Dalam sekali klik,  surel itu akan terkirim. Memasuki kotak masuk seseorang yang sekarang sedang terlelap dalam tidur panjangnya. Seseorang yang padanya kau persembahkan hati dan segila-gilanya cinta.

Kau tak pernah membutuhkan keajaiban, karena setengah perjalanan hidupmu berisi keajaiban demi keajaiban yang dihantarkan melalui satu sosok.

Seseorang yang padanya akan kau titipkan sisa perjalanan hidup juga sebanyak-banyaknya harapan. Namun, mendadak beberapa saat yang lalu kau butuh keajaiban. Apapun. Bahkan sesuatu yang paling absurd yang dapat membuatnya terbangun dari tidur panjang ini.

Kau lelah. Demikian lelah sampai kewarasan sepertinya direnggut paksa dari dirimu. Mengirim surel demi surel adalah segelintir kekonyolan yang kau tahu tak akan membuahkan hasil. Sebanyak ketakutanmu bahwa surel  demi surel itu tak akan pernah dibacanya, sebanyak itu pula kau ingin meyakini bahwa ia akan kembali terjaga dari tidur panjangnya.

Atau mungkin kau menginginkan keajaiban lain. Yang tentu saja lebih tak masuk akal. Kelak manusia mampu berinovasi agar  bisa berkirim dan berbalas surel dengan seseorang dalam dimensi dunia yang sudah berbeda. Bukan dunia fana yang sekarang kau tinggali. Dunia setelah kematian. Agar kau bisa mengiriminya berbait-bait kata yang belum sempat ingin kau utarakan, menyampaikan penyesalan, juga ungkapan  rasa syukur yang tak pernah surut, tentang betapa beruntungnya dirimu, memiliki kesempatan untuk menjadi tempat hatinya dititipkan. Kau sudah terlalu putus asa. Keajaiban lainnya yang mungkin kau harapkan  adalah, ribuan kata dalam surel itu sampai melalui mimpi, dan membangunkannya dari tidur panjang tak berkesudahan.

Malam ini kau mengunjunginya lagi. Menggengam tangannya yg terkulai tak berdaya, menangkup jemarinya dan mendapati tak ada lagi kilau cincin yg baru saja kalian lunasi beberapa bulan yang lalu. Para petugas medis melepasnya demi alasan keamanan.

Kemudian ingatanmu menyusuri isi lemarimu. Dua pasang setelan hitam putih tergantung rapi disana. Outfit yang akan kalian kenakan bersama mendatangi Kantor Urusan Agama untuk menyepakati komitmen agung bernama pernikahan. Yang saat ini terasa tinggal wacana.

"Kita entar nggak kayak mau akad, lebih tepatnya kayak mau interview kerja" 

Kau ingat komentarnya soal ide outfit itu. Nyeleneh sekali, memang. Tapi kau seolah tak peduli. Kau ingin perayaan yang unik dan berbeda. Bukan seperti perayaan pernikahan kebanyakan orang.

Tanggal penting dan istimewa untuk mendatangi Kantor Urusan Agama itu bahkan sudah lewat beberapa minggu. Memikirkan sepasang outfit nyeleneh yang masih bertengger di lemarimu menghancurkan hatimu sedemikian rupa. Hari-harimu belakangan seperti dihampiri mimpi buruk. Sangat teramat buruk. Hingga kau mungkin tak pernah bersiap mengantisipasinya.

Seseorang menyentuh pundakmu. Kau yang hampir jatuh tertidur, akhirnya tersentak bangun. Wajah teduh  seorang wanita paruh baya muncul. Tersenyum lelah. Ya, kalian seolah berbagi beban yang sama. Juga mungkin menunggu keajaiban yang sama.

"Pulang Le, istirahat di rumah saja." sahutnya lirih.  Kau mengiyakan anjurannya sambil beranjak. Sebelum meninggalkan ruangan pucat itu, sejenak kau tatap wajah kekasihmu yang masih geming.  Kau bergegas pulang. Melangkah satu demi satu sambil tak henti henti merapal doa. Doa-doamu yang terlalu banyak itu kau harap dapat menyentuh langitNya. Hingga setidaknya, Dia sudi mengasihanimu, mengantarkan Keajaiban keajaiban tak masuk akalmu. 

Bukankah terkadang di dunia ini banyak sekali keajaiban yang kadang tak bisa dilogikakan. Dan kau berharap, saat ini kau mendapatkan satu.

"Kau tahu, tak selamanya kita bisa saling menggenggam. Sebesar apapun perasaan saling menyayangi itu. Ada kalanya kita dipaksa merelakan. Semuanya. Pada titik kita sepenuhnya merelakan, disitulah kita belajar makna sejati dari mencintai".

Kalimat dari kekasihmu itu menggema dalam kepalamu. Tidak. Kau tidak ingin merelakan apapun. Terlalu banyak perasaan yang kau rawat dan pupuk bersamanya menjadi bola salju kenangan yang kian hari kian besar.  Tidak semudah itu merelakan apapun. 

Tanpa sempat menanggapi, komentar kekasihmu, kau melihatnya berjalan terus meninggalkanmu menuju laut lepas. Siap menantang ombak. Gaun putihnya perlahan mulai terendam air.  Sedikit demi sedikit, tubuhnya menjauh. Sesekali, Dilihatnya kebelakang dan senyumnya mengembang. Senyum yang punya daya menghisap habis seluruh cinta yang kau punya.

Sementara kau hanya bisa terpaku di bibir pantai. Seolah kakimu menancap dalam pasir hisap, dan kau tak mampu mengejar dan menahannya yang perlahan hilang dalam pelukan ombak.

Dering telepon membangunkanmu, dari mimpi bersama kekasihmu di bibir pantai itu. Kau memicing melihat jam dinding di kamar temarammu. Pukul dua pagi. Keringatmu membanjir. Setelah seluruh kesadaranmu pulih  kau raih ponselmu yang masih berdering panjang.

"Le, kamu harus ikhlas ya,..."

Suara dari seberang telepon terdengar begitu lirih.

Tidak. Keajaiban itu tidak pernah datang padamu. Kekasihmu telah sebenar benar pamit pergi.


Kabanjahe,  April 2021