“Apa yang Anda inginkan ditentukan oleh Anda sendiri. Sebab itu, untuk menghilangkan stres, tidak ada cara paling mudah selain mengurangi keinginan Anda, melepaskan diri dari tirani seharusnya.” (hal.181).

Kutipan tersebut diambil dari bab 13: Mengobati Stres, dari buku “Tafsir Kebahagiaan“ karya Dr. Jalaluddin Rakhmat yang cetakan II-nya diterbitakan penerbitnya-Serambi, hanya dua bulan setelah cetakan I.

Keinginan, dalam kutipan di atas disasar sebagai salah satu sumber tekanan dan penderitaan hidup. Keinginan bukan saja sumber penderitaan, tapi ia adalah penderitaan itu sendiri. Entah pada yang disebut “keinginan baik” atau “keinginan buruk”, keduanya  sama-sama memanggul beban, mengandung “janin penderitaan”: pergulatan, daya upaya, terpontang-panting, kesakitan, susah payah, konflik dan kelelahan.

“Apa pun jenis stres, sebab utamanya ialah karena apa yang anda inginkan lebih sedikit dari pada yang Anda peroleh. Kesenjangan ini dirumuskan secara matematis sebagai get-want-ratio. Untuk mengukur tingkat kepuasan, Anda bagilah apa yang Anda peroleh dengan apa yang Anda inginkan. Anda memperoleh seratus ribu rupiah, sedangkan yang Anda inginkan seribu rupiah saja. Nilai kepuasan Anda tentu saja 100/1=100. Sekarang Anda naikan keinginan Anda menjadi lima puluh ribu rupiah. Kepuasan Anda turun dari seratus menjadi dua. Kepuasan Anda turun 50 kali lebih kecil. 

Secara matematis juga, tingkat stres bisa dihitung dengan membagi apa yang Anda inginkan dengan apa yang Anda peroleh. Want dibagi get. Anda menginginkan seratus ribu rupiah, nilai stres Anda seratus. Bagaimana caranya menurunkan stress Anda? Kurangilah keinginan Anda. Sebaiknya, bila hidup Anda ingin dipenuhi stres, tambah saja terus keinginan Anda” (hal.180) .

Sekali menyala api keinginan, sejak itu ia mengendalikan, menekan seluruh kehidupan kita. Ia membutakan kita dari melihat fakta objektif sebagai “apa adanya“, dan menenggelamkan kita pada delusi, ide, sesuatu yang tidak ada, diidamkan, diinginkan, diseharuskan. Itu mengapa hidup dalam keinginan disebut hidup dalam “tyranny of the should”.

Mengenali watak bawaan dari keinginan bagi saya adalah permulaan dari memahami segala rasa sakit akibat keinginan. Mulur-mungkret, menyusut dan memuai, menciut dan mengembang, itulah sifat keinginan sebagaimana Ki Ageng Suryomentaram seorang sufi, putra ke 55 Sri Sultan Hamengku Buwono VII mendedahnya dalam ajaran olah batinnya yang kita kenal sebagai ajaran Kaweruh Jiwo.

Jika terpenuhi suatu keinginan, ia tidak berhenti di situ, ia mulur mengembang. Ia melakukan pengejaran dan menuntut kelangsungan pada objek yang serba lebih dari yang semula. “Menjadilah selalu yang lebih baik, lebih sempurna dan tak mudah puas dengan yang ada”. Sebaliknya, jika tidak  terpenuhi, keinginan dapat menyusutkan dirinya—mungkret, ditunda pencapaiannya dan diharap kedatangannya sepanjang masa.

Watak dasar keinginan inilah yang tidak mampu diarungi oleh umur hidup manusia—kelahiran kita sebagai manusia di muka bumi serta merta membawa batas hidupnya; kematian. Umurnya tidak sepanjang keinginannya. Bagian ini hanyalah serpihan kecil dari penderitaan besar yang dibawa oleh sebuah keinginan.

Tetapi mengenali watak dasar keinginan, masihlah jauh dari menyentuh akar  suatu keinginan.  Mengenali watak keinginan barulah memenuhi sedikit pemahaman bahwa keinginan tidak mungkin dikurangi, dibatasi maupun ditekan. Ia tidak imun dari diperintah “lakukan dan “jangan lakukan

Upaya menekan, mengendalikan, mengalihkan atau memperhalus keinginan adalah tindakan yang hanya mendorong mutasi kelahiran “varian baru” keinginan, dan seolah varian ini  berbeda dengan keinginan dalam forma yang sebelumnya.

Mengurangi keinginan, dalam upayanya mengurangi stres adalah satu contoh “varian baru” itu.

Kerumitan struktur keinginan ini, menjadikan dirinya tidak mungkin didekati dengan mata penghakiman atau pemujaan, norma atau pengahalusan seperti: Keinginan baik atau keinginan buruk. Karena itu sama artinya membuka medan konfrontasi berkepanjangan antara keinginan baik vs keinginan buruk. Yang satu dikejar, yang lain ditekan dan dihindari.

Untuk itu, memahami hakikat keinginan menjadi sangat relevan di sini. Sekedar mengenalnya sebagai dorongan hidup dan kesusahan hidup yang dibawanya, baru sebagai langkah awal. Jika diibaratkan, mengenali watak keinginan adalah langkah  mendorong kendaraan yang mogok dan belum memperbaiki kerusakan yang menjadi penyebabnya kendaraannya mogok.

Keinginan adalah suatu lukisan karya sang maestro : pikiran. Lukisan ini mengungkap hasrat pada keadaan atau situasi yang sama sekali berbeda dan sangat diidamkan dapat menggantikan keadaan saat ini yang tengah dihadapinya. Demikian pikiran mencipta ideal dan menjadikan suatu proyeksi terbalik dari keadaan saat ini ke masa nanti.

Bila kita tetap memaksakan adanya faedah suatu keinginan yang adalah gambaran ideal pikiran, maka faedah itu adalah ilusi rasa aman dan terlindung dari kenyataan pedih dan mengerikan di saat ini (Dhopeshwarker-Krishnamurti Dan Penghayatan Keheningan).

Keinginan sebagai keinginan adalah reaksi alami sebagai kelanjutan dari tangkapan sensor indrawi (mencandra) objek. Persoalannya, bagaimana lantas suatu respon alamiah ini menjadi secepat kilat bengkok dari kemurniannya. Bila kemudian ia kita kendalikan, kita “luruskan“ atau kita halangi dengan apa yang kita sebut “keinginan baik”, maka bukan saja hilang kesempatan menggarap dan memahami yang natural tadi, keinginan seperti mendapat ruangnya untuk menguat dan memodivikasi wajah dengan topeng-topeng yang makin mengaburkan hakekat dirinya.

” Jika Anda memusnahkan keinginan, Anda mungkin memusnahkan kehidupan itu sendiri. Jika Anda menyimpangkan keinginan, membentuknya, mengendalikannya, menguasainya, menekannya, Anda mungkin memusnahkan sesuatu yang luar biasa indah” (Buku Kehidupan Jiddu Krishnamurti)

***

Sebagaimana ajaran Buddhisme, buku “Tafsir kebahagian” karya Pak Kiai ini (begitu cara saya menyebut dan menyapanya) membidik persoalan-persoalan eksistensial manusia: Keinginan, ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, tekanan kejiwaan, depresi, frustasi,konflik dan sejenisnya.

Seperti galibnya buku-buku how to, yang sarat dengan iming-iming, harapan dan cara bebas dari penderitaan hidup dan meraih hidup cemerlang, sukses secara material dan bahagia lahir batin, Pak Kiai juga ‘mengobral” iming-iming itu. “Kesulitan tak berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan kemudahan” (hal.30).

Tidak demikian dalam Buddhisme. Memahami penderitaan, sebab penderitaan dan bebas dari penderitaan adalah pendekatan negatif yang menarik untuk disimak sebagai “jalan“ lain bagi masuknya pembebasan manusia dari penderitaan dan tekanan hidup.

Penderitaan sangat penting difahami. Penderitaan bukanlah lawan dari kebahagiaan. Kebahagiaan juga bukan suatu keadaan baru setelah penderitaan berakhir. Kebahagiaan adalah objek yang tidak dikenal, dan tidak mungkin dapat dikenali selama manusia dalam selubung penderitaan. Sebaliknya, penderitaanlah yang bukan saja dikenali saat ia melilit batin, bahkan ia adalah senyatanya sebagai satu-satunya fakta kehidupan sehari-hari; begitu dekat tapi kabur, begitu nyata tapi tak nampak.

Pendekatan negatif yang ditawarkan Buddhisme memandang bahwa perlu sekali manusia untuk berdiam atau berada sedekat mungkin dengan fakta penderitaan sebagai apa adanya saat ini, alih-alih mengatasi atau menangkis dan menangkalnya. Dengan berada sepenuhnya bersama fakta, maka ruang bagi pikiran untuk mencipta segala yang ideal yang didambanya menjadi semakin sempit dan pada saat yang sama, fakta adanya mulai mengungkapkan diri sebagai realitas hidup yakni kefanaan, kesementaraan, perubahan terus menerusi, keadaan yang tidak dimaksudkan menetap.

Di sini, ajaran Buddhisme sebagai jalan negatif lantaran mengingkari “apa yang seharusnya”: berbahagia dan cara hidup bahagia. Apa lagi tafsir dari kebahagian.

***

Pak Kiai, Kata Hamid Basyaib pada obituarinya, adalah seorang yang selalu sungguh-sungguh menulis tentang (banyak bidang ilmu yang diminatinya) apa saja; kekayaan sudut pandangnya dan latar keluasan wawasan keilmuan agama, filsafat, psikologi, sains; persoalan-persoalan psikologis manusia dalam “Tafsir Kebahagiaan” ini, dapat terelaborasi sedemikian tertangkap lengkap oleh kita pembacanya. Teori-teori njlimet dibikinya renyah dikunyah, dan merangsang animo pembaca untuk mentandaskan bacaannya.

Saya hampir sepakat dengan Muhidin Dahlan seorang esais ketika (hanya mampu) mengumpulkan 6 hal yang dapat diteladani dari seorang Jalaluddin Rakhmat (Allahyarham) antara lain: ia  yang masih mau “menulis buku receh”. “Tafsir Kebahagian” termasuk buku sejenis itu saya kira.

Mentang-mentang lulusan Amrik dan Aussie sudah pasang gengsi: emoh menulis buku receh. Kang Jalal tidak. Sebagai dai, Kang Jalal punya sense bahwa ia tetaplah berbicara dalam bahasa umat. Kang Jalal juga tetap mengingat bahwa ia bermula dari titik berangkat budaya pesantren yang tumbuh dalam kehidupan dai kampung.

Apa bahasa umat itu, bahasa manusia kampung itu? Doa. Ya, “buku receh” itu bernama buku yang terkait dengan doa. Juga, kiat-kiat, antara lain kiat bahagia dan kiat mati.”( https://mojok.co/mhd/esai/6-pelajaran-penting-dari-almarhum-jalaludin-rakhmat/)

***

“Jadi bagaimana itu teknik meditasinya”. Tanya Pak Kiai pada saya yang menjadi tamu di rumahnya di Sabtu pagi medio 2019.

“Ah, Pak Kiai tentu jauh lebih banyak tahu dari saya”.

“Tapi saya belum pernah itu memperaktekannya, meski banyak teknik sudah saya baca, hehehe”. Sahutnya lagi.

“Buat Pak Kiai rasanya tidak perlu itu, hehehe”. Timpal saya. Kami tertawa hangat.

“Memang kadang dilakukan dengan postur duduk, tapi itu bukan prinsip utamanya. Yang utama adalah menyadari ‘apa adanya’ dari saat ke saat”. Lanjut saya.

“Apa adanya” adalah realitas, kebenaran: segala yang selalu berubah. Kehidupan adalah kebaharuan abadi. Kita yang memandangnya yang tidak pernah berubah, karena proyeksi hasratnya: ingin agar “ini” dan “itu” tak lekas berlalu dan terus berlangsung. Kita dalam kegelapan akan “apa adanya”, untuk itu “apa adanya” dilihat sebagai sesuatu yang konstan dan permanent. Dalam keseharian kita hidup, batin kita tak siap pakai menghadapi fakta “apa adanya”, tak ayal kita selalu terguncang menghadapi perubahan demi perubahan.

“Pepatah sunda juga bilang, meser piring sareng pecahna, (membeli piring berikut pecahnya) begitukan, pak Kiai?” Ucap saya menimpalinya sambil terus fokus menyetir, dalam suatu hari bersamanya menuju komplek Perumahan DPR RI di Kalibata. Obrolan saat itu sekitaran kebahagian sebagai ilusi yang menjanjikan bagi yang mau menjadi  pedagangnya.

“Betul (dengan gaya dan aksen sundanya). Di alquran juga dikatakan, laqod kholaqnal insaana fii kabad. Emang kita dicipatakan dalam keadaan menderita”. Sahutnya.

Sesaat hening

Kendaraan kami mulai masuk Cawang arah Pancoran Jakarta Selatan.

“Saya juga menyesal ah, pernah nulis buku, “Tafsir Kebahagiaan”, saya kira itu keliru, heheh. Saya akan merevisinya satu saat”. Lanjutnya mengingkari dirinya. Pengingkarannya  mengoyak konsentrasi dan perasaan saya.

Brigidik kuduk saya, Ini Pak Kiai apa sang Buddha? bisik pikiran di kepala saya, bising.

-----------------

Kang abi: Peminat Meditasi