Berdasarkan data yang ada di Pengadilan Agama Bandung Jawa Barat, ternyata lebih banyak kaum perempuan yang melakukan gugatan perceraian ketimbang pihak laki-laki. Data dari tahun 2013 hingga 2015, misalnya, terdapat 11.041 kasus cerai gugat yang dilakukan perempuan. Sedangkan pada kurun yang sama kaum lelaki yang melakukan cerai talak jumlahnya hanya 3.488 kasus.

Demikian ungkap Athiroh Muchtar, Hakim Pengadilan Agama Bandung dalam temu wicara "Membangun Ketahanan Keluarga dan Perlindungan terhadap Perempuan & Anak" di Gedung KAHMI Center Jakarta, Kamis (28/4/2016).

Menurut Athiroh lebih jauh, dalam hal menyangkut perceraian, pengadilan sesungguhnya merupakan benteng terakhir dalam upaya menyelamatkan keluarga. "Namun dalam kenyataan lebih banyak keluarga yang tidak bisa diselamatkan dibandingkan yang dapat diselamatkan, karena prosentase keluarga yang bisa rukun kembali sangat kecil dibanding dengan yang cerai, karena biasanya orang mengajukan perceraian apabila keadaan rumahtangga sudah parah," katanya.

Perceraian juga mempunyai dampak yang cukup besar terutama kepada mantan isteri (janda) dan anak, ujar dia seraya memaparkan beberapa dampak terhadap janda dan anak-anak.

Pertama, berstatus janda dinilai miring, dianggap tidak mampu menjadi isteri yang baik. Kedua, janda ditakuti oleh para isteri karena khawatir akan mengganggu (menggoda) suami. Ketiga, bagi janda yang tidak memiliki profesi berpenghasilan, akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan kebutuhan hidupnya, dan Keempat, mengasuh anak sendirian. 

"Sementara terhadap anak, menjadikan ia tidak memiliki kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Selanjutnya, pendidikan anak menjadi tidak jelas, semula oleh kedua ibu bapaknya, menjadi dididik oleh salah satu, atau ditambah oleh pasangan barunya (ibu/bapak tiri), dan akibat pengasuhan yang tidak jelas, anak bisa terlibat kepada pergaulan yang tidak jelas (pergaulan bebas, lari ke narkoba)," pungkas Athiroh.

Kegiatan temu wicara yang diselenggarakan oleh Bidang Pemberdayaan Peempuan Yayasan Bina Insan Cita dan Forum Alumni HMI Wati (FORHATI) Nasional tersebut juga menghadirkan narasumber antara lain Adib Machrus (BP4 Kementerian Agama), Tien Kurniatin (P2TP2A), dan Syamsul Bachri (Lembaga Forel VI). Acara yang dimoderatori oleh Lena Mariana Mukti itu berlangsung sedari pagi hingga siang, dilanjutkan dengan focus discussion group (FGD) hingga sore.