Penikmat Kopi Senja
11 bulan lalu · 186 view · 3 menit baca · Media 73907_88638.jpg
shopback.co.id

Kaya dengan Memfitnah

Kemajuan tekhnologi memang telah mengubah gaya hidup kita. Kemudahan demi kemudahan kita rasakan dalam menjalankan aktivitas kita sehari-hari. 

Alat-alat produksi telah memanjakan kita, mempercepat proses dan efisiensi pun kita dapati. Era digital adalah sebuah berkah sekaligus bencana bila tak bijak menggunakan.

Saat ini, pengguna smartphone bukan hanya dari kalangan menengah ke atas. Akan tetapi, para pengemis sekalipun memilikinya. Secara usia penggunanya juga tidak terbatas.

Itulah mengapa bisnis barang dan jasa tak bisa jauh dari smartphone. Era digital menghadirkan bisnis tanpa tatap muka sebagaimana sudah dilakukan beberapa penjual barang maupun jasa seperti transportasi online.

Kemudahan itu telah menjadikan dunia dalam genggaman, tentu saja tidak semua manusia bisa begitu. Sebagian dari kita malah menjadi "korban". Hal itu terkait dengan penyelewengan, tidak sedikit yang tertipu dalam membeli barang secara online.

Hal sama kita dapati dalam dunia politik di mana sosial media menjadi ikonnya. Sosial media menghadirkan informasi dengan sangat cepat, namun belum tentu valid bahkan ada yang penuh kebohongan.

Jualan kebohongan malah laris manis. Hal itu disebabkan pengguna media sosial yang kurang teliti. Dampaknya para produsen kebohongan terus memproduksi kebohongan dan menawarkan jasanya pada orang-orang yang menjatuhkan lawan politik dan bisnis. Bukan hanya sosial media, media online yang butuh dana segar juga menyajikan berita hasutan, kebohongan bahkan fitnah asalkan bayaran sesuai.

Bila bisnis barang secara online tidak perlu tatap muka, lebih cepat, hanya butuh jari, hal yang sama juga dilakukan para penjual kebohongan, hasutan dan fitnah. Setelah fitnah, hasutan dan kebohongan dikemas dengan rapi, distribusi dilakukan melalui sosial media.

Hadirnya kelompok Saracen merupakan salah satu contohnya. Mereka melakukan provokasi, hasutan, fitnah melalui sosial media dan media online.

Apa yang mereka jual sangat sensitif, terkait SARA (Suku, Agama, Ras). Masyarakat terkontaminasi dengan hasutan kelompok Saracen maupun sejenisnya yang masih belum terungkap. Kita berpeluang besar menjadi bangsa yang cepat marah, mudah menghakimi, mencaci, memaki.

Setiap perbedaan kita anggap pantas untuk dimusuhi, pantas dibully pantas dicaci, pantas dimaki dan seribu penilaian lainnya. Kita terus melawan takdir bahwa Indonesia bahkan dunia ini memang diciptakan bersuku-suku, berbangsa, bahasa yang berbeda untuk saling mengenal bukan saling hujat.

Walaupun pemerintah telah menyiapkan regulasi dan petugas untuk menangani kebohongan, hasutan dan fitnah di dunia maya, akan tetapi bisnis itu masih terus berlanjut dan entah sampai kapan berakhir.

Tentu kita patut curiga bahwa para pelaku bukan kalangan awam, akan tetapi bisa jadi kelompok intelektual yang berada di belakangnya, bahkan bukan mustahil ada oknum pejabat yang merupakan politisi mendukung serta membiayai ujaran kebencian di sosial media kita.

Mirip lelucon teman saya, kalau ada pengedar narkoba ditangkap, maka harga narkoba semakin tinggi. Artinya, ada tebang pilih penangkapan pengedar narkoba, bila harga narkoba mulai turun, maka akan ada lagi penangkapan dan seterusnya begitu.

Itulah mengapa sulit memberantas narkoba bila masih ada oknum penegak hukum yang bekerja sama dengan pengedar narkoba. Hal yang sama juga bakal terjadi pada produsen dan distributor ujaran kebencian, fitnah dan kebohongan.

Demokrasi kita memang masih belia, rentan dijadikan "ladang" ujaran kebencian, hasutan, fitnah, sehingga berbuah kebencian sesama anak bangsa. 

Dampak lebih makro, terpecahnya bangsa ini dalam kelompok-kelompok yang merasa paling benar. Kita dapat bayangkan bagaimana masa depan bangsa ini bila setiap kita merasa paling benar. Saat yang sama kita merasa kelompok lain pantas dihina dan dicaci.

Saat negara lain sedang berpacu meraih prestasi, kita berpacu merasa paling suci. Saat negara lain menciptakan alat-alat yang memudahkan dan membantu manusia dalam menjalankan aktivitas, kita sibuk dengan memproduksi fitnah dan kebohongan bahkan dilakukan oleh mereka yang bergelar akademik dan media nasional. Itulah mengapa pihak pemerintah tak akan mampu menuntaskan provokator di media sosial bila para pengguna tak membantunya.

Bantuan apa yang bisa dilakukan para pengguna sosial media?

1. Jadilah peneliti, setiap informasi yang kita dapat harus divalidasi agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain bahkan bangsa kita.

2. Laporkan kepada pihak berwajib apbila informasi tersebut bohong atau melanggar UU ITE dan regulasi lainnya.

3. Jangan mudah terprovokasi dan menghakimi atas sebuah berita dan informasi.

4. Banyak membaca, bacaan yang berkualitas akan meningkatkan daya pikir kita sehingga tak mudah dihasut apalagi dibohongi.

Ada banyak cara lain yang bisa kita lakukan guna melawan mereka yang menjual isu SARA, hasutan, ujaran kebencian maupun fitnah demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Media online yang senang menghasut, rasis, berbohong, sudah saatnya kita buang ke tong sampah.

Ke depan, tantangan semakin banyak dengan semakin majunya tekhnologi. Para hacker binaan mereka sedang melakukan operasi menguasai akun-akun sosial media. Dalam hal ini, pergantian password harus secara reguler dilakukan agar tidak mudah dikuasai mereka yang tidak bertanggung jawab.