Pagi buta saling berkejaran dengan suara corong pengeras suara masjid. Membuyarkan mimpi yang terkadang tak diinginkan sebagian orang. Melepaskan mereka dalam jeratan rasa kantuk yang mengikat selama berjam-jam. Orang-orang yang terbangun itu kini dipaksa kembali ke dalam rutinitas yang menjemukan. Sebuah rutinitas yang didorong oleh penantian panjang akan hari-hari menjengkelkan. Dengan keterpaksaan yang harus dilakukan oleh orang-orang.

Beberapa orang bersegera kembali dalam rutinitas di pasar-pasar tradisional yang bau amis, bercampur dengan air tetesan hujan di bulan Januari. Amis bak air ludah yang keluar dari mulut orang yang tertawa terpingkal-pingkal. Menertawakan hari-hari yang membelai kasar rambut milik orang-orang miskin. Sebagian orang yang beriman, bergerak lambat menuju masjid atau pun musholla terdekat. Lengkap dengan atribut yang menunjang ekspresi keimanan mereka.

Barangkali, tebersit harap kecil di dalam hati mereka, suatu kelak nanti dapat membuka pintu-pintu milik Tuhan yang menjanjikan ruang kenikmatan melampaui kehidupan duniawi. Sebagian orang yang lain, masih terjebak di jalan-jalan raya berhawa dingin yang menarik-narik jaket mereka. Mengancam dengan penuh sesak udara perkotaan yang bercampur makian-makian kotor para pengendara marah di jalan raya.

Rutinitas yang menjemukan itu rupanya juga bertengger di rumah sakit, seperti burung gagak hitam berparuh runcing yang tengah mengawasi bangkai-bangkai membusuk diselimuti lalat-lalat hitam, terbang kesana kemari. Pagi buta itu tengah merangkak dengan perlahan menjemput terang merah menyala-nyala di sisi belahan bumi bagian timur. Lampu-lampu berpijar yang bertugas menghantam kepungan kegelapan malam tengah memasuki waktu matinya.

Rumah sakit yang berada di salah satu kawasan Jawa Timur itu kini bersiap-siap menyapa orang-orang yang datang dan berharap kesembuhan dari penyakit-penyakit. Atau bahkan, bagi orang yang datang dengan anggota keluarga atau kawan mereka, mengharapkan suatu kematian itu datang menghampiri lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Semua terekam pada Rabu pagi itu, 17 Januari 2017, di sebuah ruang pendaftaran berobat, ruangan yang terletak di paling depan rumah sakit. Waktu yang terpampang dalam sebuah layar monitor, menghadap muka orang-orang, turut menjadi saksi bagi hari itu yang terasa agak lambat, seperti kayuh becak orang yang sakit kakinya. Membuat mereka yang telah datang di waktu pagi itu kian merengut.

Mereka yang telah dibangunkan dari tidurnya di pagi buta itu, kini saling menatap satu sama lain dengan mata penuh kecurigaan. Sebuah gambaran perasaan yang muncul akibat kesal menunggu sang waktu yang tak lekas berlari-lari. Mengawasi dengan mata penuh yang masih diganggu ayunan rasa kantuk.

Tak peduli itu orang tua atau perempuan. Juga tak peduli  pada mereka yang berbaju seperti orang kaya atau pun baju seadanya. Dan bahkan jika bisa dikatakan, baju yang dikenakan sebagian dari mereka adalah baju saat mereka tidur.

“Pak antri Pak, ndek mburi bangku nomer loro kono (Pak antri Pak, di belakang bangku nomor dua sebelah sana),” ujar salah satu orang perempuan sembari mengarahkan telunjuknya ke sebuah tempat duduk terbuat dari besi, terletak dekat orang tua berbaju coklat agak kusut dan berbau minyak gosok.

Perlahan tapi pasti, wajah orang-orang yang tidak sabar menunggu dari pagi buta itu, kini sedikit demi sedikit menjadi kegembiraan lirih. Tatapan penuh curiga tergantikan ujaran-ujaran singkat. Seiring dengan jalannya waktu yang yang lirih.

“Ayo-ayo ndang diceluki (ayo cepat segera dipanggili),” gerutu salah satu orang yang kakinya berbalut kain merah. Di kedua tangan kanan dan kirinya memegang kruk, sebuah alat bantu jalan bagi tulang kaki yang patah.

Ujaran singkat itu tampaknya membawa pengaruh dalam seisi ruangan. Membuat sebagian orang bersaut-sautan.

“Iyo suwene yo (Iya lama ya),” ujar salah seorang menyambar ujaran orang pemegang kruk tadi. Seorang pria berkulit hitam gelap, mirip kulit para petani yang mencangkul terkena terik matahari, berkumis tipis seperti bulu kucing, dan mengenakan sebuah topi berwarna hijau, mirip warna simbol tentara.

Semakin mendekati pukul tujuh pagi, ruang pendaftaran berobat semakin sesak penuh orang-orang. Ada yang sambil berdiri, bahkan sekalipun orang itu sudah tua. Mereka yang lebih muda, lebih sigap menyambar tempat duduk. Sembari menampilkan sikap acuh terhadap orang disekililingnya.

Bertambah getir pula, jika ternyata mereka tidak menjadi bagian dari orang-orang yang berharap kesembuhan. Mereka hanya menjadi penunggu. Mereka malah lebih disibukkan menatap layar telepon pintar sambil memainkan ibu jari kanan atau pun ibu jari kiri. Memainkan telepon pintar dengan riang, tak menoleh kanan dan juga kiri.

Seorang pemuda, memakai jam tangan di sebelah tangan kirinya tampak sedikit terganggu dengan perempuan paruh baya si samping tempat duduknya.

“Seh dek ben Bapak iku lungguh (Adik biarkan Bapak itu duduk),” perintah perempuan paruh baya itu sambil menunjuk seorang yang usianya lebih tua dari dirinya. Pemuda itu langsung berdiri tegap layaknya orang yang sehat. Memerankan perilaku kesopanan yang dibuat-buat, sambil menarik bibirnya membentuk goresan lengkung layaknya orang yang berisikan ramah.

“Pak monggo wonten mriki (Pak silahkan duduk disini)”, ujar pemuda tak sedang berobat itu dengan keramahan yang terpaksa. Lelaki tua itu berjalan teramat pelan seperti kayuh lirih sepeda ban yang bocor, dengan bantuan sebuah tongkat pendek yang panjangnya kurang lebih satu meter, terbuat dari kayu dengan bantalan karet berwarna hitam. Segera setelah menikmati tempat duduk, lelaki tua itu mengeluarkan sebuah map plastik, tampaknya sedang mengambil sesuatu yang penting.

“Nomor antrian B0001, silahkan menuju loket nomer lima,” seru mesin pemanggil otomatis yang menyerupai suara perempuan dewasa nan ramah. Dibarengi dengan waktu yang menunjukkan pukul tujuh pagi tepat. Seruan ini memunculkan kesenangan diam-diam, layaknya suara azan magrib yang dinantikan oleh orang-orang yang tengah berbuka puasa.

Segera setelah mendengarkan seruan mesin pemanggil, perempuan, tampaknya itu adalah seorang ibu muda berambut hitam agak keriting yang memakai jepit rambut berwarna merah muda, tampak menyolok bertabrakan dengan warna jaketnya. Menggandeng tangan seorang anak laki-laki, berjalan sambil menampilkan keriangan kecil di wajahnya.

“Aku sek yo mbak (Aku duluan ya mbak),” seru perempuan berambut hitam keriting itu pada perempuan berjaket dan berjilbab abu-abu di sampingnya. Perempuan yang kini tengah menunggu seorang diri.

Pada sekali waktu, seiring bergeraknya nomor antrean di layar monitor, di sebuah loket antrean nomor tiga, seorang pria tua yang memiliki banyak kerutan di wajahnya, tampak berbicara dengan petugas perempuan yang usianya lebih muda. Seperti seorang ayah dengan putrinya. Perempuan itu berbaju putih, berkerudung hitam. Pakaian yang memang resmi dikenakan petugas pendaftaran.

“Kartu berobatnya mana, Pak?” tanya petugas perempuan yang memainkan tangan kanannya pada mouse komputer menghadap wajahnya yang bundar dengan sepasang mata yang agak lebar, mengenakan sebuah kacamata yang menempel di hidungnya. “Ini Bu,” jawab pria tua sambil memberikan kartu berwarna hijau putih yang dia keluarkan dari map plastik berwarna hijau.

“Bukan yang ini Pak, kartu berobatnya yang warna kuning!” seru petugas perempuan tersebut sambil menunjukkan muka agak kesal. Dengan tangan yang cekatan karena nada suara yang seakan menekannya, pria tua itu buru-buru menyerahkan kartu berobat yang diminta oleh sang petugas. Kemarahan pertugas itu tiba-tiba sepintas mereda perlahan-lahan digantikan dengan air muka yang datar.

Rutininas menjenuhkan yang berjalan perlahan di rumah sakit itu seakan seperti sudah sewajarnya untuk dimaklumi, baik oleh mereka yang datang untuk berobat atau pun bagi para petugas pendaftaran. Lalu lalang orang-orang yang datang, dengan membawa tingkah laku yang terkadang tak dijumpai dalam bentuk rutinitas menjenuhkan yang lain, hadir menghidupi rumah sakit.

Seakan menjadi batu bara yang menyulut hantaman-hantaman uap air, menghidupi sebuah mesin penggerak kereta api. Lengkap dengan bunyi dari klakson kereta api yang menggebu-gebu, seperti menantang angin-angin yang mengiringi sepenjang geraknya hari. Menjenuhkan.

Perilaku mereka yang tengah berobat, yang saling menghadirkan kecurigaan pada satu sama lain menjadi wajar untuk dijumpai. Bagi mereka yang tidak berobat, menjadi pengantar atau penunggu, menghabiskan jatah tempat duduk yang diperuntukkan bagi mereka yang tengah berobat, menjadi hal yang maklum bagi mereka. Sebuah pemandangan yang menggelikan sekaligus menjijikkan.

Perputaran jenuh yang mengesalkan, berjalan dari hari ke hari, mememunuhi seluruh isi bangunan rumah sakit, beserta dengan segala yang hidup dan mati di dalamnya. Termasuk itu kepedulian dan hati nurani.

Tiba-tiba saja, seruan mesin pemanggil mengagetkanku dalam lamunan penantian.

“Nomor antrean B0030, silahkan menuju loket nomor lima”, seru mesin pemanggil sama seperti yang sudah-sudah. Dengan memegang kruk di sebelah kiri, Aku berharap segera meninggalkan rutinitas di rumah sakit ini. Mendapat kesembuhan dan tak ingin kembali lagi, sungguh itu pikirku dalam hati, dan rasanya sama dengan pikiran mereka yang tengah datang berobat.