1 bulan lalu · 35 view · 9 min baca menit baca · Lingkungan 79927_13591.jpg
id.wikipedia.org

Keabadian Itu Tertanam di Ladang Putih

Memandang bentuk kertas yang pipih dan polos, layaknya memandang sebuah kenyataan. Sehelai kertas, ketika mulai tergores dengan pena yang menari diatasnya, maka saat itu pula ia kan mulai bekerja pada keabadian. Keadaan ini mengingatkan kita pada sosok Pramoedya Ananta Toer yang pernah mengatakan hal yang sama,

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Memang ia hanyalah selembar kertas yang ringan, namun ia akan menjadi mulia, ketika diberikan suatu nilai penting padanya. Ia bisa saja menjadi saksi atas kepemilikan pada sepetak tanah, ia juga dapat menjadi bukti kemampuan seseorang dalam bidang tertentu, dan bahkan, ia dapat menjadi dokumen resmi sebagai bukti atas suatu perjanjian yang pernah dilakukan oleh dua, sekelompok, atau seluruh negara.

Pada rentetan serupa, kertas-kertas yang pipih ini pun dapat bersatu menjelma menjadi sebuah buku. Pada buku inilah, kertas-kertas tidak akan menjadi barang murah lagi, ia akan dipandang sebagai jendela dunia dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Pada intinya, kertas dapat menjadi medium yang bernilai dan berharga, sebab ia hadir dalam ruang kenyataan.

Kertas dan Lingkungan Kita


Namun, akhir-akhir ini keberadaan kertas mulai terusik dengan adanya gerakan Paperless Society, yaitu sebuah konsep masyarakat yang menolak hidup dalam dunia kertas dan memilih beralih pada dunia yang serba digital. 

Sebenarnya, konsep ini dibangun atas rasa “ketakutan” manusia, ketika kertas telah menjadi suatu industri besar akibat permintaan yang tinggi terhadapnya. Sehingga ujung-ujungnya, tujuan dari gerakan ini ialah bermuara pada kelestarian lingkungan (pohon).

Ketakutan yang terbangun itu, memang merupakan suatu bentuk kesadaran alamiah selaku manusia, untuk juga harus memikirkan tentang keberlangsungan lingkungan hidup, sebagai tempat tinggal kita. Akan tetapi, apakah keberadaan kertas saat ini benar-benar merusak kelestarian lingkungan?

Terlebih dahulu, hal pertama yang perlu dilakukan ialah meluruskan persepsi kita bersama. Bahwa kita tahu sekaligus sepakat, konteks lingkungan tidak hanya sebatas serta terikat pada hutan dan pohon saja. Lingkungan merupakan kombinasi atas komponen abiotik dan biotik, yang mencakup tanah, air, mineral, udara, berbagai sumber daya lainnya yang terkandung, serta flora dan fauna yang hidup di atas tanah maupun di dalam lautan.

Sehingga tentunya akan sangat naif, apabila kita terlalu menyalahkan kertas sebagai aktor utama yang berperan dalam merusak kelestarian hutan. Kertas hanyalah bagian kecil yang tidak berarti apa-apa atas rusaknya lingkungan. Lagipula, para perusahaan kertas juga tidak serta-merta dan brutal dalam menebang pohon sembarangan, apalagi pohon yang dilindungi atau yang berada dalam kawasan hutan konservasi. Pastinya mereka juga sadar untuk turut menjaga kelestarian hutan.

Oleh sebab itulah, para perusahaan kertas memiliki Hutan Tanaman Industri (HTI) sendiri, agar tidak perlu mengeksploitasi hutan alami yang dilindungi. Lagi-lagi, tentunya dalam membuat HTI ini juga tidak sembarangan, ada regulasi dan tata caranya, sehingga ketika mendirikannya tidak perlu membuka lahan baru yang harus menebang hutan alami serta merusak biodiversitas flora dan fauna di atasnya. 

Membangun HTI diarahkan pada kawasan hutan alam yang sudah tidak produktif lagi, dan menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kriteria hutan alam yang sudah tidak produktif dicirikan atas tiga hal:

Pertama, pohon yang berdiameter kurang dari 20 cm tidak lebih dari 25 batang per hektar. Kedua, pohon induk kurang dari 10 batang per hektar. Ketiga, kemampuan permudaan alamnya sudah menurun: semai ≤ 1000 batang per hektar, pancang ≤ 240 batang per hektar, dan tiang ≤ 75 batang per hektar persegi. 

Selain dari itu, sebenarnya kertas juga merupakan benda yang ramah lingkungan renewable dan recyclable, kertas-kertas yang sudah tidak terpakai lagi, dapat didaur ulang manjadi kertas baru sehingga dapat terbarukan. 

Artinya, ketersediaan bahan pembuatan kertas dapat bertambah, yang nantinya tanpa harus melulu bergantung pada Hutan Tanaman Industri saja, dan disaat yang bersamaan hal ini pun sekaligus turut menjaga kebersihan lingkungan. Dengan begitu, akhirnya kita sudah tahu dan sadar, jelas bahwa kertas bukanlah benda yang bersalah atas kerusakan lingkungan kita hari ini.

Berikutnya, mari kita bayangkan if the worst case happen, yaitu para perusahaan kertas melakukan penebangan pohon secara brutal dan membabi buta. Hal pertama yang akan terjadi ialah, pasti pemerintah akan melarang industri kertas untuk menjalankan usahanya, sebab disinilah peran pemerintah dalam melakukan pengawasan terhadap perusahaan kertas yang sekaligus dalam rangka menjaga kelestarian hutan. 


Kedua, kita tahu karakter perusahaan itu profit oriented, maka industri kertas yang tidak bertanggung jawab akan sangat mudah dikecam oleh masyarakat serta kehilangan pelanggannya, rugi, dan akhirnya bangkrut. Sebab masyarakat pasti akan memilih perusahaan kertas yang lebih bertanggung jawab pada lingkungan. 

Sebenarnya sangat mudah untuk menggulingkan perusahaan kertas apabila mereka tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Namun status quo saat ini menunjukkan bahwa industri kertas masih eksis dan kertas itu sendiri semakin dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga dengan begitu kita tahu bahwa industri kertas masih bertanggung jawab pada keberlangsungan pohon dan lingkungan kita. 

Bahkan hingga saat ini, kertas terus melakukan penyempurnaan, dan berusaha mencoba untuk melayani berbagai kebutuhan manusia sampai pada tingkatan yang paling dasar. Hal ini terbukti dan dapat kita lihat sehari-hari, bahwa kertas sudah banyak beralih peran (multifungsi) seperti kertas foto, kertas origami, tisu, pembungkus makanan atau kertas minyak, dan masih banyak lagi. 

Keadaan ini menunjukkan bahwa kertas bukan lagi terikat pada aktivitas tulis-menulis. Pada deretan contoh tersebut, dengan semakin banyaknya peran kertas saat ini dalam membantu aktivitas sehari-hari, apakah kita masih yakin untuk menolak kertas dalam kehidupan kita?

Mungkin, kaum Paperless Society terlalu sering menutup mata dan telinga, bahwa diluar sana sangat banyak perusahaan dan oknum yang jauh lebih beringas serta jahat, atau bahkan secara terang-terangan dalam merusak lingkungan hidup kita dalam arti yang “sesungguhnya.” 

Namun satu hal yang sangat dimiriskan, apabila kaum Paperless Society dengan bangga serta lantangnya ia meneriakan kampanye “Hidup Tanpa Kertas!” “Save Earth,” “Go Green,” atau slogan-slogan lain, dan disaat yang bersamaan pula pada tingkat paling sederhana, budaya buang sampah sembarangan masih saja terus dilestarikan.

Pada hakikatnya, manusialah yang berperan dalam menjaga dan sekaligus sebagai aktor utama atas rusaknya lingkungan hari ini. Kita tidak bisa serta merta mengutuk kertas atas kehadiranya dengan menggunakan logika berpikir yang pendek sebagai landasan argumen. 

Akan sangat-sangat percuma ketika manusia memimpikan lingkungan hidup yang sehat, dengan menyalahkan kehadiran kertas sebagai biang keladinya, kemudian dengan mudahnya berlindung dibalik asumsi, “karena kertas terbuat dari pohon.” 

Namun disaat yang bersamaan mental dan perbuatan kita masih saja buruk terhadap lingkungan, dengan begitu ada atau tidak adanya kertas saat ini, suatu kemustahilan lingkungan hidup yang sehat dapat terkabul. Semua dapat tercapai apabila kita bersama-sama sadar untuk memulai perubahan dari hal terkecil; dalam diri kita sendiri.

Dunia Kertas VS Dunia Digital

Menanggapi dengan apa yang telah diproklamirkan oleh F.W Lancaster pada tahun 1978 silam, mengenai konsep Paperless Society atau masyarakat tanpa kertas. Mungkin dialah orang yang berdiri paling depan dalam menyambut kedatangan teknologi digital dengan sangat antusias. 


Instrumen komunikasi dan informasi yang menggunakan kertas akan menjadi material pertama yang diucapkan selamat tinggal olehnya. Dengan begitu buku, dokumen, atau apapun yang terbentuk dari kertas akan segera berganti dalam bentuk digital. Akhirnya, pada gilirannya, bahkan kurang dari dua dekade kemudian, “masyarakat tanpa kertas” yang begitu ia banggakan justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, sebab semakin dilemahkan oleh banyak pihak.

Dalam konteks ini revolusi digital tidaklah salah, bahkan sudah menjadi konsekuensi yang logis dari peradaban kita hari ini. Memang, kehadiran teknologi digital sangat dirasakan manfaatnya dalam suatu perkantoran atau instansi pemerintahan. Awalnya suatu dokumen yang terdiri atas berlembar-lembar kertas, sekarang dapat bertransformasi dengan sistem digital yang lebih hemat dan efisien. 

Namun satu hal yang membuat Lancaster keliru, yakni ketika itu dijadikan sebagai ucapan perpisahan untuk apapun yang menggunakan kertas, maka itu menjadi langkah awal kejatuhannya melewati pijakan rapuh yang ia bangun sendiri. Atas pernyataannya tersebut, banyak orang yang kemudian mengkotak-kotakan, sehingga terjebak dan membentur-benturkan antara kerja di atas kertas dan kerja di instrumen digital.

Atas dasar itu, nampaknya kertas telah menjadi medan pertarungan yang paling sengit antara versi lain dari keabadian dan kesementaraan, yaitu cetak dan non-cetak. Membicarakan kerja di atas kertas dalam era perkembangan teknologi informasi saat ini, seringkali menjebak kita dalam dilema membagi pilihan hidup menjadi dua, manual versus digital.

Pada hakikatnya, apabila kita renungi bersama, baik itu kerja manual di atas kertas dan kerja pada teknologi digital, sesungguhnya ibarat dua ranah yang mempunyai iramanya masing-masing. Keduanya dapat seiring meski tak harus selalu sejalan. 

Kerja di atas kertas sebagai representasi dari dunia nyata pasti akan selalu dibutuhkan dalam kehidupan kita, dan kerja pada teknologi digital sebagai representasi dari dunia maya juga turut memberikan sumbangsih besar dalam membuat urusan kita semakin mudah. Itu semua tergantung cara kita memperlakukan kedua medium itu dengan bijak. 

Romantisme membolak-balikan lembaran demi lembaran dan harum kertas dalam membaca buku, tentu tak dapat tergantikan oleh buku elektronik, namun disaat yang bersamaan kecepatan persebaran ilmu pengetahuan baru, melalui e-book tentu tak dapat terkawal oleh buku cetak sepenuhnya. Sisi positif dari keduanya dapat dikombinasikan, sehingga akan membawa kebermanfaatan bagi peradaban manusia itu sendiri.

Dengan begitu, kita sadar bahwa kertas akan tetap ada, dan akan tetap dibutuhkan. Ia tidak dapat terdisrupsi oleh dunia digital, meski secanggih apapun teknologi berusaha mencoba mengambil posisinya. Nyata dan abadi adalah kekuatan utama kertas yang tidak dimiliki oleh medium lain. 

Walaupun ada yang menganggap bahwa kertas dapat dengan musnah terbakar, lapuk, dimakan rayap, maka hal yang sama pun bisa terjadi pada teknologi digital yang dapat dengan mudah diretas dan datanya dirubah atau bahkan hilang, yang pastinya hal ini lebih menghawatirkan dibandingkan kertas itu sendiri. 

Namun, sifat yang polos dari sebuah kertas, bahwa apa yang telah tercatat di atasnya maka akan menjadi suatu keabadian yang sulit untuk dirubah lagi. Mari kita tengok naskah langka Charlotte Brontë tahun 1830, seorang novelis Inggris yang masih tersimpan di museum Le Musee des Lettres et Manuscrits, Paris. 

Karya-karya klasik Sunan Giri yang juga hingga saat ini masih tersimpan di perpustakaan Lourve Prancis, dan surat-surat Ratu Sima dari kerajaan Kalingga Jepara dengan khalifah Turki Utsmani yang tersimpan di perpustakaan Leiden Belanda, atau bahkan naskah asli teks proklamasi yang ditulis tangan oleh sang Proklamator saat kemerdekaan Republik Indonesia yang hingga saat ini masih tersimpan di Istana Negara.

Untaian, fakta tersebut menunjukkan kepada kita bahwa kertas lah yang berjasa dalam mengabadikan tulisan tersebut. Selama kita dapat menyimpanya dengan rapih dan baik, maka selama itu pula deretan kata masih tertanam dalam ladang putih itu. Semakin lama umur kertas tersebut, maka prestise kertas itu semakin tinggi, lagi-lagi keunggulan ini yang tidak dapat dimiliki oleh teknologi digital. 

Sehingga hal inilah yang membuat orang saat ini berlomba-lomba untuk dapat dikenang sepanjang masa, lewat karya yang ditulisnya di atas kertas. Dengan kekuatan nyata dan abadi itu, rasanya tidak akan ada produk yang dapat menggantikan kertas, dalam membantu segala urusan sehari-hari serta sebagai medium yang dapat mengabadikan kita kelak.

Sejatinya, kita dan kertas adalah dua benda yang tidak dapat terpisahkan. Disatu sisi kita pasti akan selalu membutuhkan kehadiran kertas dalam hari-hari dan kehidupan kita, namun disisi lain kita memiliki tanggung jawab besar dalam memelihara kertas itu sendiri. 

Ya, memeliharanya, sama saja dengan menjaga dan merawat kelestarian pohon beserta lingkungan hidupnya. Saat ini, yang kita harus lakukan ialah menjadi manusia bijak. Bijak menggunakan kertas, bijak memanfaatkan teknologi.

Teruntuk kertas, tenanglah, tak perlu risau. Kau akan tetap ada selama peradaban manusia itu ada. Sebab, suatu kemustahilan bagi manusia untuk tidak membutuhkanmu.

Artikel Terkait