“A single death is a tragedy, a million deaths is a statistic.” ~ Stalin

Seperti halnya pagebluk yang meluas, korona memiliki kemampuan mengganggu daya sintas tiap orang dengan mudah. Bukan hanya mengganggu, tapi juga merusak, bahkan mematikan secara massal dalam satu periode waktu. 

Terbukti, sejak awal mula virus baru ini terdeteksi dan mulai menyebar per Januari sampai hari ini, 22 April 2020, John Hopkins University mencatat ada 2,5 juta orang yang terinfeksi dengan kematian mencapai angka 177.293 jiwa. Di Indonesia, lebih ngeri, sebanyak 616 jiwa meninggal dunia dari 7.135 kasus. Jelas, persentase kematiannya lebih tinggi dibanding tingkat kematian di dunia.

Tak ayal, kita jadi begitu cemas. Sebab bagi masyarakat yang terpapar virus, dirinya dengan kematian yang normal seakan tak diberi jarak-waktu. 

Dalam pandemi, kematian itu tampak prematur. “Isuk loro, sore mati (baca: pagi sakit, sorenya meninggal),” getir orang-orang Jawa menghadapi keganasan wabah Flu Spanyol yang merebak sejak musim kemarau, Juni 1918 hingga Februari 1919 di Hindia Belanda (Arif, Kompas, 1/4/2020). Dalam nada pesimistis yang sama, bukankah kegetiran seperti itu kian terasa hari-hari ini?

Tak jauh beda, masyarakat yang sebetulnya tidak terinfeksi korona pun gelisah. Takut tertular. Kita jadi membatasi diri dari perjumpaan fisik. Kita mesti diam di rumah, belajar cuci tangan yang benar, dan wajib memakai masker bila memang perlu untuk ke luar rumah. 

Kebiasaan baru itu dapat dilihat sebagai hasil akumulasi dari kewaspadaan dan kepanikan. Kapan giliran kita tiba? Mampukah kita bertahan hidup? Atau lebih jauh, melalui Covid-19, bagaimana kita harus menyikapi ancaman kematian?

Obsesi menaklukkan kematian

Kemunculan Covid-19 ini membuat hidup yang rutin kembali memikirkan makna kematian. Ujung dari rutinitas itu ialah kematian, baik karena epidemi maupun tidak. Sehingga untuk sebagian masyarakat meyakini bahwa: hidup begitu absurd bila terlahir untuk mati. Oleh karenanya, mereka lebih memilih melawan, ketimbang menanti kematian.

Kita lebih sering melupakan rasa takut akan kematian dengan melarutkan diri dalam keseharian yang banal. Atau mengalahkan ketakutan itu dengan sibuk menyiapkan diri sebaik mungkin sesuai tuntunan agama dan kepercayaan yang diyakini sampai ajal menjemput. 

Namun, ada sebagian kita yang justru menolak untuk takut. Dengan mendekonstruksi pemahaman yang sudah sakral: dari mortalitas menjadi imortalitas.

Ide radikal tersebut bukan bualan belaka. Lewat kolaborasi ilmu pengetahuan dan kapital yang besar, sejumlah ilmuwan dan hartawan memilih untuk menepis kefanaan. 

Seperti ahli gerontologi-biomedis Aubrey de Grey dalam bukunya Ending Aging (2007) menerangkan dengan keyakinan penuh bahwa kita bisa menghambat penuaan. Caranya: dengan mengidentifikasi penyebab penuaan, semisal mutasi pada DNA, mutasi mitokondria, dan penumpukan protein yang tak ada guna pada sel.

Futurolog Raymond Kurzweil, pada 2012, difasilitasi Google untuk mengembangkan apa yang belakangan disebut Human Immortality Project (HIP). Ia percaya, dalam waktu dekat, teknologi nano dapat membantu tubuh agar makin imun. Menjadikan tubuh jauh lebih sehat adalah anak tangga pertama menuju keabadian. 

Pula, melalui Calico, anak perusahaannya, Google memulai kerja-kerja besarnya mengatasi kematian. Tahun 2018, The National Academy of Medicine (NAM), sebuah lembaga riset mandiri di AS, mulai memusatkan perhatiannya untuk mengakhiri penuaan.

Peter Thiel, tokoh berpengaruh Silicon Valley dan pendiri PayPal, dengan kekayaan pribadi mencapai 2,2 miliar dolar AS, begitu terobsesi untuk hidup panjang. 

“Saya pikir ada tiga pendekatan utama dalam hal kematian: Anda bisa menerimanya, mengingkarinya, atau melawannya. Saya pikir yang dominan adalah kita akan mengingkari atau menerimanya, dan saya memilih untuk melawannya,” ujarnya pada media Telegraph.

Ambisi Thiel itu diejawantahkan dengan serius dalam proyek bernama Unity Biotechnology. Bersama Jeff Bezos, pendiri Amazon, perusahaan tersebut dibuat untuk memerangi penuaan. 

Bill Maris, seperti yang diceritakan Yuval Noah Harari dalam Homo Deus (2015), memimpin Google Ventures (GV), menginvestasikan 34 persen dari portofolionya yang bernilai dua miliar dolar AS pada proyek-proyek yang bertujuan memanjangkan umur manusia.

Persekutuan antara teknologi medis dan uang memang memiliki probabilitas tinggi untuk bisa menginterupsi sejarah. Tetapi, ada hal lain yang sublim yang ditawarkan pada sejarah menyoal makna kematian.

Obsesi mendamaikan kematian

Kematian bukanlah musuh yang harus ditaklukkan. Mayoritas kita memandang bahwa, kendati absurd, dengan terlahir untuk mati, hidup jadi bermakna. 

Dengan adanya batas kehidupan, justru kita mulai memikirkan masa depan sejarah. Tak terkecuali: tentang ancaman kematian. Ada paradoks, tetapi hukum alamnya bekerja demikian. 

Hidup abadi dimungkinkan hanya akan membuat kita abai dalam menyusun (dan menyikapi) skala prioritas aktivitas kita. Kreativitas manusia jadi tumpul sebab ketiadaan dorongan untuk segera bersikap. Mengetahui fakta cepat atau lambat akan mati adalah dorongan yang paling potensial.

Hidup adalah fakta eksistensi manusia. Ia, bagi Arthur Schopenhauer (1788-1860), intelektual yang melihat hidup dengan pesimistis, cuma berisi penderitaan demi penderitaan. Sebab sinopsis peradaban manusia adalah sejarah panjang ketidakadilan. Hidup selamanya hanya akan memperpanjang daftar derita.

Tak seperti angkuhnya para pesohor Silicon Valley dan Yuval Noah Harari, yang meyakini manusia adalah seonggok daging hidup dengan algoritma biokimiawi sebagai mekaniknya, mayoritas kita lebih menerima konsepsi adanya jiwa dalam tubuh. Immanuel Kant mengklasifikasikannya sebagai noumena (the thing-in-self). Antonim dari fenomena (appearance thing)

Keduanya, buat Schopenhauer, memiliki kausalitas di mana noumena dapat memanifestasikan dirinya dalam fenomena. Kehendak untuk hidup (the will to life) merupakan hasil manifestasi tersebut. Penderitaan ala Schopenhauer berasal dari interaksi keduanya.  

Pendek kata, kehendak untuk hidup itulah yang melahirkan derita. Oleh sebabnya, Schopenhauer beri semacam pilihan-pilihan dalam bersikap: mengafirmasi atau menyangkalnya. 

Kebanyakan kita akan mengafirmasi atau menyangkalnya, dan seperti Thiel di atas, saya memilih sikap alternatif, yaitu mendamaikannya. Artinya, karena hidup tak melulu tentang luka dan penderitaan tak selalu dipersepsikan sebagai duka.

Kematian adalah akhir dari derita atas intervensi (bukan belenggu) the will to life itu. Buat yang beragama, kita dibekali pelbagai hal yang eskatologis. Sehingga bila hidup adalah kumpulan penderitaan dikarenakan “beban” agama dan sejarah, atau juga rutinitas dengan rupa-rupa masalah, maka kematian merupakan jalan menuju dunia idea, yang bagi kita yang beragama Islam, tempat keadilan dan kebahagiaan hakiki berada. 

Wa naḍa'ul-mawāzīnal-qisṭa liyaumil-qiyāmati fa lā tuẓlamu nafsun syai`ā… Dan kami letakkan timbangan-timbangan keadilan pada hari kiamat, maka tak ada satu jiwa pun yang akan terzalimi sedikit pun… (QS. al-Anbiya’: 47). Dan hidup selamanya hanya akan jadi sebentuk penyangsi akan semua itu.

Jangankan keabadian, mewabahnya Covid-19 ini justru membuat kita merenungi kematian. Daya kejutnya pada rutinitas kita luar biasa. Sebab ancaman kematian jadi begitu dekat.

Kecemasan komunal ini mestinya berujung pada pemahaman lebih utuh akan hidup bersama yang bermakna. Apakah obsesi akan hidup yang abadi menjadi realitas? Bayangan itu masih sangat amat buram.

Akan tetapi, bayangan awalnya, lewat kemajuan ilmu kedokteran, harusnya dengan segera bisa memastikan bahwa 177.293 orang yang mati prematur karena pandemi bukan menjadi, seperti ucapan angkuhnya Stalin di muka tulisan ini, statistik World Health Organization (WHO) semata –setidaknya, kematiannya mesti berbuah obat dan vaksin.