Kaum muda menempati posisi dan peran signifikan dalam perkembangan kehidupan sebuah negara. Pada seluruh negara di dunia, kontribusi berharga kaum muda tidak dapat dilihat dari posisinya sebagai konsumen dan anggota masyarakat an sich, tetapi secara khusus merujuk pada perannya sebagai inovator, pekerja produktif, dan pengusaha. 

Dalam hal ini, kaum muda merupakan ujung tombak revolusi teknologi, proses demokratisasi, dan perubahan masyarakat, dimana budaya kaum muda menjadi suatu kekuatan besar atas perubahan konstrukstif dan positif terhadap nilai-nilai budaya masyarakat. 

Pada konteks ke-Indonesia-an, populasi kaum muda usia antara 15-24 tahun yang mencapai kisaran 38 juta—dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 237,6 juta menurut sensus penduduk tahun 2010— tidak saja menempatkan kaum muda Indonesia sebagai populasi terbesar keempat dunia, tetapi juga merupakan potensi penting bagi perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya bidang ekonomi dan bisnis. 

Akan tetapi kontras dengan hal positif di atas, realitas yang terjadi dewasa ini menunjukkan bahwa potensi penuh mayoritas kaum muda belum tereksplorasi secara maksimal, dimana hal tersebut diindikasikan oleh kurangnya akses yang dimiliki oleh kaum muda terhadap pekerjaan yang produktif. 

Dalam hal ini, angka pengangguran di Indonesia menunjukkan bahwa kaum muda mencapai angka tertinggi, yaitu sekitar 19,99 % dan 54,23 % dari tingkat pengangguran terbuka nasional, dengan jumlah keseluruhan pengangguran di Indonesia yang mencapai kisaran 7,24 juta—data Badan Pusat Statistik per- Agustus Tahun 2012—. 

Tingginya angka pengangguran kaum muda tersebut disebabkan kompleksitas permasalahan yang secara umum mengerucut pada rendahnya tingkat kesiapan kerja dan minimnya kesediaan pekerjaan di kalangan usia muda, terutama lulusan SMA dan SMK sederajat.  

Realitas di atas menjadi masalah krusial bangsa Indonesia, apalagi kecenderungan yang terjadi menunjukkan bahwa jumlah pengangguran mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia dan meningkatnya angka pencari kerja dengan pertumbuhan mencapai 0,6 % setiap tahun. 

Karena itu, menjadi hal yang wajar jika kesadaran dan upaya untuk menumbuhkan nilai-nilai kewirausahaan dalam diri kaum muda menjadi poin penting, sekaligus sebagai alternatif solusi terkait permasalahan kaum muda, baik masalah penggangguran dan penyediaan lapangan kerja, maupun pelbagai permasalahan dalam rangka pembangunan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. 


Reorientasi dan Urgensi Kewirausahaan 

Kewirausahaan atau entrepreneurship pertama kali diintroduksi pada abad ke-18 di Barat dengan tujuan utamanya, yaitu pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Dari berbagai pengertian yang diungkapkan oleh para ahli yang variatif sesuai dengan perspektif dan titik tekannya, kewirausahaan secara umum menunjuk pada proses inovasi dan kreativitas yang memiliki resiko tinggi dalam menghasilkan nilai tambah atas produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendatangkan keuntungan bagi wirausaha. 

Karena itu dapat dikatakan bahwa kewirausahaan merupakan komplementasi antara kompetensi dan profesionalitas yang secara keseluruhan dapat diwujudkan melalui proses pendidikan dan pelatihan. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa nilai-nilai kewirausahaan menjadi hal yang potensial untuk ditumbuhkembangkan dalam setiap individu manusia. 

Dalam istilah lain, setiap orang memiliki peluang untuk menjadi wirausahawan dan mencapai kesuksesan dalam setiap bidang usaha yang digelutinya, baik muda dan tua maupun laki-laki dan perempuan. 

Reorientasi kewirausahaan di atas, tentunya merupakan pergeseran positif terhadap stigma umum yang ada selama ini mengenai wirausaha sebagai “wilayah khusus” bagi kalangan tertentu yang berbakat. Menanggapi stigma di atas, tentunya diperlukan spektrum pemahaman yang lebih luas. Dalam hal ini, wirausaha sebagai “wilayah khusus” bukan merujuk pada bakat atau warisan yang berorientasi sempit serta dapat “memasung” potensi inovasi dan kreativitas individu, tetapi lebih mengarah pada kondisi yang mantap terkait kompetensi dan profesionalitas. 

Sebagai idealitas, tentunya hal tersebut tidak dapat dicapai oleh sembarang orang, kecuali individu-individu tertentu yang memiliki keinginan kuat dan usaha besar dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalitas dalam wirausaha, yang antara lain meliputi pengetahuan usaha dan pengelolaan bisnis, memiliki kemampuan dalam manajemen sumberdaya usaha, baik manusia maupun keuangan (modal), manajemen waktu, serta kemampuan terkait hal-hal strategis dan prosedural. 

Di samping itu, memiliki kepribadian wirausaha yang menunjuk pada keberadaan rasa percaya diri, kepemimpinan, berorientasi proses serta peningkatan kualitas dan apresiasi konsumen, keberanian mengambil resiko berdasarkan pertimbangan yang matang, berorientasi masa depan, serta memiliki kemampuan dalam inovasi dan kreativitas.

Urgensi kewirausahaan di atas, menunjuk pada nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya, dimana tidak saja berorientasi ekonomi dan dianggap sebagai solusi alternatif dalam memecahkan problem sosial, terutama pengangguran, tetapi juga mengarah pada pembentukan karakter secara positif. Karena itu, intensifikasi nilai-nilai kewirausahaan menjadi hal signifikan untuk dikembangkan secara berkelanjutan. 


Wirausaha dan Pembangunan Ekonomi 

Konstelasi dewasa ini menunjukkan bahwa pengembangan kewirausahaan menjadi perhatian serius di Indonesia. Hal ini tampak realistis mengingat permasalahan besar yang dihadapi oleh negara Indonesia dalam bidang ekonomi, yang secara umum mengerucut pada minimnya jumlah wirausahawan dan rendahnya kualitas produksi. 

Di sisi lain, potensi sumberdaya alam dan manusia serta keberadaan Indonesia dengan populasi penduduk mencapai kisaran 237,6 juta—menurut sensus penduduk tahun 2010—, merupakan ruang potensial bagi perkembangan dunia usaha secara luas. Karena itu, pengembangan kewirausahaan tidak cukup dalam sifatnya sebagai kegiatan “meta ekonomi” atau kegiatan yang berimplikasi mendalam dan memberi bentuk pada perekonomian saja, tetapi harus mengarah pada konstruksinya sebagai gerakan budaya. 

Efektivitas wirausaha bukan merujuk pada peristiwa ekonomi saja, tetapi mengarah pada spektrum yang lebih luas, yaitu perubahan nilai, perubahan persepsi dan sikap, perubahan dalam demografi, organisasi, dan sebagainya. Sederhananya, gerakan budaya wirausaha memberikan nilai-nilai kemanfaatan yang signifikan dalam rekonstruksi kehidupan masyarakat Indonesia, yang mengarah pada kondisi yang lebih baik dalam kaitannya dengan persoalan bangsa Indonesia, khususnya permasalahan dalam pembangunan ekonomi dan industri. 

Karena itu intensifikasi kewirausahaan, terutama melalui pendidikan dan pelatihan —baik informal, formal, maupun non-formal— serta kampanye-kampanye kesadaran kewirausahaan, dapat dijadikan sebagai entry poin dalam menggerakkan proses budaya ini. 

Keberadaan kaum muda dengan segala potensi dan permasalahannya—sebagaimana diuraikan sebelumnya—, tidak dipungkiri merupakan proyeksi ideal, baik sebagai sasaran maupun subjek, dari proses budaya wirausaha tersebut. Pada perkembangannya, optimisme dari keseluruhan proses ini mengarah pada lahirnya wirausahawan-wirausahawan muda yang diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam pembangunan Indonesia secara luas, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi jumlah pengangguran serta peningkatan perekonomian dan pertumbuhan ekonomi, yang secara umum menunjuk pada peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Tentunya, hal tersebut tidak mungkin terwujud tanpa dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga pendidikan dan pelatihan, instansi swasta, maupun seluruh elemen masyarakat pada umumnya. 

Kondisi kewirausahaan di Indonesia dewasa ini, meskipun belum sampai pada level ideal, menunjukkan trend positif dari gerakan budaya tersebut. Melalui intensifikasi kesadaran wirausaha dan sinergitas peran seluruh pihak yang dilakukan secara terus-menerus, serta optimalisasi kaum muda sebagai “agen perubahan budaya perekonomian”, maka tidak mustahil dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia menjadi negara industri—dengan karateristiknya yang spesifik sesuai dengan seluruh potensi yang dimilikinya—, dalam konteks global. (*)