Penulis sendiri pernah beranggapan “ah politik itu kotor, politik itu pekerjaan para penipu dan PHP (pemberi harapan palsu). Mengapa saya beranggapan seperti itu? Saya mempunyai pengalaman, tidak hanya sekali tetapi sering dengan seorang calon legislatif yang berkampanye di daerahku, ia menjanjikan banyak hal untuk masyarakat, tetapi setelah ia menang, ia tidak menepati janjinya.

Namun, di sisi lain saya mulai mencermati banyak fakta seperti jumlah anak muda mengganggur cukup tinggi, banyak kebijakan sekolah yang ditentukan oleh politik, banyak persoalan masyarakat yang bisa diselesaikan oleh kebijakan politik, maka dengan penalaran yang paling sederhana pun saya melihat politik itu sangat penting sekali.  

Tetapi kok kenapa politik di negeri kita seperti gudangnya permasalahan bangsa? Tidak sedikit kita menyimak berita politisi dan pejabat negara yang terjerat kasus korupsi. Survey SMRC terbaru (2016) misalnya menempatkan partai politik sebagai lembaga yang paling rendah mendapatkan kepercayaan masyarakat (52%).

Angkanya jauh di bawah TNI (89%), Presiden (83%), dan KPK (82%). DPR sebagai lembaga yang menampung partai politik juga mendapatkan nilai yang rendah, yakni 58%. Begitu juga kaderisasi dalam parpol hampir tidak diperhatikan, calon Presiden, Gubernur, Bupati atau DPR hanya dipilih dari lingkaran keluarga, atau yang punya banyak kekayaan saja. Tentu saja masih banyak litani dosa politik di negeri kita ini.


Transformasi

Menghadapi persoalan-persoalan seperti itu, apakah kita cuek, malas tau, dan hanya ingin menjadi penonton sambil berdoa agar seorang tukang pesulap datang mengubah keadaan bangsa kita? Apakah ketidakadilan, korupsi, kemiskinan dan banyak persoalan lainnya dibiarkan terus menerus menjadi citra bangsa kita? Tidak. Kita harus menghendaki perubahan. Namun dari mana kita memulai perubahan itu?

Saya pernah berpikir bahwa mengentas kemiskinan bisa dengan menjadi pebisnis. Pebisnis dapat membuka banyak lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja tetapi lagi-lagi saya bertanya apakah pebisnis tidak berurusan dengan aturan-aturan, perundang-undangan? Apakah pebisnis menjamin keadilan? Berapa juta hektar hutan kita dibabat oleh pebisnis? Berapa banyak pebisnis yang menyuap politisi dan pejabat? Bagaimana kita mengubah budaya korupsi dengan berbisnis?

Hemat saya untuk mengubah itu semua tidak ada cara lain selain kembali kepada politik. Kita perlu mengubah wajah politik kita agar bentuk tatanan kehidupan bersama yang dicita-citakan sejak dahulu kala seperti keadilan dan kemakmuran terwujud. Yang perlu kita rubah ialah sistem jaringan dan tata politik kita. Kita mengubah struktur partai yang cendrung elitisme, konconisme dan oligarkis. Kita perlu mengubah birokrasi-birokrasi yang menyandera kepentingan masyarakat dan kita mengubah mentalitas sesama kita.

Untuk mengubah sistem demikian kita perlu agen atau aktor. Nah, agen yang tepat untuk perubahan itu tidak lain ialah generasi kita. Kita harus menghendakinya bersama-sama sebab jika tidak, implikasi-implikasi dari kebijakan-kebijakan yang koruptif dari generasi terdahulu akan dan masih menjadi kuk yang terus kita pikul pada hari besok.

Bagaimana kita melakukan transformasi? Meskipun saya tidak suka pada komunisme, tetapi mereka memberikan sumbangan bahwa peran partai politik sangat signifikan dalam menentukan sebuah perubahan politik.  Politisi seperti Stalin-Lenin percaya sekali bahwa revolusi terwujud melalui partai yaitu partai komunis. Parpol merupakan kendaraan bagi kita untuk melakukan sebuah perubahan. Tanpa parpol, proses kaderiasi politikus juga tidak mungkin terjadi.


Peran Politik Orang Muda


Sebenarnya, peran kaum muda dalam sejarah hidup bangsa kita cukup besar. Peran vital anak muda sudah tercatat dalam sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia seperti lahirnya sumpah pemuda, Tentara Pelajar dan sebagainya. Pada tahun 1998 sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama pemerintahan otoriter Soeharto lengser karena gerakan politik pelajar.

Belakangan ini juga fenomena keterlibatan politik kaum muda tampak nyata terwujud dalam kelompok yang sifatnya temporal, tidak mempunyai struktur yang baku dan idiologi tersendiri yakni relawan. Seperti kita ketahuai bahwa salah satu faktor penentu kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 yang lalu adalah peran relawan Jokowi.

Jokowi yang oleh kebanyakan elit politik ragu dan kurang berpengalaman dalam bidang politik justru menjadi kuda hitam diantara wajah-wajah lama yang tak lelah mengejar kuasa. Mayoritas relawannya adalah anak-anak muda.

Saya melihat bahwa unsur yang paling penting mengapa gerakan relawan ini menjadi trand dalam politik Indonesia belakangan ini karena orang muda jenuh dengan situasi politik Indonesia yang lamban membawa perubahan padahal tuntutan persaingan di tingkat global merupakan agenda utama orang muda.  

Mengontras realitas demikian, para relawan tampil kepermukaan untuk menciptakan sebuah perubahan dengan mendukung secara sukarela figur pemimpin yang berkualitas, teruji dalam kepemimpinannya, bisa dipercaya dan transparan dalam membuat kebijakan publik.  

Relawan merupakan bentuk rasionalitas masyarakat tingkat bawah bahwa politik masih merupakan satu-satunya juru kemudi untuk terciptanya sebuah kemajuan bersama. Mustahil sebuah masyarakat atau bangsa tetap eksis tanpa politik.

Politik yang dimaksudkan di sini yaitu segala yang berkaitan dengan prosedur dan regulasi baik itu menyangkut kekuasaan, manajemen pemerintahan untuk mendistribusikan keadilan secara merata. Kesadaran politik para relawan merupakan sikap antagonis terhadap wajah politik yang buram dan memelihara status quo.

Hemat saya, salah satu faktor yang membuat politik itu tidak melahirkan perubahan yang cepat ke arah positif ialah karena para aktor penentu perubahan itu adalah orang-orang yang membawa idiologi parsial atau golongannya saja dan mereka ditentukan oleh mekanisme yang tidak transparan untuk menjaring calon berkualitas dari sebuah partai politik. 

Aktor yang sama pula terbelenggu oleh sistem partai yang sentralis seperti sistem dan kebijakan selalu memprioritaskan partai di atas kepentingan semua golongan.

Meskipun tidak terpungkiri peran sukarelawan politik juga mampu memberikan perubahan namun, kelemahan dari gerakan relawan ialah tidak mempunyai wadah untuk proses regenerasi atau kaderisasi kepemimpinan. Mungkin saja muncul pemimpin yang karismatis pada suatu periode namun bagaimana dengan periode selanjutnya.

Nah untuk itu kita perlu proses yang berkesinambungan agar pemimpin-pemimpin hebat selalu muncul memimpin bangsa kita. Oleh karena itu, menurut saya orang muda tidak cukup hanya menjadi relawan politik saja. Kita perlu bergabung dalam partai politik dan berperan di sana untuk mengubah sistem dari dalam dan melahirkan sebuah perubahan dan tatanan yang baik bagi kehidupan bangsa ini.


Cyberdemokrasi


Selain berbagai usaha yang telah disebutkan di atas generasi sekarang juga mempunyai keuntungan generasi. Keuntungan generasi sekarang ialah berada pada puncak modernitas kemajuan teknologi informasi yang mendorong banyak perubahan pada semua ranah kehidupan manusia. Hampir tidak terpungkiri, dunia anak muda jaman sekarang tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Teknologi bukan hanya kebutuhan melainkan juga sebagai gaya hidup kaum muda.

Ketika generasi pemakai teknologi ini membahas politik dengan sendirinya terbentuk ciberdemokrasi. Ciberdemokrasi secara lurus diartikan sebagai demokrasi dalam ruang maya. Ciberdemokrasi melihat internet sebagai teknologi yang memiliki pengaruh transformatif.

Ciberdemokrasi menekankan prinsip kebebasan mengakses dan bertukar informasi. Sifat keterjangkauan dan partisipasi dari internet mampu menciptakan ruang ideal dimana orang-orang mampu berkomunikasi dengan bebas dalam forum-forum yang dibentuk untuk pengambilan keputusan kolektif. Orang muda paling banyak menggunakan teknologi. Karena itu mereka mempunyai the power of transformation bagi masyarakat.

Nah apakah kita perlu terlibat dalam politik? Jawabannya sangat jelas, ya sangat perlu! Kita perlu mengubah citra politik kita sebab penanataan kehidupan sosial, keterjaminan hak-hak bersama, kesejahteraan, keadilan, persoalan masa depan bumi dan sebagainya semua tergantung pada tata kelola politik.

Untuk itu kita memerlukan partai sebagai kendaraan yang merangkul kader-kader muda yang peduli pada persoalan bangsa, partai yang sesuai dengan semangat jaman dan partai yang transparan. Melalui ruang ciber, kita bisa menciptakan secara fleksibel, kreatif dan kritis berbagai gagasan politik dan perubahan dan inilah tipikal generasi kita. Maka, sebagai generasi masa depan kita jangan takut ikut terlibat dalam dunia politik. (Tarsy Asmat)