Arsiparis
2 tahun lalu · 139 view · 3 menit baca · Cerpen adult-1868015_1280.jpg
pixabay.com

Kawanku Humanis Sekaligus Religius

Sudah satu minggu aku tinggal di rumah temanku, Probo, yang berada di Yogya persisnya di Gowok, Sleman. Sepanjang satu minggu itu pun aku belum pernah menyaksikan temanku itu melaksanakan salat-padahal ia Muslim.

Di rumahnya ada sajadah tapi jarang dipakai, hanya tersimpan di almari. Sajadah itu hanya terpakai ketika aku ke sana. Jadi, bisa dibayangkan ketika Aku pertama kali memakainya, baunya seperti debu karena terlalu lama tersimpan di almari kayu.

Probo memang tinggal sendiri di rumanya. Dia hanya pulang 3 hari sekali ke rumah istrinya di Klaten. Dan itu sudah dilakukannya semenjak tiga tahun lalu. Di Yogya ia berprofesi sebagai penulis lepas untuk beberapa harian surat kabar.

Sebagaimana biasanya, kedatanganku ke Yogya hanya untuk sekedar melepas kangen dengan suasana kota budaya ini. Maklum, aku pernah hampir lima tahun tinggal di kota ini, saat aku kuliah dulu di salah satu universitas tertua di negeri ini, Universitas Gadjah Mada.

Setiap aku ke Yogya, tempatku menginap adalah kos teman akrabku sewaktu kuliah dulu, Probo Adikara.

“Gimana, Ton, apa keluargamu sehat semua?” tanya Probo.

Itu adalah pertanyaan yang sering kali ditanyakan oleh Probo, ketika pertama kali ia ada kesempatan untuk menanyaiku. Dan biasanya berlanjut ke pertanyaan tentang pekerjaanku.

Probo adalah orang yang pertama mengingatkan aku untuk mengambil kesempatan ketika ada sebuah lowongan di kota kelahiranku, sebagai PNS. Menurutnya, aku adalah tipe karyawan, jadi sangat cocok apabila menjadi pegawai negeri sipil.

Dia menganggap aku adalah tipe manusia penurut yang patuh pada aturan. Walaupun menurutnya, aku termasuk orang yang pintar tapi tidak bakal bisa berkembang karena sifat penurutku itulah yang mengunci kreativitasku.

Terlepas dari segala kebaikan maupun kesederhanaan yang Probo tunjukkan selama berteman denganku, sebenarnya ada kesedihan yang mengganjal di hatiku terhadapnya. Ia jarang salat bahkan bisa dikatakan tidak pernah, padahal sekali lagi aku tegaskan ia Islam.

Keluarganya Islam, ayah dan ibunya juga Muslim. Keluarganya tidak seperti keluarga gado-gado lainnya yang biasa aku temui di daerah Yogya, suami Islam dan istri non-Muslim atau sebaliknya.

Menengok latar belakang yang demikian, bisa dikatakan Probo berasal dari keluarga Muslim yang kental. Kakek neneknya sudah haji ke Makkah. Bapak dan ibunya juga.

Probo juga pintar mengaji Alqur’an. Dibandingkan dengan aku sepertinya lebih lancar temanku itu dalam membaca Alqur’an. Tapi persoalannya cuma satu, mengapa ia tidak mau salat.

Sebenarnya, ketika aku pertama kali ketemu dengan Probo saat awal kuliah dulu, ia masih belum seperti ini. Setiap waktu salat ia sering mengajak aku ke mushola kampus untuk berjamaah.

Namun semenjak ia sering membaca buku-buku yang radikal ditambah pergaulannya dengan teman-temannya yang bergaya hippies, ia sedikit-sedikit mulai berubah pemahamannya tentang agama. Humanisme adalah kosa kata yang sering ia katakan kepadaku.

Humanisme telah melupakannya dari pemahaman agama. Baginya, dalam hidup ini yang penting adalah berbuat baik dengan sesama, persetan dengan ritual agama.

Menurutnya, buat apa rajin salat kalau masih sering menyakiti orang lain. Mengambil hak orang lain. Menipu orang lain dan masih banyak lagi. Yang penting orang harus memanusiakan orang lain.

Dia tidak menyadari bahwa pemikiran seperti ini berbahaya dikarenakan ia tidak pernah merasa bersalah. Kebiasaan dari penganut aliran humanisme adalah baik kepada orang lain tetapi tidak menyayangi diri sendiri.

Mereka banyak yang hoby mabuk. Gemar melamun. Gemar berjudi dan masih banyak lagi. Yang penting prinsipnya dalam hidup ini jangan membuat orang lain menderita. Kalau diri sendiri yang menderita tak apalah.

“Jangan dikira aku tak pernah ingat tuhan walaupun aku tidak pernah salat, Ton,” jawabnya ketika aku menanyainya perihal kejarangannya dalam salat.

‘Eling sing nggawe urip iku dalane akeh, Ton,” tambahnya waktu itu. Aku hanya tersenyum kecut tidak bisa lagi berbantah dengannya. Dengan hati agak kesal akupun membalasnya “Salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, kawan.”

Saat itu ia semakin sengit membalas pernyataanku menurutnya apakah para koruptor, pembunuh, penculik, penjudi dan sebagian pelaku aneka jenis kejahatan yang lain di negeri Indonesia tercinta ini semua tidak pernah salat?

Bukankah mereka semua adalah tokoh-tokoh masyarakat juga tokoh agama bahkan di antara para koruptor itu ada yang sudah haji. Dia malah memberi pertanyaan padaku waktu itu,

“Apakah mereka bisa menghindar dari perbuatan keji dan mungkar padahal mereka semua adalah orang-orang yang secara kasat mata adalah ahli salat.”

Selama satu minggu di tempat Probo aku selalu terngiang-ngiang pada pertanyaan temanku itu. Dalam hatiku merasa apakah dia kecewa dengan perilaku para ahli salat itu.

Tapi bukankah hidup ini harus seimbang dalam berbuat baik. Kita harus berbuat baik pada sesama manusia juga harus membina hubungan baik dengan sang pencipta.

Di dalam bis yang mengantar perjalananku pulang kembali ke Lamongan aku masih memikirkan temanku itu. Ketika sampai di rumah, seperti biasa, aku langsung menghidupkan komputerku untuk melihat berita lewat internet.

Keringatku dingin. Kaget. Tertulis dengan besar sekali sebuah headline “Probo, Penulis Terkenal Dari Yogya Ditangkap Polisi Karena Menikam Pemabuk Yang Sedang Kencing Di Dalam Mushola.”

Artikel Terkait