Pilihan-pilihan yang kau ambil, jenis lelucon yang kau lemparkan, level yang membuatmu menangis, tegantung seperti apa lingkunganmu. Kau bisa saja menghabiskan sepanjang waktumu bersama orang-orang kejam, serakah, dan tidak kenal kasihan. Namun, selama hantu kebaikan masih terus bergentayangan, kau tidak dapat mencegah tersulutnya pelangi.

Daniel Ellsberg, lahir 7 April tahun 1931, merupakan mantan analis Militer Amerika Serikat. Di tahun 1971, dirinya menjadi tokoh paling berbahaya di AS. Di kala itu, Pentagon Papers yang berisi sebuah penelitian super rahasia Pentagon tentang pengambilan keputusan Pemerintah AS dalam kaitannya dengan Perang Vietnam, dibocorkannya.

Pidato yang dihembuskan oleh Randy Kehler pada Konfrensi Liga Penentang Perang begitu bergentayangan di kepala Daniel Ellsberg. Di tahun 1969 ini, dirinya mendapatkan cahaya yang membebaskan jiwa. Kelak, kejadian ini begitu berpengaruh bagi tindakan besar yang diambilnya.

Pidato Randy Kehler yang begitu menggelegar, menyadarkan bahwa di ujung sana ada negara yang berperang dengan cara-cara tidak adil, gelontoran dana rakyat yang dibakar sia-sia, serta ribuat pemuda yang sekarat sepanjang hari.

Sungguh ini melahirkan sejuta kegelisahan bagi mereka yang punya perasaan.

Fakta-fakta yang diketahui dan renungan mendalam membuat Daniel Ellsberg terisak penuh tanya dan mengucurkan air mata lebih dari satu jam.   

Wahyu ini membuat Daniel Ellsberg memiliki pandangan yang cukup ganjil bagi lingkungannya kelak. Menurutnya, seseorang tidak akan betah untuk hidup dalam lingkungan busuk. Segala kebohongan presiden, juru bicaranya, serta petugas-petugasnya, sengaja diproduksi untuk ditujukan pada publik.

Petualangan itu dimulai ketika dirinya menginjak usia 20-an. Pemuda ini masuk Universitas Harvard di jurusan ekonomi menggunakan beasiswa dan lulus dengan hasil yang memuaskan pada tahun 1952. Kemudian, selama satu tahun berikutnya melanjutkan studi di Universitas Cambridge.

Di tahun 1954, dirinya terdaftar di Korps Marinir AS. Di sini dirinya menjabat pemimpin pleton dan komanda kompi di Divisi Infanteri 2. Pada tahun 1957, ia dibebastugaskan dari letnan satu.

Lantas, Daniel Ellsberg memutuskan untuk kembali ke Universitas Harvard selama dua tahun dan kemudian mulai bekerja sebagai analis strategis di RAND Corporation. Di tempat kerjanya ini, dirinya berkonsentrasi pada strategi nuklir serta perintah dan kontrol atas senjata nuklir.

Selanjutnya, Daniel Ellsberg menyelesaikan PhD di bidang Ekonomi dari Universitas Harvard dengan desertasi yang kemudian umum dikenal sebagai Paradoks Ellsberg pada tahun 1962.

Saat Agustus tahun 1964, dirinya bekerja di Pentagon di bawah Menteri Pertahanan, Robert McNamara, sebagai asisten khusus bagi Asisten Menteri Pertahanan untuk Urusan Keamanan Internasional, John McNaughton. 

Lalu, di kemudian hari dirinya pergi selama dua tahun menuju Vietnam Selatan. Di tempat ini ia bekerja untuk Edward Lansdale sebagai anggota Departemen Luar Negeri.

Publik Harus Tahu Kebejatan Ini

Sepulangnya dari Vietnam Selatan, pada tahun 1967 dirinya kembali bekerja di RAND Corporation. Di sini konsentrasinya fokus pada penelitian rahasia yang ditugaskan Kementrian Pertahanan mengenai dokumen rahasia tentang pelaksanaan Perang Vietnam. Dokumen-dokumen penelitian ini rampung pada tahun 1968 yang kemudian secara umum dikenal sebagai Pentagon Papers.

Atas kegelisahan yang memuncak, antara perpaduan kemuakan atas kebohongan yang terus diproduksi dan getirnya dampak dari perang, di akhir tahun 1969, dirinya memutuskan untuk mengambil tindakan nekat. Dibantu koleganya, Anthony Russo, secara diam-diam dibuat beberapa salinan dokumen penelitian rahasia perihal Perang Vietnam.

Setelah aksi menyalin dokumen sukses, Daniel Ellsberg menganggap perlu untuk bertemu dengan beberap orang yang telah mempengaruhi dirinya dalam bertindak. Sosok tersebut jelas adalah Randy Kehler dan seorang penyair, Gary Snyder. Pertemuan ini semakin membulatkan tekadnya. Segala tirai tindak kelaliman perlu disibakkan.

Di sepanjang tahun 1970, Daniel Ellsberg membujuk beberapa Senator seperti J. William Fubright dan George McGovern agar mau merilisi Pentagon Papers. Beberapa salinan dokumen ini juga beredar di kalangan sarjana Institute for Policy Studies (IPS). 

Selain berbagai dengan beberapa pihak di IPS, Daniel Ellsberg juga membagi dokumen tersebut dengan Neil Sheehan. Kemudian, koresponden The New York Times tersebut menulis cerita berdasarkan dokumen yang dirinya terima secara langsung dari si pembocor dan berdasarkan kontak di IPS.

Di hari minggu, 13 Juni tahun 1971, publikasi pertama The New York Times memuat sebanyak sembilan kutipan dan beberapa komentar mengenai dokumen berisikan 7.000 halaman.

Menurut media pers ini, Pentagon Papers memperlihatkan bahwa Pemerintahan Lyndon Johnson secara sistematis telah berbohong tidak hanya untuk rakyatnya. Akan tetapi, hal tersebut juga dilakukan kepada Kongres perihal signifikasi tindakan tersebut.

Pemerintah AS Ingin Api Kebenaran Padam

Selama 15 hari sebelum penerbitan, The New York Times dihalang-halangi untuk menerbitkan laporan mencengangkan ini. Tindakan keji ini berlandaskan perintah pengadilan yang dipesan oleh Pemerintahan Richard Nixon.

Di sela-sela perburuan yang dilakukan oleh FBI akibat membuat malu Pemerintah AS, Daniel Ellsberg juga membocorkan dokumen pada The Washington Post beserta 17 media pers lainnya.

Secara sederhana, isi dokumen yang dibocorkan ini membuka tirai bahwa Pemerintah AS ternyata sengaja memperluas perang. Padahal kala itu muncul banyak penolakan atas kebijakan yang menginjak-injak kedaulatan negara lain.

Gejolak perang rupanya merembet hingga pantai Vietnam Utara. Bagian yang tidak kalah mencengangkan, Laos juga ikut digempur lewat serangan udara.

Serangan-serangan ini belum diberi tahu pada publik AS. Padahal Presiden Lyndon Johnson berjanji tidak akan memperluas perang.

Bocornya Pentagon Papers sekaligus membuat malu pemerintahan saat itu yang dipegang oleh Richard Nixon beserta pemerintahan sebelumnya di bawah John F. Kennedy serta Pemerintahan Lyndon Johnson.

Kenyataan ini membuka mata rakyat lebar-lebar bahwa pemerintah mereka tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Justru, pemerintah terus menggulirkan sikap yang sungguh fatal meski mereka tahu hal tersebut salah.

Keengganan The New York Times dalam menghentikan publikasi isi bocoran membuat pemerintah jengkel dan kemudian menggugat sikap ini.

Akan tetapi gugatan pemerintah mental. The New York Times memenangkan sidang atas tuntutan pada diri mereka berkat Amandemen Pertama berkenaan dengan kebebasan pers.

Dalam momen ini, Intervensi seronok terhadap media pers besar di tahun-tahun sebelumnya belum pernah terjadi. Bahkan sejak Abraham Lincoln menjabat sebagai Presiden AS!

Tidak berhenti hanya dengan mencegah kebocoran ini meluas, Pemerintah AS tentu juga sangat bernafsu untuk mencengkram sang pembocor.

Atas tindakan Daniel Ellsberg yang membuat Pemerintah AS harus menahan malu dan dicecar banyak pihak, segala upaya untuk mendiskreditkan dan pembunuhan karakter ditujukan padanya.

Keajaiban Inheren Dalam Kenekatan

Pada 28 Juni tahun 1971, Daniel Ellsberg memutuskan untuk menyerahkan diri pada Kantor Jaksa AS di Boston. Dirinya mengakui bahwa telah memberikan berbagai dokumen pada media pers. 

Tindakan yang berani ini menemukan alasannya yang indah.

Sebagai warga AS yang memiliki tangung jawab, dirinya tidak bisa untuk terus menyembunyikan informasi terhadap publik AS. Segala bahaya dan resiko yang akan menimpa, telah siap diterima dengan kebranian yang melambung tinggi.

Daniel Ellsberg berpendapat bahwa dokumen-dokumen yang dibocorkannya dibuat tetap rahasia bukan untuk para musuhnya, melainkan agar publik AS tidak mengetahui fakta sesungguhnya.

Selain itu, apabila motifnya adalah untuk membantu memberi informasi pada musuh, usaha untuk membagi informasi ini dengan media pers adalah tindakan yang sungguh keliru.

Daniel Ellsberg bersama temannya, Anthony Russo, dihadapkan pada tuduhan Undang-Undang Spionase 1917 beserta pencurian dan konspirasi. Kalkulasi atas segala tuduhan ini menghantarkan dirinya maksimal akan dijatuhi hukuman 115 tahun dan 35 tahun untuk temannya.

Sungguh ajaibnya, seperti dalam kisah-kisah epik fantasi, dia bersama teman sejawatnya terselamatkan berkat tindakan Pemerintah AS yang sungguh kelewat bengis.

Pada 9 Mei, dilakukan penyadapan ilegal tanpa perintah pengadilan kepada Daniel Ellsberg. Akibat tindakan kotor Pemerintah AS mengumpulkan bukti secara ilegal, membuat semua tuduhan terhadap dirinya beserta temannya dimentalkan Hakim Matthew Byrne pada 11 Mei tahun 1973.

Segala tuntutan yang sebelumnya telah dibangun dengan megah dan keji, seketika pula runtuh luluh lantah!

***

Tulisan ini ditujukan bagi Daniel Ellsberg yang beranjak senja namun tetap berani menghidupkan lonceng kenekatan.