Aktivis
1 tahun lalu · 526 view · 3 menit baca · Keluarga 74275_99612.jpg
Close up of figurin. Foto: pexels.com

Kaum Hetero dalam Belenggu Pernikahan Settingan LGBT

Saya percaya sebuah pernikahan dapat memberi banyak kebaikan. Selain untuk melestarikan keturunan manusia, pernikahan juga menjanjikan sekuritas moral dalam kegiatan seksual, sebab agama turut melindunginya. Kitab suci bahkan mewajibkannya.

Sayangnya, perasaan manusia tidak stagnan. Yang mampu diikat oleh mas kawin hanya jemari, bukan hasrat. Dengan menikah, bukan berarti seseorang kemudian lolos dari naluri-naluri alami yang dilahirkan bersamaan dengan tubuh. Di sini, kontrol diri memegang peranan krusial. Saya percaya sebuah pernikahan dapat memberi banyak kebaikan, tetapi tidak semua orang bisa menjalaninya dengan baik.

Taruhlah kaum LGBT, yang pada usia tertentu, di wilayah tertentu, dengan adat dan kepercayaan yang dianut oleh keluarga tertentu, mau tidak mau melakukan pernikahan demi tuntutan heteronormatif. Masih banyak masyarakat yang menolak tahu bahwa tahun 1973 American Psychiatric Association sudah mengeluarkan homoseksual sebagai gangguan jiwa.

Kemudian, pada 1983, buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa, Edisi II, Departemen Kesehatan Republik Indonesia (PPDGJ II) dan (PPDGJ III) 1993, pada point F66 meyebutkan bahwa orientasi seksual (homoseksual, heteroseksual, biseksual) bukan gangguan kejiwaan, melainkan hanya sebuah variasi.

Ahli Neurologi, Dr. Ryu Hasan pernah menjelaskan dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh kompas.com pada 9 Februari 2016 bahwa pada awalnya, semua manusia adalah perempuan saat berada dalam janin. Namun kemudian, terjadi perubahan atau diferensiasi. Sehingga sebagian tetap menjadi perempuan dan sebagian lagi bergeser menjadi laki-laki.

"Yang memicu adalah impuls pada syaraf. Kenapa pada syaraf? Karena organ yang pertama kali terbentuk sebelum organ-organ (seks)," ujar Ryu.

Ia melanjutkan, sebelum organ seks terbentuk, otak sudah terbentuk. Sehingga otak yang berperan mengatur pembentukan organisasi-organisasi di bawahnya.

Adapun yang memicu otak bekerja demikian adalah lonjakan dari hormon testosteron. "Kenapa? Itu peran kromosom Y. Adanya kromosom Y yang di dalamnya ada gen SRY. Itu yang memicu lonjakan testosteron pada minggu ke-8 usia janin manusia," imbuhnya.

Dari titik itulah, lanjut Ryu, terjadi perubahan dari jenis perempuan ke laki-laki.

Adapun setelah itu, terdapat proses maskulinisasi dan defeminisasi. Maskulinisasi adalah proses pembentukan karakter laki-laki dan defeminisasi adalah proses penghilangan karakter perempuan.

"Nah, ada yang maskulinisasinya berjalan, tapi defeminisasinya tidak berjalan dengan baik," paparnya. Hal inilah yang kemudian memunculkan adanya homoseksual.

Orientasi seksual dikategorikan sebagai penyakit atau gangguan kejiwaan ketika seseorang terganggu dengan orientasi seksual atau identitas gender yang dirasakannya. Dan istilah itu dinamakan ego distonik, demikian papar dr.Andri, Sp.KJ dari RS.Omni Alam Sutra.

Ketika seseorang tidak nyaman atas orientasi seksual atau identitas gender yang dimilikinya, karena diskriminasi sosial atau perasaan bersalah yang ditanggungnya, ia sebaiknya mendapatkan terapi psikologis. Namun, hal itu pun dilakukan agar ia merasa nyaman dengan dirinya, bukan mengubah orientasi seksual yang dimilikinya.

Mengacu pada fakta tersebut, bukankah menjadi pilihan yang bijaksana apabila kaum LGBT tidak melibatkan kaum hetero ke dalam permasalahan orientasi dan identitas gender yang dihadapinya? Ketika seseorang tertarik pada sesama jenis, hal tersebut merupakan kondisi alami atas pikiran dan perasaan dalam tubuhnya. Tidak ada yang mampu membantahnya, sekalipun agama.

Kitab suci tidak pernah bisa mengubah orientasi seksual seseorang. Sebagian dari para penyandang ego distonik tadi kemudian menciptakan pernikahan settingan demi patuh kepada dogma dan menyelamatkan diri dari hukuman sosial.

Apabila pasangan dari kaum LGBT tersebut mengetahui orientasi seksual dan identitas gender seseorang yang dinikahinya, kemudian karena tujuan tertentu ia tidak keberatan, maka pernikahan tersebut menjadi adil bagi kedua belah pihak. Sebab masing-masing pengantin secara sadar mengetahui risiko yang mereka terima atas keputusan tersebut.

Tetapi, bagaimana bila seorang hetero yang menikah dengan salah seorang kaum LGBT tidak diberitahu mengenai orientasi seksual dan identitas gender pasangannya, bukankah ia kemudian menjadi korban pernikahan settingan?

Sebagian besar masyarakat kita yang terkurung oleh heteronormatif hanya melangsungkan pernikahan demi memenuhi standar kehidupan yang ideal. Pesta yang mewah, bulan madu, kemudian lahir cucu yang lucu.

Bagaimana dengan kondisi psikologis dari kaum LGBT yang tertatih menjalani pernikahan settingannya? Bagaimana dengan nasib kaum hetero yang terbelenggu dalam sebuah kebohongan yang tidak pernah diketahuinya? Siapa yang peduli?

Sudah cukup banyak orang-orang bengis yang tidak bisa menerima perbedaan dan fakta mengenai variasi gender dan orientasi seksual. Kita tidak mau melahirkan generasi semacam itu lagi, bukan?