Rabu, 27 Januari 2020,  ada hal menarik yang terlihat, ketika proses vaksinasi Covid-19 tahap kedua di Istana Negara, pak Jokowi mengenakan jaket berwarna merah dengan 'kaus kutang' sebagai lapisannya, menjadi pemandangan yang terbilang tidak biasa untuk seorang Presiden.

Menurut Deputi bidang Protokol, Pers, dan Media Setpres Bey Machmudin,"Untuk kemudahan saat vaksin, sehingga tidak perlu melipat baju sampai atas," ujar Bey.

Lantas, hal itu membuat saya bertanya dalam hati, apakah betul hanya sebatas hal teknis saja ?

'Kaus kutang' memang menjadi pilihan bagi banyak masyarakat Indonesia, mau itu kalangan atas ataupun kalangan bawah, ‘kaus kutang’ dipilih sebagai pakaian pelapis kaum adam, karena dinilai sesuai dengan keadaan iklim di negara Indonesia. Sebagai pakaian lapis atau dalaman yang berfungsi untuk menyerap keringat, dan juga praktis dalam pemakaiannya. Mengingat, iklim di Indonesia adalah tropis, cuaca yang tergolong panas menjadi hal yang biasa kita rasakan sehari-hari, sehingga berdampak keringat yang bercucuran.

Tapi, 'kaus kutang' menjadi berbeda nilai dan fungsinya, jika yang menggunakan itu adalah seorang Presiden, apalagi digunakan pada acara yang bisa dibilang penting dan disaksikan jutaan pasang mata. Pak Presiden Jokowi, terlihat menggunakan 'kaus kutang' saat mendapat vaksinasi Covid-19 tahap kedua di Istana Negara, Jakarta.

Terlepas dari penjelasan bidang protokol Istana, yang menyebutkan itu mengenai hal teknis saja, sepertinya gaya outfit merakyat serta sinyalemen khusus ala pak Jokowi memang sudah mendarah daging pada dirinya.

Tentunya kita masih ingat, pak Jokowi dalam beberapa kesempatan berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia, terlihat memakai kain sarung sebagai bawahan busananya, salah satu provinsi yang pak Jokowi kunjungi saat itu adalah Jawa Timur, di mana kain sarung merupakan salah satu ciri khas seorang santri dan juga 'wong Indonesia' pada umumnya.Menjadi sebuah sinyal penegasan,bahwa dirinya adalah seorang muslim ‘tulen’ bukan ‘abal-abal, sekaligus menepis fitnah yang ditujukan pada dirinya, karena pada saat itu berhembus kencang, isu mengenai dirinya adalah PKI dan Non Muslim.

Pak Jokowi adalah representasi dari rakyat itu sendiri, di mana pak Jokowi mempunyai  latar belakang yang banyak dilakoni oleh masyarakat Indonesia, yaitu seorang pedagang. Jika kita pernah membaca tulisan budayawan senior Kuntowijoyo yang berjudul 'Raja,Priyayi dan Kawula'. Kuntowijoyo menyebutkan, pedagang dalam strata sosial masyarakat Jawa, dikategorikan sebagai kawula. Yaitu kelas ketiga atau paling bawah dalam strata sosial masyarakat Jawa, posisinya di bawah  kelompok lainnya Raja dan Priyayi.

Gaya merakyat pak Jokowi hari ini, bisa jadi karena pak Jokowi sedari dulu terbiasa sebagai masyarakat kelas bawah yang jauh dari kesan hidup mewah.

Saya juga sering mendengar ungkapan di tengah masyarakat, bahwa pemimpin yang merakyat itu adalah, pemimpin yang memakai pakaian seperti rakyatnya, memakan makanan seperti yang rakyatnya makan. Kelihaian pak Jokowi salah satunya adalah, mampu menangkap apa yang diinginkan dan diharapkan oleh kalangan masyarakat luas, meskipun masyarakat tersebut tidak menyampaikan secara langsung kepada pak Jokowi. Maka, jangan heran jika pak Jokowi sering tampil dengan pakaian yang sederhana, buatan dalam negeri dan harganya murah.

Tentunya masih segar dalam ingatan kita, ketika masa kampanye pilpres 2019. Pak Jokowi menyampaikan,"bahwa pakaian jas itu mahal, jas itu pakaian orang Eropa, pakaian orang Amerika, orang Indonesia cukup baju murah, putih seperti yang saya pakai ." Tegas pak Jokowi waktu itu.

Oleh karena itu, menurut saya, gaya pakaian pak Jokowi ini menjadi oase dalam hal berpakaian seorang Presiden. Yang menampilkan kesederhanaan di tengah persepsi bahwa seorang Presiden itu harus tampil mewah dengan jas mencapai puluhan juta rupiah.

Itulah sosok Presiden RI bapak Jokowi, dengan 'tingkah' yang tergolong tidak biasa bagi seorang pemimpin tertinggi negeri ini. Beliau tidak takut hilang wibawa walau hanya mengenakan ‘kaus kutang’. Justru yang terjadi sebaliknya, masyarakat semakin banyak yang simpati pada dirinya.

Hal itu dapat dilihat ketika pak Jokowi turun langsung ke pelosok daerah, masyarakat turut berbondong-bondong untuk menyaksikan bahkan sampai mengajak foto bersama, sikap yang humble, sering senyum, yang membuat masyarakat tidak merasakan ada sekat pembatas dengan pemimpinnya.

Terbukti, kehadiran beliau menjadi antitesis, bahwa kekuasaan itu harus dijaga kewibawaannya mati-matian. Sehingga harus menghindari 'tingkah' yang dapat menjatuhkan marwah kekuasaan.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, balik ke judul yang saya buat, pak Jokowi memang bukan seorang politisi yang ulung dalam berorator. Tapi, lagi-lagi pak Jokowi itu piawai dalam hal memberi sinyal non verbal kepada khalayak luas. Sudah banyak contoh bagaimana pak Jokowi piawai dalam menyampaikan pesan-pesan melalui gestur tubuhnya, prilaku kesehariannya serta gaya dalam berpakaiannya.

Yang membuat heboh kala itu, ketika pak Jokowi menonton film karya anak bangsa yang berjudul ‘Dilan’ yang kita ketahui film tersebut ‘meledak’ sukses dalam penayangannya. Jelas sekali pesannya, yakni pak Jokowi ingin menggaet dan ‘mencuri’ simpati generasi milenial.

Maka menurut saya, kaitan dengan 'kaus kutang' yang digunakan pak Jokowi dalam acara vaksinasi tahap kedua tesebut, bukan sekadar menunjukkan pak Jokowi itu pemimpin sederhana dan merakyat, bukan juga semata hal teknis saja.

Melainkan, ‘kaus kutang’ merupakan sebuah sinyalemen dari pak Jokowi, terkait vaksinasi Covid-19 saat ini. Mungkin, dengan menggunakan 'kaus kutang' pak Jokowi ingin menyampaikan pesan bahwa, vaksin Covid-19 ini tidak berbahaya bagi masyarakat, seperti apa yang dikhawatirkan oleh banyak orang. Lalu yang kedua, dengan mengenakan ‘kaus kutang’ ketika vaksinasi, pak Jokowi ingin meyakinkan kepada kalangan masyarakat luas, bahwa ke depannya vaksin Covid-19 tersebut akan masuk kedalam tubuh seluruh masyarakat Indonesia.

Jika tulisan saya ini sampai benar kejadian, bahwa makna 'kaus kutang' tersebut bernilai vaksinasi. Kita patut bersyukur dan berharap kalau 'kaus kutang' itu sampai ke badan kita secepatnya. He he he