Hanya sekedar yang membuat sadar,

Membuat gemetar walau tetap dituntut tegar.

Persetan dengan lingkaran pertemanan,

Persetan dengan janji kesetiakawanan.


Kini...

Mata yang dulu bersahabat,

Menyiratkan luka hati yang tersayat,

Meleburkan raga yang dulu terlihat kuat.


Lihatlah...

Pantaskah aku menyebutmu seorang kawan?

Setelah kau banyak beri padaku hujaman dan tikaman,

Yang bahkan tidak hanya memberi lebam namun juga melahirkan dendam.


Banyak manusia mengatakan aku harus sabar,

Menghadapi tingkahmu yang menguras nalar.

Banyak manusia mengatakan aku harus tegar,

Padahal ragaku sudah mulai terkapar.


Ayolah...

Sesekali kau menengok.

Apa cerita yang kalian ukir itu tampak elok?

Dengan santainya kalian berlenggak – lenggok.


Ayolah...

Aku ingin istirahat,

Istirahat dari luka yang tampak tersirat,

Sangat pedih seperti tersayat.


Atau...

Aku boleh berontak?

Berontak atas sikapmu yang tak pakai otak.


Bukankah kau pernah menyebutku satu-satunya?

Lantas kenapa sekarang aku mendengar kata dia?

Bukankah kau pernah memintaku untuk selamanya?

Lantas kenapa sekarang terasa sementara?


Bukankah kau menyuruhku untuk setia?

Lantas kenapa kau malah yang mendua?

Bahkan kau mendua dengan kawan lama,

Seakan aku ini dianggap tidak tampak nyata.


Menikung tajam disertai tabrakan bahkan sampai ledakan,

Terasa hancur tak dapat dipertahankan.

Aku curiga ini kawan atau lawan,

Kenapa sosoknya seakan mengancam.


Sekarang...

Ada rembulan yang dipaksa padam,

Seperti diriku yang merasa kehilangan.

Ada angin yang dipaksa diam,

Seperti diriku yang dibantai oleh kenangan.


Akankah rembulan itu terang kembali?

Setelah sinarnya dipaksa berhenti.

Atau mungkin bisa jadi lenyap hilang tak tersisa lagi.

Kenangan dan air mata pun ikut mengiringi.


Semua sekarang menjadi bayang-bayang.

Sesekali aku pun menerawang,

Mampukah pulih menemukan sebuah rasa aman dan tenang.

Tanpa ada rasa yang membuat tegang,

Dan kehidupan pun akan indah bila dikenang.


Ah dusta dusta dusta !!!!

Yang aku kira kawan dekat malah membuat nafasku tercekat.

Kawan dekat dengan sifat penghianat,

Ah memang laknat.


Hantaman keras pun dia berikan di dada,

Membuatku terengah dan tak bertenaga,

Kepercayaan yang aku berikan padanya,

Ternyata berakhir sia-sia.


Mengerahkan segala jiwa untuk merayu,

Mencari mangsa untuk ditipu,

Agar masuk dalam belenggu,

Belenggu yang menjadikan sebuah candu.


Disini aku melihatnya dengan tatapan pilu,

Bahkan tak ada keberanian mulutku untuk menyuarakan rindu.

Semua rasa berubah menjadi ragu,

Yang terhempas angin bagai butiran debu.


Merana...

Kawan dan pujaan sama-sama hina.

Bermain api tanpa menyadari ada jiwa yang tersiksa.

Tersiksa dengan semua tipu daya dan dusta.


Benci...

Ingin sekali aku memaki,

Pada dua insan yang tak tahu diri,

Menyulut api yang menghanguskan relung hati.


Pernah aku memintanya dengan berbisik,

Lantas sang pujaan membungkamku dengan kata berisik.

Pernah juga aku memintanya dengan lantang,

Lantas sang pujaan tiba-tiba menghilang.


Mungkin ini saatnya aku menghindar,

Ya ! Menghindar untuk membuatmu sadar.

Lantas bagaimana jika kau malah semakin gencar?

Semangat mendua malah semakin berkobar.


Dua pengkhianatan dalam satu ikatan,

Bahkan lebih sakit dari sebuah tikaman,

Atau malah lebih parah dari ledakan,

Yang dengan sangat mudah meluluh lantakkan.


Sialan...

Kenapa harus dirimu yang sudah aku anggap kawan?

Kenapa harus dirimu yang mencuri sang pujaan?

Bahkan sekarang dimataku kalian tampak menjijikkan.


Ah...

Memaki pun rasanya tak cukup.

Diam pun rasanya tak sanggup.

Pintu maaf pun sudah tertutup.


Sekarang rasanya sudah tak layak,

Kepercayaan yang aku berikan sudah terkoyak.

Ingin sekali rasanya aku mendepak,

Agar rasa dan jiwa bisa rusak.


Dulu aku berpikir kalian tempatku pulang,

Tapi kenapa sekarang tampak seperti jurang,

Yang bahkan aku tak berani untuk menerjang,

Karena takut terbawa angin hingga melayang dan hilang.


Kebencian yang mendera jiwa,

Tak mudah dihilangkan begitu saja,

Apalagi hanya dengan sebuah kata,

Sungguh tak mampu menutup luka yang menganga.


Pilu...

Rindu...

Sendu...


Semua menyatu bagai peluru,

Yang menembus relung jiwaku.

Luruh lantak tak terelakkan,

Menjadi sosok rapuh yang memilukan.


Sialan memang.

Kenapa pengkhianatan ini selalu terkenang.

Bagai air yang membentuk sebuah genangan,

Hingga sangat sulit untuk disingkirkan.


Menangis saja rasanya tak cukup,

Untuk menyurahkan segala emosi yang meletup-letup.

Mata hati kembali tertutup,

Untuk memulai kembali rasannya pun tak sanggup.


Bagai mawar hitam yang tampak layu,

Memancarkan keindahan bagai mata yang sayu,

Tak dapat lagi digunakan untuk merayu,

Karena sekarang yang ada hanya duka yang menderu.


Kesetiakawanan yang palsu,

Memunculkan segala teka teki baru,

Akankah mungkin bisa kembali bersatu,

Setelah luka yang dia berikan padaku.


Bingung...

Menyikapi hal yang sangat rumit,

Semua pernyataan isinya hanya berkelit,

Ingin mengabaikan pun rasanya sulit,

Karena luka yang menganga teramat sakit.


Entahlah...

Teramat banyak sekali sandiwara,

Memerankan drama yang penuh lara.

Seolah-olah mereka yang tersiksa.

Membingungkan, ini lakonnya siapa?


Rasanya tak cukup jika tiba-tiba berdamai,

Membiarkan mereka menikmati angin sepoi-sepoi,

Sementara disini, hatiku masih belum bisa diajak santai.


Kawan jadi lawan,

Sungguh ungkapan yang patut disandangkan.

Kepada manusia yang memakan teman,

Tanpa menoleh janji kesetiakawanan.


Sudah cukup aku lontarkan,

Bagiku semua ini terasa memuakkan.

Sekarang, aku akan memulai untuk diam,

Sebab aku percaya karma sedang berjalan.