Penulis
1 tahun lalu · 809 view · 5 menit baca · Filsafat 31163_69291.jpg
graceuniversity.edu

Kaum Sofis Athena dan Postmodernisme

Kaum sofis sering kali dikaitkan dengan sebuah konteks retorika, seni berbicara dan berargumentasi yang piawai, yang juga berarti sebuah seni untuk meyakinkan banyak orang.

Retorika adalah acara bagaimana kita dapat meyakinkan orang lain bahwa pendapat dan argumentasi kita adalah benar. Kaum Sofis muncul beriringan dengan semakin menguatnya demokrasi di Athena pada waktu itu. Kejayaan kaum Sofis semasa dengan puncak kemajuan di Yunani.

Kata Sofis sendiri berasal dari kata sofos. Sebagaimana dalam filsafat, ia memiliki makna bijak atau kebijaksanaan.

Sofis ditunjukkan kepada sekelompok profesional yang hidup pada sekitar abad ke-5 di Yunani, yang kemudian memiliki ciri khas yang oleh Plato disebut sebagai orang-orang intelektual yang superfisial, manipulatif, ahli retorika dan dialektika, namun dalam arti yang buruk. Bahkan, Plato mengatakan mereka adalah kelompok yang amoral.

Menurut cerita, kaum Sofis ini merupakan orang-orang yang pertama kali mendapat bayaran dalam hal pengajaran. Mereka mengajar dengan meminta sejumlah bayaran yang sebelumnya belum pernah ada tradisi semacam itu, yang ada hanya seorang murid mengikuti gurunya atau orang-orang bijak tanpa ada bayaran. Bahkan, di Akademia, tempat sekolah milik Plato, orang dapat belajar tanpa harus membayar.

Kaum Sofis sering digambarkan sebagai orang-orang yang haus kekuasaan, haus uang, dan bisa juga dikatakan bahwa mereka yang mempelopori apa kita sebut sebagai sekolah modern, di mana ada jadwal pengajaran, ada tawaran pengajaran, lalu ada biaya untuk itu. Kaum Sofis adalah orang pertama yang mulai berfilsafat dengan dan membicarakan tentang manusia dan masyarakat.

Salah seorang yang cukup dikenal di kalangan Sofis adalah Protagoras. Protagoras sering disebut sebagai bentuk pemikiran postmodernisme Athena di era klasik. Hal ini dapat dibenarkan jika merujuk pada pemikir-pemikir postmodernisme sekarang ini, seperti Foucault, Derrida, Lacan, dll. Mereka tak lain daripada kaum Sofis yang muncul di era kita sekarang ini.

Pada tahun 400-an SM, Athena menang besar melawan atau mengalahkan imperium bernama Persia, Darius, dan Serses. Itu bisa disebut sebagai periode kejayaan Athena. Mereka memimpin koalisi dari ratusan polis. Uang pajak masuk ke Athena, lalu Athena menjadi kaya raya, kemudian Athena membangun Partenon.

Dengan stabilnya demokrasi kala itu, maka muncul sebuah kebutuhan baru, yaitu bahwa orang-orang tidak lagi ditentukan masa depannya oleh keterampilan berperang di medan laga, tetapi dalam keterampilan menunjukkan diri lewat kata-kata, lewat cara berargumentasi di depan masyarakat.

Itulah kenapa kaum Sofis yang adalah orang-orang asing, mereka mendapatkan pangsa pasar yang memang membutuhkan kemampuan untuk berbicara. Karena, sekali lagi, Athena saat itu telah menjadi hebat dan kuat, tidak lagi berperang. Itu artinya bahwa kehebatan tidak lagi berada di medan perang, tetapi melalui debat, beretorika, dan adu argumentasi.

Tapi, pada 430 SM, Athena mulai mengalami kekacauan. Perang saudara yang berujung pada kekalahan Athena tahun 404 SM dan lalu tahun 399 SM adalah kematian Socrates. Selama berangsur-angsur, rezim demokrasi Athena semakin melorot dan Athena mengalami kehancuran.

Sofisme hadir pada masa puncak kejayaan dan kekayaan Athena dan pada saat demokrasi yang mapan. Itulah kenapa kaum Sofis sering dikatakan sebagai fasilitator demokrasi, karena mereka yang membantu menolong orang untuk beradu argumentasi di tempat-tempat publik.

Tapi, sekaligus kekacauan yang mereka bawa, seperti relativisme moral dan relativisme kebenaran. Itu juga yang mulai menghancurkan sendi-sendi masyarakat yang lalu berujung pada terurai dan hancurnya Athena.

Sofisme dikenal sebagai orang yang mampu mengadakan apa yang tidak ada. Begitupun sebaliknya, meniadakan apa yang tidak ada. Itulah makanya ia disebut sebagai relativis dan mereka dijuluki dengan orang-orang yang denos (menggentarkan dan menggetarkan), atau dapat membuat kita takjub, kagum, tetapi sekaligus juga ketakutan dengan kemampuan mereka beretorika dan kemampuan untuk membuat argumentasi yang sedemikian meyakinkan.

Dalam sejarah, nama-nama yang dikatakan sebagai kaum Sofis adalah Protagoras, Gorgias, Prodikos, Trasimakos, Hipias, Eutidemos, Dionosodoros, Antivon, dan seorang penulis anonim bernama Yamlikos. Mereka semua tak lain adalah orang asing yang datang dari luar Athena.

Di Athena, orang-orang asing terkenal tidak dapat hidup bebas. Mereka tidak bisa memiliki tanah, tidak bisa usaha atau berbisnis, maka mereka--untuk bertahan hidup--menjual kemampuan retorika mereka dengan membuka kursus-kursus dan sekolah.

Kaum Sofis akan menjadi semacam fenomena yang membelah orang-orang Athena. Satu sisi, tentu ada yang mengatakan mereka adalah orang-orang yang memfasilitasi demokrasi, orang-orang yang memulai sekolah modern, dan membebaskan pikiran orang-orang Athena.

Tetapi, filosof seperti Plato mengatakan kaum Sofis adalah orang yang hanya peduli dengan uang, mendiskreditkan kebijaksanaan tradisional, sehingga lalu mereka akan meruntuhkan sendi-sendi masyarakat.

Para Sofis dan pengacara (perbandingan) adalah kaum profesional bergaji tinggi. Kepintaran mereka dikagumi, meski kadang intelektualitas dan moralitas mereka dianggap meragukan.

Kita menyukai mereka, kita membenci mereka, dan kita suka membenci mereka. Maka tidak mengherankan bahwa kaum Sofis maupun pengacara sering menjadi objek lelucon publik (lihat saja pengacara Setya Novanto beberapa waktu lalu; ia menjadi lelucon publik dan akhirnya malah kena batunya).

Kaum Sofis adalah para penjaja kepintaran. Mereka menjajakan dengan harga yang relatif mahal. Kaum Sofis juga, untuk pertama kalinya, menjadikan filsafat sebagai lahan bisnis profesional, dan menjualnya dengan cukup mahal.

Kaum Sofis ini lepas dari, misalnya, perannya yang positif. Ujung-ujungnya, kaum Sofis ini ternyata hanya memudahkan rezim Protokratis. Artinya adalah rezim orang-orang kaya. Ini bisa dibenarkan ketika melihat anak-anak muda waktu itu yang ingin piawai dalam berpolitik, mereka harus mengeluarkan biaya mahal untuk belajar bersama kaum Sofis ini.

Kaum Sofis mengajarakan sesuatu yang mungkin menurut ukuran kita saat ini biasa saja, tetapi untuk orang-orang dulu begitu mengagetkan, yakni mereka menyatakan bahwa hukum adalah kesepakatan, yang namanya hukum adalah konvensi. Ia begitu arbitrer, tergantung suka-suka dan kesepakatan bersama.

Hukum bukanlah para dewa yang membuatnya, bukan juga berasal dari semacam agama atau kesucian, tetapi hukum betul-betul hanyalah kesepakatan. Dalam hal ini, kaum Sopis mengajukan daya relativisme sudut pandang dengan menghilangkan atau menganggap sesuatu yang kodrati itu tidak ada.

Dalam arti pandangan relativisme inilah kaum Sofis sangat dekat dengan pemahaman akan postmodernisme. Bagi orang-orang Yunani, keadilan adalah segala-galanya. Ia bisa bermakna kebenaran, kebaikan, keseimbangan, dan menjalani hidup dengan baik.

Di tengah-tengah itu, kaum Sofis memberikan penekanan baru tentang arti keadilan sebagai sesuatu yang relatif, tidak ada yang mutlak, semua hanyalah kesepakatan bersama dan bersifat aksidental.

Kita bisa melihat bahwa betapa kecenderungan berpikir kaum Sofis ini sangat searah dengan posmodernisme di mana tidak ada idealisme, tidak ada kebenaran mutlak, dan juga tidak ada sesuatu yang disebut sebagai universalitas. Yang tersisa hanyalah relativisme, kesementaraan, dan apa-apa serba mungkin. Tidak ada hukum transenden di luar itu.

Namun demikian, sisi-sisi buruk kaum Sofis, sebagaimana dikemukakan oleh Plato, tidak mewakili ciri khas pemikiran postmodernisme. Hanya pada taraf relativisme ini kaum Sofis sangat dekat dengan postmodernisme dan bagaimana cara mereka merevolusi dan meruntuhkan ide-ide besar dalam sejarah peradaban Yunani, sebelum pada akhirnya gagasan-gagasan mereka dihabisi oleh Socrates, Plato, dan kawan-kawan filosof selanjutnya.

Sumber

Disarikan dari Ceramah Setyo Wibowo di Salihara tentang Sofisme. 

Artikel Terkait