Penikmat Kopi Senja
3 bulan lalu · 672 view · 3 menit baca · Politik 23512_74626.jpg
Tokopedia

Ke Mana Ahok Berlabuh?

Meski survei elektabilitas capres-cawapres selalu mengatakan Jokowi-Ma'ruf unggul atas Prabowo-Sandi, faktanya hal itu belum menjamin kemenangan. Faktanya stagnannya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dan semakin meningkatnya elektabilitas Prabowo-Sandi telah membuat Erick Thohir gelisah. 

Meski secara eksplisit tidak tampak, secara implisit kegelisahan Erick Thohir tertuang dalam pernyataan dan tindakannya. Erick mengatakan Ma'ruf Amin belum berkampanye, sehingga wajar terjadi stagnasi elektabilitas Jokowi-Ma'ruf. Menurutnya selama ini Ma'ruf Amin hanya melakukan silahturahmi. Namun ungkapan ini bentuk menurut saya adalah bentuk ketidakpuasan, bahkan cenderung menyalahkan Ma'ruf Amin.

Tak hanya ucapan, kegelisahan Erick Thohir diungkapkan melalui plagiat langkah Sandiaga Uno. Erick Thohir terjun ke pasar-pasar sebagaimana yang dilakukan Sandiaga Uno. Fenomena semakin membuktikan bahwa Erick Thohir merasa gelisah dengan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf yang cenderung jalan ditempat. Dan tampaknya Jokowi-Ma'ruf harus mencari figur lain yang dapat mendongkrak elektabilitas keduanya, salah satunya Ahok.

Mantan gubernur DKI Jakarta ini memiliki massa militan, dan bisa menjadi energi baru bagi Jokowi-Ma'ruf. Namun demikian Ahok pastilah belum tentu mau bergabung dengan Jokowi-Ma'ruf. Alasannya sederhana, Ma'ruf Amin dianggap sebagai salah seorang yang berjasa atas hukuman yang diterima Ahok. Dan itulah mengapa hingga detik ini Ahok tidak bersuara untuk mendukung Jokowi-Ma'ruf. Padahal beberapa analis politik, hingga tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf berharap Ahok mengatakannya.

Deklarasi Ahok diharapkan dapat meyakinkan pendukungnya sehingga dukungan penuh akan dialamatkan kepada Jokowi-Ma'ruf dalam pilpres 2019. Wajar bila beberapa waktu lalu Djarot mengumbar dimedia bahwa Ahok akan menjadi kader PDIP. Pernyataan Djarot merupakan bentuk harapan agar pendukung Ahok tidak golput dan memilih Jokowi-Ma'ruf. Meski demikian, pernyataan Djarot tidaklah mempengaruhi psikologis pendukung Ahok.

Meski Ahok tidak mengungkapkan secara langsung, sebenarnya Ahok juga patut kecewa pada Jokowi. Pasalnya Jokowi malah memilih orang yang berjasa atas hukuman dirinya. Jokowi yang dianggap Ahok lepas tangan terhadap kasusnya, malah memilih Ma'ruf Amin. Dua kali Jokowi melukai hati Ahok. Maka bukan mustahil, Ahok lebih memilih Prabowo-Sandi dalam pilpres mendatang.

Ahok merupakan sosok politisi yang terkenal suka gonta-ganti parpol. Itu artinya Ahok kembali dalam pelukan Prabowo bukanlah hal mustahil, apalagi Ahok dan Prabowo tidak memiliki dendam politik. Kalaupun Prabowo pernah ditinggalkan Ahok dalam pilpres (2014), bagi Prabowo menerima Ahok kembali juga bukan hal mustahil. Misalnya ketika Anies menjadi lawan politiknya, dikemudian hari Anies malah menjadi gubernur atas dukungan dirinya. 

Menerima Ahok dalam tim pemenangan memang dilema, baik bagi tim Prabowo maupun Jokowi. Maklum saja keduanya sedang mengincar suara umat Islam. Meskipun Ahok memiliki pemilih dari kalangan umat Islam, namun angkanya tidaklah signifikan. Diluar Islam Ahok bisa dikatakan mayoritas, barangkali bila dilakukan survei dikalangan non-muslim, elektabilitas Ahok diatas Jokowi dan Prabowo. 

Rencananya Ahok akan keluar penjara akhir Januari 2019. Itu artinya kemana Ahok nanti berlabuh akan sangat dinantikan, dan dipastikan akan mengubah peta perpolitikan nasional. Kehadiran Ahok akan mempengaruhi hasil pilpres 2019. Menariknya, Ahok, Prabowo dan Jokowi pernah berada dikubu yang sama. Tentu saja bukanlah pilihan mudah, itulah mengapa Ahok hingga kini belum bersikap secara resmi. 

Teka-teki kemana Ahok akan berlabuh menjadi sorotan publik. Kalkulasi politik memang tidak bisa disamakan dengan matematika. Kemanapun Ahok berlabuh akan membuktikan kenegarawan dirinya. Bersama Jokowi-Ma'ruf berarti ia mau bersama dengan orang yang ikut andil dijebloskannya ia ke penjara. Bersama Prabowo-Sandi juga menunjukkan sikap negarawan Ahok yang mau bersama mantan lawan politiknya dalam pilkada DKI Jakarta.

Adagium politik akan kembali berlaku, tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Namun Ahok pastinya akan menghitung keuntungan dan rugi bila hendak bergabung. Barangkali Ahok akan memilih opsi ke-tiga, tidak mendukung kedua pasangan ini. Ahok baru akan berlabuh pada kubu yang dinyatakan menang oleh KPU. Ini pilihan logis yang bisa dilakukan Ahok meskipun belum tentu dirinya akan diterima, terutama bila Prabowo-Sandi yang menang.

Karenanya Ahok lebih berharap Jokowi-Ma'ruf yang menang meskipun ia tidak akan mendukung terang-terangan. Ahok bisa mengganggu elektabilitas Jokowi-Ma'ruf bila bergabung Januari mendatang. Akan kembali muncul sentimen atas Ahok, para pendukung Jokowi-Ma'ruf dari kalangan Islam bisa berbalik arah mendukung Prabowo-Sandi. Padahal, salah satu pertimbangan Jokowi memilih Ma'ruf Amin ialah meraih suara umat Islam pasca kekalahan Ahok di Jakarta.

Harapan Jokowi pada Ma'ruf Amin sangatlah besar, terutama bila Ma'ruf Amin dapat mensolidkan NU untuk mendukung mereka. Sebab itu pula, Jokowi dan Ahok dipastikan tidak akan bergabung sebelum pilpres, pasca April 2019 itu lebih logis. Kesimpulannya, Ahok akan berlabuh sendiri sembari menanti kemenangan Jokowi-Ma'ruf.