak-anaknya, ditemukan faktor percobaan pada 345 gagal. Bahwa ternyata, kesadaran atau dalam bahasa Sigmund Freud consciousness, yang dibangun dalam tubuh elektroda yang terhubung dengan baja dan titanium tidak dapat menemukan tubuh biologis yang harusnya menghidupinya.

Otak biologis yang dimasukkan dalam kepala sintetis masih mencari jantung, paru-paru, dan organ lainnya yang tidak dapat ditemukan dalam tubuh 345. Hingga akhirnya, 345 tidak sampai pada tahap conscious.

Freudian membagi kesadaran dalam tiga ruang. Ruang pertama, yang paling depan, adalah conscious. Kesadaran ini adalah sekumpulan mental, persepsi, perasaan, ingatan, dan keyakinan yang paling sering dipakai sehari-hari. 

Sersan, yang bangun dengan tubuh 345, tidak dapat mencapai kesadaran yang paling awal ini. Ia tidak memiliki mental sebagai robot, ia juga tidak memiliki ingatan dasar bahwa ia memiliki tubuh seperti yang ia lihat saat sadar. Inilah yang mengakibatkan proyek 345 gagal.

Ruang kesadaran yang kedua adalah praconscious. Ruang ini menyimpan available memory atau material ingatan yang siap pakai saat-saat dibutuhkan. Data yang disimpan dalam ruang ini bukanlah ingatan yang selalu dipakai, atau yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu dan belum pernah direcall. Seseorang akan membutuhkan sedikit waktu untuk mengunduh data yang berada di ruang ini. 

Kloningan Mona berhasil sampai pada tahap ini. Ia menyapa Jones, atasannya Will, dengan baik dan tampak akrab. Padahal tentu saja, Mona tidak sehari-hari berkomunikasi dengan Jones. Ketika Mona bertemu dengan Jones, ia dengan cepat merecall mental psikologisnya untuk berinteraksi.

Dan yang terakhir, ruang unconscious atau orang Indonesia biasanya menyebutnya alam bawah sadar. Ruang ini berisikan insting atau naluri, rangsangan-rangsangan, dorongan yang alamiah dibawa manusia sejak lahir, serta pengalaman traumatik yang dapat direpresikan atau ditekan dari tingkatan sadar ke tak sadar. 

Semua proses mental yang ditekan ke dalam pemikiran tak sadar mampu bertahan lama serta dapat memengaruhi perilaku manusia tanpa disadari.

Ruang ini juga menyimpan memori yang sebenarnya lebih kuat dari pada dua ruang terdepannya. Namun, untuk "memanggilnya" dibutuhkan waktu dan tenaga lebih. Hal ini juga terjadi pada kloningan putri sulungnya Will yang mengingat bahwa ada sosok Zoe yang ia tidak ingat siapa. Namun, ia meyakini bahwa ada sosok tersebut di dalam hidupnya.     

Penutup

Film ini berakhir dengan bahagia, meskipun cacat secara gagasan. Will dan keluarga kloningnya hidup bahagia, tanpa ada hambatan ataupun kekurangan sedikit pun. Bahkan di akhir, Zoe berhasil dihidupkan juga. 

Namun, banyak dalam film ini tidak menjelaskan secara saintifik risiko dari manusia buatan, rekayasa pikiran dan kesadaran, serta bagaimana kehidupan manusia buatan dalam menjalankan kehidupannya. 

Berbeda dengan film serupa yang menjelaskan risiko dan dampak buruk dari teknologi rekayasa, seperti film Robocop dan Child's Play, film ini memberikan optimisme pada perkembangan teknolgi rekayasa bahwa kesempatan hidup yang kedua bisa dibuat dan akan ada di masa mendatang. Tapi, tidak dengan risiko.

Terlepas dari itu semua, kalau Keanu Reeves sungguhan ditransmisikan jadi robot, aku sih no ya.