Fajar telah lenyap dan sinar matahari mulai menerobos masuk lewat ventilasi udara, langit biru tak tersapu awan, burung kutilang berkicau saling bersahutan, induk ayam mulai kesana kemari bersama anak-anaknya seperti hendak melaksanakan jalan-jalan pagi.

“Semoga ini hari yang baik” selalu terbesit harapan di hati Rio ketika memulai paginya, ia mulai mengayuh sepedanya menyusuri jalan raya yang masih lenggang, jadi dia bisa ngebut dengan sepeda bututnya itu, kadang malah atraksi-atraksi sendiri, melepas tangannya dari setir sepeda berlagak seperti peserta-peserta di ninja warrior.

Ia memarkirkan sepedanya di depan pasar, membiarkan tas ranselnya yang berisi buku dan seragam sekolah tergantung di setir sepeda. Ini kegiatan yang setiap pagi dilakukannya, sebelum sekolah ia menjadi tukang parkir di pasar. Mobil-mobil pick up berisi timbunan semangka, kubis, dan, bawang merah mulai memasuki halaman pasar.

Senyum mulai merekah di bibir Rio menunjukkan lesung pipinya, wajahnya berseri-seri. Tentu saja ia tidak akan melewatkan rezeki ini dengan percuma. Dengan tanggap tangannya mulai memberi aba-aba maju, kiri, mundur, dan berhenti.

Sopir pick up memberinya uang seribu rupiah meski begitu ia tetap bersemangat, demi mengisi sakunya yang kering uang. Alhasil pagi ini dia mendapatkan uang lima belas ribu rupiah. Pasar semakin ramai, namun sekarang sudah pukul 07.30 WIB.

Terlambat sekolah itu sudah pasti, Rio buru-buru mengambil tasnya lalu memakai seragam putihnya begitu saja rangkap dengan kaos yang saat ini ia kenakan. Sesampainya di sekolah ia menuju daun pintu kelas.

Terdengar Ibu guru Fisika telah berceloteh memberi sarapan angka dan rumus yang membuat kepala panas dan ingin meledak. Anak-anak duduk anteng bagai patung, matanya melihat ke papan tulis, entah mereka mendengarkan atau malah berimajinasi.

“Assalamuala-”

“Jam segini baru datang?”

Belum selesai ia mengucapkan salam, Bu Risma sudah menyambar duluan, tatapannya sinis seolah sudah hafal betul siapa anak yang sedang berdiri di daun pintu. Rio hanya diam dan menatapnya datar kemudian ia berjalan menuju bangkunya, rambutnya yang acak-acakan terkena asap kendaraan tadi pagi dan bajunya yang lusuh karena tak pernah disetrika.

“Kamu kenapa sih terlambat mulu?”

Tasya bertanya sembari menghampiri bangku Rio saat jam istirahat.

“Kepo lu” jawab Rio cuek.

Matanya merah seperti kelelahan dan tidak ingin diganggu. Tasya beranjak pergi dan mendengar sebal karena diabaikan dan malah ditinggal tidur. Jam istirahat telah selesai, Rio gelagapan bangun saat ibu guru mengucapkan salam. Pelajaran demi pelajaran telah terlewati. Bel sekolah telah mengalun merdu seperti bel es krim.

Seperti biasa setelah pulang sekolah Rio melepas seragam putihnya menyisakan kaos lalu mengayuh sepeda butut itu lagi, kali ini ia tak menuju pasar karena pukul 13.30 pasar sudah sepi. Jadi dia menuju ke pesarean, kembali menjadi tukang parkir.

Terik matahari terasa begitu menyengat kulit. Ini bukan weekend bukan juga hari minggu atau jumat, jadi tidak banyak yang berwisata, apalagi wisata religi mulai sedikit yang mengunjungi. Satu dua bus masuk di parkiran, berjajar di depan para pedagang kaos dan kopyah.

Hari semakin sore, bayang-bayang matahari mulai sama dengan bendanya. Rio pun kembali pulang, dua bungkus nasi untuk dirinya dan untuk emaknya yang mulai renta, sisa uangnya ia berikan emaknya untuk beli beras dan tempe besok.

Hari berganti hari, malam yang pekat kembali terang, bumi terlihat hidup, pohon dan rumputan terlihat segar. Hujan semalam menyisakan genangan air di halaman rumah juga jalan setapak. Rio menggayuh sepedanya untuk pergi ke sekolah.

“Bu Nanik kemarin menyuruh membuat cerita pengalaman kan? Hanya itu pengalaman yang saya punya. Saya tidak pernah berlibur seperti Doni atau bermain game seperti Vicky, jangankan bermain game, android saja saya tidak punya. Tidak pernah memancing bersama kakak seperti Ali karena tidak punya kakak ataupun mendapat kado dari papa seperti Tasya.”

Saat jam istirahat berlangsung, Tasya lagi-lagi kepo.

“Kamu nggak pernah cerita sih?”

“Buat apa?”

“Ya, barangkali aku bisa bantu”

“Bantu apa?”

“Kapan sih kamu nggak nyebelin?”

“Hahaha bercanda Tasya”

Rio terbahak puas seperti senang sekali menyaksikan Tasya sebal kemudian dia pergi meninggalkan Tasya. Esok harinya, setiap pagi Tasya selalu menanyakan Rio sudah makan atau belum. Hari ini dia malam membawakan sebungkus nasi miliknya yang tidak ia makan karena tidak suka menunya.

“Kalau tiap hari gini kan enak?”

“La terus aku makan apa”

“Hahaha” Rio nyengir tersusun rapi seperti biji mentimun, lesung pipinya membuat ia terlihat cute.

Tasya hanya bengong melihat Rio melahap makanan, heran kenapa di zaman seperti ini masih ada temannya yang untuk makan saja susah. Hari itu Rio memilih meninggalkan sekolahnya, tapi tidak untuk mimpi-mimpinya yang terpatri dalam hatinya, abadi dalam buku agendanya, ia bermimpi menjadi seorang penulis.

Malam ini cukup dingin hujan mengguyur kota Jakarta, disaat seperti ini secangkir coklat panas menarik perhatian Tasya, lalu dia berdiri di depan jendela kaca asramanya. 

Menatap ratusan lampu dan gedung-gedung pencakar langit. Ia tidak sengaja melihat koran yang tergeletak di meja sebelahnya. Ia terkejut saat melihat nama Rio yang nimbrung dengan sebuah cerpen.

Mata Tasya berbinar, setidaknya separuh dari mimpi temannya telah terwujud, meski tidak seberuntung dirinya yang bisa kuliah di UI Jakarta, pikirannya namun Tasya salah. Karena setelah meninggalkan sekolah Rio diangkat anak oleh seorang janda kaya raya. Ia pun bisa melanjutkan sekolahnya sampai di UGM mengambil jurusan bahasa dan sastra.

Terkadang ketika hati kita benar-benar pasrah atas segala usaha Tuhan memberikan rencana lain sebuah keajaiban.