29066_26982.jpg
http://www.metrosulawesi.com
Keluarga · 2 menit baca

KDRT Persoalan ‘Klasik’ tapi ‘Pelik’

Kekerasasan dalam rumah tangga bukan sebuah persoalan yang baru-baru amat, melainkan persoalan klasik. Akan tetapi semakin klasiknya persoalan ini terasa semakin pelik (sulit) untuk diminimalisir rambatannya. Pertanyaannya siapa yang memiliki kuasa untuk meminimalisir persoalan ini?

Persoalan kekerasan ini tidak dapat dipungkiri keberadaannya dan tidak jarang menjadi tantangan yang cukup menguras fisik dan psikis khususnya bagi para perempuan. Ada empat jenis kekerasan dalam rumah tangga yang sudah menjadi perhatian umum. Pertama: Kekerasan Fisik. Kekerasan fisik adalah kekerasan yang melibatkan kontak fisik antara seseorang dengan orang lain. Contohnya; suami memukul istri, atau orangtua memukul anaknya. Hal ini tentu akan meninggalkan luka dan dapat pula menimbulkan rasa dendam.

Kedua: Kekerasan Psikis. Kekerasan psikis adalah kekerasan yang dapat mempengaruhi psikologi seseorang dan bisa menjadi persoalan taumatis. Contohnya; seorang anak yang menjadi introvert oleh karena tidak diberi ruang di dalam keluarga untuk berekspresi. Mereka cenderung menjadi pribadi yang pemalu dan tidak mudah untuk bergaul dengan orang lain. Ketiga: Kekerasan Seksual. Kekerasan Seksual adalah kekerasan yang terjadi karena hubungan seksual yang tidak wajar atau tidak manusiawi. Contohnya; suami yang ‘sadistis’ dalam berhubungan intim, atau seorang anak kecil yang diperkosa. Kejadian seperti ini akan membuat mereka trauma dan tidak lagi ingin berhubungan dengan lawan jenis, bahkan ada yang memilih untuk menikah.

 Keempat: Kekerasan Ekonomi. Kekerasan Ekonomi adalah kekerasan yang terjadi karena kebutuhan lebih besar dibanding pendapatan. Contohnya; seorang buruh bangunan yang pendapatannya kecil, namun selalu berbelanja di Mall. Tentunya harga barang-barang yang ada tidak dapat dijangkau dengan penghasilan sang suami. Akibatnya, kekerasan atas dasar ekonomipun terjadi. Dengan demikian, kehadiran persoalan-persoalan ini cukup mengganggu kehidupan berkeluarga. Lalu apa yang bisa dilakukan sebagai alternatif untuk meminimalisir persoalan-persoalan tersebut?

Ada dua alternatif yang ditawarkan di sini. Pertama: Keterbukaan dalam keluarga. Hal ini menjadi sangat penting karena dengannya orang dapat memanagemen pola hidup yang baik. Jika keluarga tidak mampu, mereka dapat melibatkan orang lain yang dapat dipercaya. Misalnya; melibatkan orangtua, atau bahkan psikiater jika persoalan yang dihadapi berkaitan dengan psikologi dan traumatis. Kedua: Berdialog dan menerima keadaan. Sikap ini diambil bukan untuk mendiamkan persoalan yang sedang terjadi, melainkan bersama-sama membangun dialog yang baik untuk menemukan solusi yang baik pula. Keluarga tanpa dialog adalah kelurga yang hidup tapi mati. Setiap orang sibuk dengan kepentingannya msing-masing dan tidak lagi memperhatikan keluarganya.

Di dalam berdialog pula, ada norma-norma yang perlu diperhatikan; misalnya tidak menggunakan alat-alat komunikasi, fokus pada persoalan, dan menghadapi persoalan tersebut denga kepala dingin. Inti terdalam dari dialog adalah ketika apa yang dibicarakan itu dipahami oleh setipa orang yang hadir. Maka, norma-norma tersebut dapat dijadikan landasan untuk berdialog agar orang tidak mengalami absent mind di dalam berdialog.

Maka dari itu, persoalan KDRT yang kelihatan klasik, dapat pula diatasi dengan cara yang klasik sebagai alternatif. Persoalan ini kadang terjadi karena orang tidak mampu untuk mencari solusi dengan otak, melainkan lebih menggunakan otot. Hasil akhir dari semuanya ini adalah tindakan kekerasan. Menghadapi persoalan yang sedemikian klasik, hal utama yang dibutuhkan adalah keterbukaan di dalam kelurga dan membangun dialog agar tidak terjadi kesalahpahaman satu dengan yang lain. Ini soal memanagemen hidup dan hidup yang dimanagemen.