Apakah Anda memiliki kerabat, anggota keluarga, sahabat, atau sekadar kawan yang berkesempatan untuk berkuliah ke luar negeri dengan beasiswa?

Di saat teman-temannya yang lain menikah atau langsung bekerja setelah lulus kuliah, sebagian orang yang lain justru berebut beasiswa untuk bisa menempuh studi master atau doktor di mancanegara. Tak jarang mereka malah dicibir, "Kuliah melulu, nggak capek?"

Generasi milenial (sebutan yang sebenarnya absurd) di Indonesia memang beruntung karena tidak hanya lahir dan tumbuh besar bersamaan dengan terbukanya kemajuan pesat teknologi dan riset, tapi juga keterbukaan akses informasi dan bertumbuhnya motivasi untuk "berinvestasi" di bidang pendidikan.

Inilah yang mendorong generasi milenial sedikit-banyak terbuka pikirannya untuk melihat dunia luar melalui kuliah dan riset langsung di suatu negara luar.

Kesulitan biaya bukan lagi masalah mengingat banyaknya tawaran beasiswa yang membanjir dari negara-negara maju beserta bidang keilmuan spesifik yang disediakan. 

Ada beasiswa Fullbright dari Amerika Serikat, Erasmus Mundus bagi yang ingin kuliah di Eropa, Monbugakusho untuk mahasiswa/i yang ingin melanjutkan kuliah ke Jepang, dan Nuffic Neso jika Anda ingin berkuliah di Belanda. Mungkin Anda bisa menambah daftarnya jika Anda mau.

Generasi milenial juga bukan lagi generasi yang gagap akan Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. Kemajuan internet dan aksesnya menjadi motor penggerak muda-mudi negara kita untuk dapat belajar secara mandiri, fleksibel, dan murah.

Ketika seseorang memutuskan untuk melanjutkan studi setelah sarjana strata satu (S-1), mereka semestinya telah memutuskan untuk menekuni suatu bidang yang spesifik demi menjadi keahlian di dalam dirinya dan mengembangkannya hingga jadi seorang yang profesional. 

Idealnya begitu. Artinya, tidak semestinya orang menempuh studi lanjut karena menunggu lamaran pekerjaan datang. Jika kasus terakhir inilah yang terjadi, si mahasiswa/i hanya akan berakhir sebagai pengangguran cerdas atau pengangguran terdidik. Atau malah hendak memperpanjang masa nganggur?

Jika seseorang sudah mampu menentukan apa yang hendak ia tekuni di masa mendatang, maka dia dapat menentukan pula riset bermutu baik di studi program master atau doktor beserta perkuliahan yang dihadapi. 

Publik kita sudah banyak memahami bahwa kontribusi ilmiah Indonesia secara keseluruhan masih memprihatinkan, diindikasikan dengan ranking Indonesia pada nomor 24 dalam urusan publikasi ilmiah pada tahun 2018 berdasarkan situs scimagojr.com.

Kita masih kalah jauh dibandingkan Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, dan Australia.

Artinya, dengan menempuh studi di luar negeri, seseorang barangkali akan berkesempatan untuk bisa melakukan riset secara merdeka dan cermat karena adanya referensi lengkap, ilmuwan yang benar-benar cakap, alat atau instrumen yang lengkap, dan administrasi yang diharapkan lebih sederhana serta tidak birokratis.  

Dengan demikian, dia akan sungguh-sungguh mampu terjun di dalam pergaulan ilmiah dari suatu disiplin ilmu tertentu serta mengomunikasikan apa saja yang dia tekuni sehingga waktu dan kesempatan yang didapatkan selama di luar Indonesia itu akan menjadi termanfaatkan demi kemajuan ilmu itu sendiri. 

Hanya saja, sesungguhnya ada satu hal lagi yang seharusnya bisa didapatkan ketika seseorang berani memutuskan untuk melanjutkan perkuliahan di mancanegara, yaitu bagaimana rasanya minoritas sekaligus warga negara yang "berjarak" dengan Indonesia.

Apa maksudnya?

Pertama, kita sadar bahwa Indonesia adalah negara di mana penduduknya amat ketat mempraktikkan ritus beragama hingga menjadi peraturan bersama antara satu warga dengan warga yang lain. Urusan agama ini bisa memisahkan sekaligus menyatukan penduduk negara kita ini.

Namun, soal berbeda akan timbul kita berada di negara yang berbeda, khususnya negeri yang termasuk negara maju yang bisa dibilang sekuler: Memisahkan urusan agama dari negara dan mendorong agama menjadi urusan kebebasan pribadi warga negara.

Tentu saja, tidak akan mudah untuk bisa mempraktikkan ritual keagamaan dengan leluasa, termasuk pantangan dan larangan dalam dogma agama masing-masing warga Indonesia yang sedang berkuliah di negara asing.

Dengan begitu, mahasiswa/i Indonesia di luar Indonesa akan dapat bersikap toleran terhadap setiap orang yang mempunyai pilihan hidupnya masing-masing. Bukan sekadar pandangan hidup, namun bagaimana orang menempuh adatnya masing-masing. Termasuk pilihan hidup untuk menjadi ateis, agnostik, atau teis. 

Yang ada hanyalah satu: sesama manusia. Entah di Indonesia terbiasa disebut "mayoritas" atau "minoritas", keduanya hanyalah label yang memisahkan manusia untuk bersikap saling bersaudara. 

Kedua, menempuh studi di luar negeri seharusnya juga memampukan untuk memandang Indonesia dengan kacamata yang sempit, dengan nasionalisme buta tanpa berpikir kritis. Bukankah justru pikiran kritis amat baik diasah tajam mumpung masih di negeri orang?

Pikiran kritis diarahkan bukan sekadar cinta atau benci pada pemerintah, pada kubu politik tertentu, atau bahkan agama tertentu. Para mahasiswa/i yang berkesempatan untuk melanjutkan belajar hingga ke luar negeri merupakan lapisan masyarakat yang dipandang sebagai lapisan intelektual elite yang melahirkan gagasan yang berpihak pada kemajuan manusia.

Bagaimana kemajuan manusia dibangun?

Berpikir kritis itu sendiri tidak akan cukup, melainkan harus dijadikan sebagai semangat kolektif masyarakat untuk tidak tersesat pada takhayul, gemar membaca literatur bermutu tinggi, dan tidak sekadar menerima mentah-mentah informasi yang datang, terutama yang sekadar memuaskan hasrat ego mereka sendiri.

Dengan kata lain, lulusan luar negeri bertanggung jawab untuk mewujudkan atau minimal menyemai benih-benih budaya ilmiah di dalam negerinya. 

Yang menyedihkan ialah masih banyak mereka yang mengecap pendidikan di luar negeri namun tidak hendak mengubah tempat kerja mereka untuk lebih berpihak pada kemajuan ilmu pengetahuan ketika pulang ke Indonesia. Banyak yang kehilangan idealismenya dengan menyerah pada birokratisme kampus atau mengejar kenaikan jabatan. 

Di lain sisi, alih-alih beragama secara inklusif, sejumlah pelajar Indonesia di luar negeri malah berubah menjadi diskriminatif terhadap pemeluk agama lain. Pikiran bukan makin terbuka, melainkan tertutup oleh fanatisme buta berbau agama.

Ada juga yang sekadar berakrobat intelektual dengan sekadar mencerca pemerintah, baik pusat maupun daerah, tanpa hendak memberikan solusi dan alternatif. Tidak jelas mereka berpihak pada siapa: kebencian politik atau rakyat yang dikorbankan oleh kebijakan tertentu pemerintah.

Hal ini tentunya sangat memprihatinkan kita. Saya menjumpai beberapa orang yang membanding-bandingkan Indonesia dengan negeri yang dia tinggali hanya untuk mencari kejelekan negeri sendiri sebagai bahan untuk menghina pemerintah, sesama rakyat, tapi tanpa ada tekat untuk menyuarakan aspirasi yang bertujuan mengubah status quo.

Kita tidak hendak berprasangka buruk. Semoga saja berkuliah di luar negeri terkesan menjadi legitimasi bagi mereka untuk jadi demagog, buzzer politik, dan pengeruk popularitas lewat media sosial. 

Atau jangan-jangan justru saya sendiri, si penulis, terlalu idealis dan sedang berdelusi tentang putra-putri Indonesia yang kebetulan lulus dari perguruan tinggi luar negeri?