Mahasiswa
1 tahun lalu · 238 view · 3 menit baca · Budaya 86940_13430.jpg
www.onlinekalam.com

Keambiguitasan Interpretasi dan Substansi Natal

Kesibukan umat Kristiani di seluruh dunia tengah dilakukan menjelang penyambutan hari besar sekaligus hari lahir sang Juru Selamat; Yesus Kristus yang tinggal menghitung hari. Keabsahan momentum bahagia ini tidak hanya diliputi rasa haru, keriangan, dan dengan konsepsi kultur yang secara inklusif telah dititikberatkan menuju substansi uang lebih luas, lintas agama misalnya.

Penganekaragaman cara pandang manusia menyoali apakah natal hanya sebuah ritme nyata beraroma agamis menuju pemecahan stigma dan akulturasi budaya semakin kontras. Tidak sedikit friksi diduga kuat dianulir oleh perbedaan pendapat menyoali konsepsi pengucapan hari suci kelahiran Isa Al-Masih yakni Natal.

Keambiguitasan penafsiran tentang bolehkah atau haramkah seorang Muslim (di sini saya mengambil sudut pandang para Muslim) ikut menghegemonikan intimasi natal lebih dalam lagi –atau jangan dulu ke akar serabutnya– coba memasuki premis yang primer dahulu.

Kepusingan masyarakat Muslim umumnya pasti disebabkan propaganda para pelakor yang menyerta-nyertakan sifat amoral, anti-simpatik, intoleran, kebencian berlebihan yang berorientasi non pragmatis.

Sama halnya, konsep yang dilandasi oleh asas manipulatif dengan gusarnya merasuki pola pikir murni manusia. Walau pada hakikatnya natal lekat dengan perfeksi Kristen, faktanya sampai hari ini masyarakat dunia (tak pandang bulu) ikut serta merayakan hari raya penuh warna-warni suka cita ini.

Masyarakat dunia melonjak tajam dalam hal berpandangan mengenai konsepsi perayaan natal. Mereka tidak lagi menganggap natal hanya perayaan besar suatu agama saja, tapi lebih dari itu: Kebudayaan baru.

Prinsip ini didasari atas kuatnya rasa persaudaraan kemanusiaan yang tak terbatasi oleh isu cacat diversifikasi yang tengah riuh menyeruak. Tapi untung mereka tak terbuai. Alhamdulillah.

Sebagai sesama umat manusia yang ditakdirkan berbeda-beda, sudah sedini mungkin stigma diri perlu dikembangkan secara masif. Terkhusus di Indonesia. Sayang sekali, setiap menuju tanggal 25 Desember di kala saya ikut juga memarakkan hari sakral ini, ada saja balasan dari relasi saya yang bernada sentimen dan friksi.

Itu mungkin sekadar contoh kecil dari pemegang prinsip kuno di luar sana. Satu hal yang fundamentalis, ini sungguh binal.

Keriskanan masyarakat kita untuk dijerembabkan dalam perspektif bodoh ini kian menguat. Sudah seharusnya, jangan membiarkan pihak sympatheticless mengelabui pikiran kita. Natal tidak akan pernah salah, bahkan bisa jadi pemersatu insan jika diobjektifikasi secara konkrit.

Prof. Quraish Shihab menekankan bahwa mengucapkan 'Selamat Natal, Merry Christmas, Joyeux Noël' itu diperbolehkan. Kesimpulan ini sejalan mulus dengan perkataan beliau berikut:

"Saya tahu persis ada ulama besar di Suriah memberi fatwa bahwa itu boleh. Fatwanya itu berada dalam satu buku dan bukunya itu diberikan pengantar oleh ulama besar lainnya, Yusuf al-Qaradawi, yang di Syria namanya Mustafa Al Zarka’a. Ia mengatakan, mengucapkan selamat Natal itu bagian dari basa-basi, hubungan baik. Ini tidak mungkin menurut beliau, tidak mungkin teman-teman saya dari umat Kristiani datang mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri terus dilarang gitu."

Bisa dengan mudah kita petik dan teladani bahwa sebagai seorang ulama yang sudah bergelut di per-fiqih-an ke berbagai belahan dunia Muslim lainnya bahwa fenomena lucu ini hanya tejadi di Indonesia.

Apakah ini sebuah kebobrokan prinsip yang bersifat kontinu? Seginikah modernitas ke-Islaman kita? Atau bahkan tidak ingin disebut sebagai Muslim yang moderat?

Saya tidak ingin membandingkan substansial integritas masyarakat Muslim Suriah dengan Indonesia punya dalam hal kapabilitas menyikapi toleransi. Sebagian orang di Indonesia dengan cermat memandang legitimasi pluralitas sepatutnya memasuki jiwa ke-Indonesiaan kita.

Jangan jadikan setiap momentum keagamaan diisi oleh kecurigaan bengis yang akhirnya memprovokasi kerukunan jiwa antar umat beragama yang sudah mengakar lama sekali.

Keambiguitasan kita perlu didegradasikan dalam menyikapi indahnya akulturasi yang sebenarnya sudah lama terpacut ini. Tindakan-tindakan non-kooperatif perlu dicegah menuju nilai hirarkis perayaan kebudayaan yang super hakiki ini.

Melakukan sweeping terhadap penggunaan atribut natal dan memboikot perayaan kecil-kecilan natal adalah contoh kebobrokan moral yang masih terpatri sampai hari ini.

Natal selayaknya mengukir keriangan wajah-wajah manusia dengan penuh suka cita. Bukalah stigma independen bagi yang belum mengilhami apa sesungguhnya makna di setiap peristiwa suci dengan damai dan penuh toleran. Apa pun agamanya.

Sudah saatnya, seluruh manusia di tanah air menginterpretasikan diferensiasi dengan penuh pemahaman yang jernih dan matang bukan dengan kebungkaman yang terlampau dalam meracuni sisi kemanusiaan kita.

Selamat merayakan hari raya Natal bagi teman-teman sekalian. Suka cita semoga datang pada kita semua.

Artikel Terkait