Tak ada yang bisa menyangkal bahwa Korea Selatan kini merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terkuat di Asia bersama Jepang dan Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi yang signifikan dari tahun ke tahun membuat negeri Ginseng semakin diperhitungkan dalam percaturan ekonomi dunia. Dalam buku yang berjudul “Why Nation Fail” karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson, dijelaskan bahwa keajaiban ekonomi dapat hadir karena institusi ekonomi yang inklusif.

Apakah pemerintah Korea Selatan menjalankan institusi ekonomi yang inklusif? Jawabannya adalah ya. Kekayaan dan kemegahan yang dialami Korea Selatan hari ini adalah hasil dari upaya pemerintah mereka dalam menurunkan ketimpangan distribusi pendapatan, menyerap lebih banyak tenaga kerja, dan memerangi kemiskinan hingga akar-akarnya. 

Kemajuan ini bukan hanya dirasakan di ibukota Seoul, tapi sudah merata di berbagai tempat seperti kota Incheon, Daegu, serta Ulsan.

Melihat fenomena ini, rasanya sulit membayangkan bahwa dulu Korea Selatan adalah negara miskin yang kian terpuruk akibat perang saudara. Tidak seperti sekarang, Korea Selatan di dekade 40an sampai 50an dapat dianggap sebagai negeri tanpa harapan yang setiap saat dapat dihancurkan oleh militer Korea Utara. Hal ini semakin diperparah oleh kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas bertumpu pada sektor pertanian.

Perekonomian Korea Selatan mulai dikembangkan ke arah yang ideal saat Jenderal Park Chung Hee mengambil alih kepemimpinan dari presiden sebelumnya. Park Chung Hee melakukan program percepatan ekonomi dengan memulai kebijakan industrialisasi diberbagai bidang. 

Lewat keputusan dirinya, Korea Selatan mendirikan Dewan Perencanaan Ekonomi yang tugasnya diemban oleh para teknokrat yang kompeten.

Walau berada dalam cengkraman rezim militer selama tiga dekade, nyatanya pertumbuhan ekonomi Korea Selatan melesat dengan tajam lewat kebijakan yang Park Chung Hee buat. 

Para ekonom dunia menamai fenomena ini dengan “Keajaiban Han”, mengacu pada Sungai Han yang mengalir di ibukota Seoul. Istilah “Keajaiban Han” kini digunakan oleh publik dunia sebagai representasi kekuatan ekonomi Korea Selatan yang amat berpengaruh dalam skala global lewat korporasi mereka macam: Samsung, LG, dan Hyundai.

Momen Berikutnya

Meski sudah menjadi negara kuat di bidang industri, sampai dekade awal 90an Korea Selatan masih begitu tertinggal di industri entertainment saat itu. Di dekade ini ternyata Korea Selatan sama sekali belum berfokus untuk menaikkan kualitas acara televisi dan dunia sinema mereka. Budaya pop di negara ini pun masih jauh dari kesan cool, begitu kontras bila kita lihat dengan kondisi hari ini.

Akhir 90an kondisi masyarakat Korea Selatan telah berubah drastis. Jatuhnya rezim militer dan menguatnya iklim demokrasi turut mengembangkan ide-ide kreatif di setiap lapisan sosial. Bagi pemerintah, Korea Selatan sudah finish dalam ranah bisnis industri, titel “Macan Asia” pun sudah diraih. 

Presiden Kim Dae Jung di tahun 1998 memutuskan untuk meningkatkan ekspor budaya populer, alias bukan lagi terfokus di industri fisik saja. Minimal mereka dapat mengimbangi posisi Jepang dan Tiongkok di ranah entertainment. Bila akhirnya dua negara ini bisa dilewati, sesudahnya adalah Hollywood.

Memasuki milenium baru pemerintah Korea Selatan mengeluarkan kucuran dana melimpah untuk memajukan sektor industri kreatif. Kucuran dana melimpah ini antara lain adalah suntikan modal, subsidi, sampai insentif pajak. 

Pada tahun 2005 tercatat pemerintah negeri Ginseng telah menginvestasikan anggaran sebesar USD 1 miliar kepada industri musik Korea Selatan saja. Hal ini belum termasuk anggaran yang mereka kucurkan juga kepada industri layar kaca dan film.

Pasca kepemimpinan Presiden Kim Dae Jung, presiden-presiden berikutnya tetap meyakini bahwa industri entertainment ekosistemnya perlu didukung sebagai medium promosi bangsa. 

Menuju tahun 2010, industri layar kaca dan film di Korea Selatan sudah menggeser posisi Tiongkok dan Hongkong. Serial macam Winter Sonata, Full House, serta Boys Before Flowers akhirnya merajai program di pertelevisian Asia. Jangan lupakan juga kesuksesan film My Sassy Girl, Taegukgi, dan The Host dalam ekspansinya ke luar.

Industri entertainment di Korea Selatan sedari awal memang sudah didesain untuk menciptakan produk identitas kebangsaan. Mereka sadar bila kesuksesan secara finansial akan mengangkat aspek-aspek lain, sebut saja industri wisata dan kuliner. Seperti dalam serial Goblin. Serial ini sukses mengangkat Pantai Youngjin di Jumunjin sebagai objek wisata yang kini paling diminati. 

Apa alasannya? Scene pertemuan antara Eun Tak dan Goblin membuat para pengelola wisata menyediakan properti syal serta bunga agar pengunjung dapat meniru adegan di serial tersebut.

Hasil Yang Diraih

Kemenangan film Parasite dalam ajang Oscars 2020 akhirnya menjadi bukti kesuksesan mutual pemerintah dan para sineas di Korea Selatan. Bagi publik Korea Selatan sendiri fenomena ini merupakan terobosan budaya. Dapat bertengger di posisi atas Hollywood akhirnya telah mereka capai. 

Selama satu dekade publik Korea Selatan telah mencurahkan semuanya kepada yang mereka sebut sebagai Hallyu atau “Gelombang Korea”, yang turunannya antara lain K-Drama, K-Pop, dan sinema.

Saat diwawancarai wartawan BBC setelah sukses menangkan Parasite di Oscars, sutradara Bong Joon Ho menjelaskan: “Menurut saya, pengaruh dan kekuatan BTS itu 3.000 kali lipat daripada saya. Korea Selatan menghasilkan banyak seniman karena masyarakat kami dinamis secara emosi.”. 

Pertumbuhan ekonomi yang melesat hingga hari ini memang berdampak positif pada kemajuan sinema Korea Selatan. Masyarakat Korea Selatan sendiri adalah para movie freak dan industri filmnya merupakan yang kelima terbesar di dunia dari sisi penjualan tiket.

Selain Parasite, film Train To Busan dan Extreme Job juga sukses menjadi box office di dunia. Kegandrungan publik dunia terhadap film-film Korea dijelaskan oleh Darcy Paquet, konsultan dari program Udine Far East Film Festival: “Saya pikir emosi dalam film Korea Selatan dikomunikasikan sangat langsung kepada penonton. Jika banyak film Hollywood berpusat di sekitar aksinya, film Korea Selatan berpusat di adegan-adegan emosi yang intens.”.

Korea Selatan juga kian menggila dalam produksi serial saat ini. Korporasi besar macam Netflix pun kini rela menginvestasikan ratusan juta Dollarnya pada rumah produksi di negeri Ginseng. Itaewon Class, Squid Game, dan Hometown Cha-Cha-Cha menjadi bukti Netflix tidak salah langkah menginvestasikan uang mereka.

Khusus Squid Game, serial Netflix ini sukses meraup untung sebesar Rp. 12,5 triliun menurut data dari Bloomberg. Keuntungan besar ini meyakinkan Netflix untuk memproduksi season keduanya.

Kemenangan total Korea Selatan di ranah industri entertainment telah membentuk wajah baru Korea Selatan di panggung global. Eskalasi image Korea Selatan melalui budaya mereka memberikan impact besar pada bidang lain yang tentunya akan menguatkan mereka dalam komunitas dunia. Entertainment yang dihadirkan dengan eksplorasi kearifan budaya nyatanya menjadi formula sempurna Korea Selatan dalam menciptakan apa yang kita sebut sebagai kehebatan kolektif suatu bangsa.